
Setelah kenyang, Rere merebahkan tubuhnya ke sofa yang masih tersisa. Tapi tidak dengan Gania, jika terlalu kenyang ia merasa perutnya begah sehingga ia harus berjalan jalan kecil terlebih dahulu sebelum merebahkan dirinya.
Melihat Gania mondar-mandir, Rere merasa pusing.
"duh Ga gue pusing lihat lu kesana kemari mulu dari tadi"
"hehe sorry ya Re, biasalah bumil"
"tubuh lu sekarang isi banget ya Ga, lihat tuh pipi jadi ngembang segitu" Rere mengamati Gania dengan seksama
"ihh udah ya stop! gue ngga mau dibilang gendut"
"hahahaha ya namanya juga ibu hamil" Rere tertawa terbahak-bahak
"eh tapi lu makin kesini makin cantik loh, auranya tuh beda" imbuh Rere
"ya mungkin karena baby gue cewek kali ya" jawab Gania sembarangan
"hah? anak lu cewek? kok lu ngga pernah cerita?"
"yaelah gue baru periksa kemarin kok" jawab Gania lagi kemudian mendudukkan diri
"besok anak lu cantik kaya gue"
"jangan ah, aura lu tuh beda Re. Aura mistis hahahaha" Gania tertawa terbahak-bahak, setelah itu...
"aww kenceng banget nih" Gania sedikit meringis sambil memegangi perutnya
__ADS_1
"tuh kan si baby ngga terima kalo lu bilang dia bakalan cantik kaya elu" ledek Gania lagi
Kedua sahabat itu menghabiskan waktunya untuk bersenda gurau, sudah lama mereka tak seperti ini.
***
Sore menjelang petang, Gibran tiba di rumah. Sudah beberapa bulan ini Gania tak menyambutnya di bawah karena Gibran melarangnya. Begitu tiba, ia langsung naik ke atas.
"Assalamualaikum sayang" ucap Gibran sambil membuka pintu
"Waalaikumsalam" jawab Gania kemudian meraih punggung tangan Gibran untuk dicium
"makan apa sampe belepotan?" tanya Gibran sambil mengusap saos yang belepotan di dekat bibir Gania
"hehe batagor mas, tadi Rere kesini bawain batagor"
"yaudah aku mandi dulu ya"
Ceklek
Pintu kamar mandi dibuka, kemudian Gibran melangkahkan kaki keluar lalu menghampiri Gania dan duduk disebelahnya.
"sayang kok matanya berkaca-kaca?" tanya Gibran
"mas, kita sama-sama dibesarkan tanpa seorang Ibu. Aku pun lupa bagaimana Mama merawatku pada saat itu. Sebentar lagi aku akan menjadi Ibu, aku janji akan berusaha menjadi Ibu yang terbaik untuk anak kita. Aku tidak mau anak kita merasakan apa yang kita rasakan"
Air mata Gania tak terbendung.
__ADS_1
"sudah sayang jangan menangis, aku juga berjanji akan selalu menemani, menjaga, dan membahagiakan kalian sebisa yang aku lakukan"
Kemudian Gibran memeluk hangat Gania dengan erat dan sesekali mendaratkan kecupan rambutnya.
Setelah merasa tenang, Gania berusaha melepaskan diri tapi Gibran tetap menguncinya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"jangan pergi" ucap Gibran
"makasih ya mas, kamu selalu menjagaku dengan baik" kemudian Gania mencium pipi Gibran
"kan aku sudah bilang jangan berterimakasih, ini semua sudah tugasku" ucap Gibran kemudian menusuk nusuk pelan pipi chubby Gania
Saat keduanya sedang bermesraan, saat itu juga salah satu ponsel mereka berbunyi menandakan ada telepon.
"aku angkat telpon dulu ya" Gibran beranjak dari sofa mencari sumber suara itu
"sayang punyamu" Gibran mengambil ponsel baru Gania kemudian menyerahkannya
"siapa mas?" tanya Gania kemudian menerima ponsel itu
"nomor siapa ini" gumam Gania
Ia mengangkat telpon tersebut tapi dari seberang sana tak terdengar apapun. Karena dirasa tidak penting, Gania mematikan telponnya. Tapi beberapa saat kemudian hal itu kembali terjadi.
"siapa sih?" tanya Gibran yang juga geram
"gatau mas"
__ADS_1
"besok aku beliin nomor baru, nomor lama itu buang aja"
Kemudian Gania mengangguk mengiyakan kemauan suaminya. Karena sudah malam, keduanya berpindah ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing.