
Selama dua hari ini Gania masih diam kepada sang suami. Meski Gibran sudah menepati janji, tapi kecewa Gania masih belum sepenuhnya terobati.
"iya pulang cepet, tapi sampai rumah yang di tuju juga ruang kerja" gerutu Gania sambil membereskan mainan Gift yang berserakan
"kalau aku menujumu apa kamu mau?" goda Gibran sambil memeluk tubuh mungil Gania dari belakang
Glek! Gania menelan saliva dan membelalakkan matanya.
"mau?" tanya Gibran dengan suara manja
"ih apaan sih" Gania berusaha melepaskan dirinya
"dimana Gift?" tanya Gania yang masih tak menatap wajah suaminya
"di bawah sama Nenek"
Lalu Gania berdiri untuk berniat mencari sang putri.
Tapi sebelum Gania melangkahkan kakinya, Gibran lebih dulu menarik tangan serta tubuh Gania hingga terjatuh di dekapannya.
"sampai kapan kamu marah?" tanya Gibran
Gania hanya diam menatap dalam mata Gibran. Gania dapat merasakan hembusan nafas sang suami karena hidung mereka saling menempel satu sama lain.
"aku sudah menepati janjiku" ucap Gibran sambil memeluk dan mencium pucuk kepala Gania
"hmhh" Gania berusaha melepaskan dirinya
"Mmy" panggil Gift dari luar kamar dengan suara lantang
Ceklek Nenek membuka pintu kamar begitu saja.
"oh Mommy sama Daddy lagi mesra-mesraan" sindir Nenek sambil tertawa
"Mas, lepas" protes Gania
Kemudian Gibran melepaskan pelukan.
"Gift mau mandi sekarang?" tanya Gibran pada Gift yang sudah berdiri tepat di bawahnya
Mendengar kata "mandi", Gift pun menepukkan kedua tangan dan tersenyum girang.
"yuk Daddy mandiin" ucap Gibran sambil meraup sang putri lalu mengangkatnya tinggi-tinggi
Gibran memandikan Gift di kamar mandi, sedangkan Gania menyiapkan baju ganti.
__ADS_1
Kurang lebih setelah 10 menit berendam, Gift pun keluar.
"kamu mandi gih Yang" ucap Gibran pada Gania
"hmm" jawab Gania
"hmm hmm terus, mau aku mandiin?" goda Gibran
"hussttt" Gania langsung memelototi sang suami karena berbicara nyleneh didepan Gift
Gibran kemudian tertawa, lalu Gania gantian membersihkan dirinya.
Di bawah guyuran air shower, Gania memikirkan kekecewaan akibat kerjaan Gibran, tapi saat ini Gibran sudah berusaha meyakinkan bahwa dia tidak akan mengingkari janjinya lagi.
***
Malamnya, mereka bertiga bermain bersama di kamar Gift.
"kapan kamar ini akan di huni?" tanya Gibran
"kalau Gift udah usia lima tahun" jawab Gania sembarangan
"lima?"
"iya"
Gania memilih tak menjawabnya, karena akan repot jadinya. Ia hanya sedikit tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Gift, sini sayang" panggil Gania untuk mengalihkan pembicaraan
Lalu Gift menghampiri Mommy Gania.
"Gift kalau senyum gimana?"
Gift memperlihatkan senyum tipis manisnya.
"kalau ketawa?" sahut Daddynya
"aakkhaha" Gift mengeluarkan gelak tawa khasnya
"hahaha" kedua orangtuanya tertawa bersama
__ADS_1
Merasa malu di tertawakan, Gift pun membenamkan wajahnya ke bantal.
"haha bangun sayang" ucap Gania
Gift menuruti ucapan Mommynya, ia kembali duduk di depan kedua orangtuanya.
"giginya mana Nak?" tanya Gibran
"hiii" Gift memperlihatkan gigi
"ah kalau ngambek gimana?" sahut Gania
Gift pun memperlihatkan ekspresi "ngambek" nya.
"Mommy gemess" gemas Gania lalu menyerang sang putri dengan ciuman bertubi-tubi
"aaakk" teriak Gift yang merasa geli
"Daddy juga gemes sama Mommy dan Baby" gemas Gibran kemudian memeluk kedua orang tersayangnya hingga terguling
"sayang, aku janji akan memprioritaskan kalian daripada pekerjaan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan" ucap Gibran serius
"gunakan kesempatan sebaik mungkin Mas" jawab Gania
"terimakasih"
Setelah puas, mereka berpindah di kamar utama. Gift yang mulai bosan dengan bandana pun membuang bandana itu sembarangan, lalu Gania mengganti bandana dengan kuncir dua.
Kali ini Gift di dudukkan di koper untuk bermain kapal-kapalan sama seperti sebelum berangkat ke Bangkok.
Bersambung...
Btw Author kasih bonus lagi ya
*Gift lagi lihat Daddy main bola nih.
Gemes ngga? Pengen Author culik dari belakang hehe.
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya 😁*