
Di usianya yang telah menginjak usia 8 bulan, Baby Gift semakin pintar. Gania selalu memberinya mainan edukasi, kini Baby montok itu sudah pandai memindahkan dan melempar barang dari satu tempat ke tempat yang lain, ia juga beberapa kali berlatih berdiri dengan berpegangan orang maupun benda yang ada disekitarnya.
Untuk urusan makan pun sangat gampang. Apapun makanannya ia selalu menerima. Apalagi dengan tumbuhnya dua gigi, sudah sering bagi Gania memberinya biskuit bayi serta sayur brokoli untuk dipegangnya sendiri.
"assalamualaikum" ucap Gibran sambil membuka pintu kamarnya
"yeay Daddy pulang!" sorak Gania sambil mengangkat kedua tangan putrinya
"cantiknya Daddy main apa?" tanya Gibran sambil mendudukkan diri
"main bola" jawab Gania
"udah pintar lempar bolanya?" tanya Gibran sambil memainkan pipi sang putri
"udah Mas"
"besok kalau udah bisa jalan, Baby main bola sama Daddy ya" ajak Gibran
"ih cewek kok main bola" cibir Gania
"melanjutkan bakat menendangnya sewaktu didalam kandungan Yang haha" jawab Gibran
"bisa aja kamu Mas" Gania gemas lalu mencubit Gibran
Baby Gift kemudian melemparkan satu bola ke arah Daddynya.
"hah" Gibran pura-pura kaget
"ehehekk" gelak tawa Baby Gift terdengar
"Daddy mandi dulu ya, bau asem" ucap Gibran kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi
Sepeninggalnya Daddy Gibran untuk mandi, Baby Gift kembali bermain dengan sang Mommy. Ia kembali melemparkan bola kesana kemari.
"bweehh..hmmhh" Baby Gift memainkan lidahnya dan bergumam
"Mommy" Gania mengajari sang putri
"Mommy" Gania mengulanginya
"mmomh"
__ADS_1
"yeay pintar, ayo lagi sayang. Mommy"
"mmom.. mommhh"
"pintarrr" puji Gania lalu menghujani Baby Gift dengan ciuman bertubi-tubi
Baby Gift yang merasa geli pun memukuli wajah sang Mommy yang tak kalah bertubi-tubi.
"asik banget" ucap Gibran yang keluar dari kamar mandi
"Baby montok ini bisa bilang 'mom'" jawab Gania dengan senyum simpulnya
"anak siapa dulu" ucap Gibran sambil meraup lalu mengangkat tinggi-tinggi sang putri
"ehehekk.. ehekk.." Baby Gift terus tertawa
"kalau udah bisa bilang 'Mommy', habis itu harus belajar bilang 'Daddy'" ucap Gibran sambil mencium perut gendut Baby Gift
Baby Gift sangat geli, ia memukul wajah Daddy sambil menendangkan kedua kaki.
Karena sudah puas menggendong, Gibran berniat mendudukkan kembali Baby Gift bersama sang Mommy. Tapi Baby Gift mengeratkan cengkramannya pada baju Daddynya, juga berusaha menautkan kedua kaki di tubuh Daddy.
"hikk...hiikk" Baby Gift merengek tidak mau turun
"akhir-akhir ini kan kamu pulang lebih lambat dari biasanya Mas" imbuh Gania
Gibran menghela nafasnya.
"iya juga Yang. Waktu bermainku dengannya berkurang" jawab Gibran
"yaudah diajak main gih" suruh Gania
Gibran kemudian mengangguk lalu mendudukkan dirinya di matras dan mengajak Baby Gift untuk bermain bersama.
Gibran melemparkan pelan bola bola kecil itu sampai tepat di depan Baby Gift. Tak mau kalah, Baby Gift juga melemparkan bolanya hingga mengenai Daddynya.
Gania tersenyum hangat melihat kebahagiaan keluarga kecilnya. Tapi setelah itu, bayang-bayang mendiang orangtuanya kembali merasuki pikirannya. Mata Gania langsung berkaca-kaca.
"aku rindu Papa" batin Gania
Tesss.. air mata Gania jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"pasti apa yang di rasakan anakku akhir-akhir ini sama dengan apa yang ku rasakan dulu. Aku kurang memiliki waktu bermain dengan Papa yang sibuk bekerja. Aku hanya bermain dengan Mama waktu ia masih ada" batinnya lagi
"mmom" Baby Gift merangkak ke arah Gania dan memanggilnya
Seketika lamunan Gania pecah. Ia mengusap air matanya lalu menghampiri Baby Gift.
"manggil Mommy ya Nak?" tanya Gania kemudian mendudukkan dirinya
"kenapa sayang?" tanya Gibran yang mendekatkan diri ke sang istri
Gania hanya menggelengkan kepala.
"katakan" ucap Gibran dengan tatapan tajam
Gania hanya menghela nafasnya.
"apa kamu sedih karena aku selalu pulang lambat?" tebak Gibran sambil meraih tangan Gania untuk digenggamnya
"engga, siapa bilang" jawab Gania dengan suara bergetar
"terus?"
"aku hanya mengingat orangtuaku" jawab Gania
Gibran kemudian memeluk Gania serta membelai rambutnya.
"kamu merindukan mereka?" tanya Gibran
"hmm"
"kebetulan aku besok cuti, aku akan membawamu ke makam Papa dan Mama"
"hmm" jawab Gania lagi sambil menganggukkan kepala
Merasa tak ada yang menghiraukannya, Baby Gift pun merengek dan menangis.
"huaaaaa" tangisnya
"sayang, maaf ya Daddy lagi nenangin Mommy" ucap Gibran kemudian menggendong Baby Gift yang menangis
"huaaaaa" tangisan itu belum berhenti
__ADS_1
"sini biar aku susui" ucap Gania sambil merentangkan kedua tangannya
Kemudian Gibran memberikan putrinya ke Gania.