Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Demam


__ADS_3

Malamnya, seperti biasa Baby Gift selalu terlelap dengan cepat setelah mendapatkan ASI dari sang Mommy.


"biar aku pindahin ke box" ucap Gibran sambil berbisik


"eh jangan dulu Mas, belum pulas tidurnya. Nanti malah kebangun" jawab Gania


Gibran kemudian mengerucutkan bibirnya.


"kenapa?" tanya Gania sambil membelai pipi sang suami


"pengen berduaan sama kamu" jawab Gibran sambil memegang tangan Gania yang masih membelai pipinya


"udah lama kita ngga ada waktu ngobrol serius berdua" imbuhnya


"ngobrol serius?" tanya Gania sambil menatap heran suaminya lalu mengerutkan dahinya


"iya, aku pengen bahas masa depan kita lebih luas lagi. Sejak ada Baby Gift, kita jarang sekali membicarakan bahkan merencanakan"


"euhh" lenguh Baby Gift lalu memiringkan tubuhnya yang semula terlentang


"sstt sstt sstt" Gania menepuk nepuk bokong Baby Gift


Gibran kembali mengerucutkan bibirnya.


"sabar" ucap Gania tanpa suara


Setelah kurang lebih 20 menit menunggu, akhirnya Gibran diperbolehkan memindahkan.


"emhh" lenguh Baby Gift lagi saat tubuhnya diangkat sang Daddy

__ADS_1


"loh kok badannya hangat" gumam Gibran


"hangat?" tanya Gania memastikan


Gibran mengangguk sambil menggoyangkan pelan tubuh Baby Gift.


"iya" ucap Gania setelah menempelkan punggung tangannya di dahi Baby Gift


Dengan cepat Gania mengambil plester penurun demam khusus baby lalu menempelkannya di dahi Baby Gift.


"hikk..hikk.." Baby Gift merengek ketika merasakan ada sesuatu menempel di dahinya


"sstt sstt sstt" Gibran menenangkannya kemudian memberikan kepada Gania yang lebih dulu telah mendudukkan dirinya


Baby Gift terus bergerak dan merengek karena merasa tidak nyaman. Tak lama kemudian ia membuka matanya lalu mengendus seperti ingin menangis.


"sstt sstt minum susu ya" Gania membuka p*y*d*r* nya


"kok bisa demam ya" Gibran bertanya-tanya


"kayaknya karena mandi kesorean tadi" jawab Gania


"aku panggilin Dokter ya, aku ngga tega lihat dia ngga bisa tidur nyenyak malam ini" ucap Gibran


"boleh" jawab Gania


Kemudian Gibran meraih ponselnya lalu keluar kamar untuk menelfon Dokter.


20 menit kemudian Dokter Danar tiba di rumah mereka. Malam ini Dokter Danar membawa adiknya, Bidan Darika. Karena Bidan lebih mengerti tentang bayi.

__ADS_1


Pertama, Bidan Darika mengukur suhu Baby Gift. Suhu tubuh Baby Gift pun memang terasa lebih panas dari sebelumnya, dan setelah di ukur ternyata suhunya 38,5°C.


"sayangnya Mommy" rintih Gania


"saya berikan obat penurun panas dan termometer ya, agar nanti panasnya bisa di monitor sendiri. Apabila sampai besok panasnya belum juga turun, sebaiknya segera periksa ke Rumah Sakit" ucap Bidan Darika


"baik Bu, terimakasih" ucap Gania


Kemudian Gibran mengantar Dokter Danar serta Bidan Darika hingga depan.


"ada apa Gi?" tanya Nenek yang terbangun dari tidurnya


"Gift demam Nek, baru aja Dokter Danar dan adiknya memeriksa" jawab Gibran


"demam?" tanya Nenek lalu bergegas naik ke atas


Ceklek pintu kamar Gania di bukanya.


"kok bisa demam? apa tadi mandinya kesorean?" tanya Nenek pada Gania


"kayaknya iya Nek, biasanya dia ngga pernah mandi sesore tadi" jawab Gania sambil melihati putrinya


"kalau demam, jangan pakaikan dia pakaian tebal, agar udara panasnya cepat keluar"


Setelah itu Gibran melepas baju tidur Baby Gift dengan pelan, sekarang atasannya hanya menggunakan sporot saja. Kebetulan Baby Gift terbangun, jadi sekalian saja Gibran memberikan obat penurun panasnya. Walau Baby Gift menolak, tapi pada akhirnya ia bisa menelannya.


"kalau begitu Nenek turun lagi ya, kalau ada apa-apa panggil Nenek"


"iya Nek"

__ADS_1


"bobo lagi ya" ucap Gania sambil membelai tubuh Baby Gift yang meringkuk sambil menyusunya


Tak lama setelah itu Gania ikut memejamkan matanya. Tapi tidak dengan Gibran, ia tetap terjaga untuk anak istrinya.


__ADS_2