Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Ingin cepat pulang


__ADS_3

Keluar dari kamar mandi, Gibran mendapati sang istri sedang menyusui si buah hati.


Ia menelan saliva berkali-kali ketika melihat bongkahan kenyal favoritnya semakin mengembang dan berisi.


"jangan dilihat" sindir Gania yang sibuk menyusui Baby Gift, ia tahu Gibran sedang memperhatikan


"ngga sengaja lihat" elak Gibran


Gania memutar bola matanya dan geleng geleng kepala.


"nanti malem gantian aku ya" ucap Gibran yang menekuk kedua lututnya di depan Gania kemudian memasang wajah penuh harap


"apa?" tanya Gania dengan galaknya


"itu, kamu ngga kasihan sama aku? Aku belum pernah ngerasain ASI loh yang"


"jadi kamu iri sama anak sendiri?"


"ngga gitu, tapi.."


Sebelum Gibran melanjutkan ucapannya, ia sudah mendapat pelototan mata dari Gania.


"haha engga sayang, engga" kemudian Gibran tertawa


"udah ah sana ganti pakaian" Gania mencubit lengan suami jahilnya


Kemudian Gibran mengganti pakaiannya.


Setelah siap, Gania menyuruhnya turun ke bawah untuk segera sarapan. Tapi setelah itu..


"Non, tolong pintunya di buka" ucap Bi Asih dari luar kamar Gania


Gibran membuka pintu lalu menerima dua porsi sarapan yang Bi Asih bawakan.


"makasih Bi" ucap Gibran kemudian kembali masuk ke kamarnya untuk sarapan bersama Gania


Kini keduanya makan satu piring untuk berdua, dan Gibran yang menyuapinya.


"aku berangkat ya sayang" ucap Gibran setelah menyelesaikan sarapan


"iya Mas, hati-hati"


Seperti biasa, Gibran mencium seluruh wajah Gania. Saat Gibran mendekatkan bibirnya ke bibir Gania, tiba-tiba saja satu tendangan keras lolos dari Baby Gift yang berada di pangkuan Mommynya.

__ADS_1


"hahaha" keduanya tertawa bersama


"anak Mommy pintar, makasih sayang udah ngingetin Mommy" ucap Gania dengan suara buatannya


"ngingetin apa?" tanya Gibran


"ngingetin biar ngga khilaf hahaha" jawabnya


Gibran mengerutkan dahi seperti kebingungan.


"ih kalau kamu cium ini nanti bisa kebablasan" jelas Gania sambil menunjuk bibirnya


Gibran pun tersenyum dibuatnya, karena memang selalu benar begitu adanya.


"Daddy kerja dulu ya sayang, jangan nakal ya" pamit Gibran sambil menoel-noel pipi Baby Gift dengan jarinya


Merasa geli, Baby Gift pun meraih jari sang Daddy yang bermain di pipi chubby nya dan kemudian meremas remasnya.


"Baby Gift mau salim Dad" ucap Gania


"oh iya, salim dulu ya sayang"


Setelah drama pamitan selesai, Gibran berangkat ke kantor dengan semangat.


***


"pagi Nek" jawab Gania


"cicit Nenek sudah cantik, sudah wangi" ucap Nenek sambil mencium perut baby Gift


Hal itu membuat Baby Gift geli kemudian memperlihatkan senyumnya untuk pertama kalinya.


"iihh anak Mommy senyum, cantik banget" Gania gemas


"mirip banget sama kamu Ga"


"emang iya Nek?"


"heem. Dari mata, hidung dan bibirnya kamu banget. Bedanya, pipi Baby Gift lebih chubby berisi" jelas Nenek


"kata orang kalau anak pertama tuh mirip Ayahnya padahal"


"ngga selalu" jawab Nenek

__ADS_1


"oh iya Nek, jagain Baby dulu ya. Aku mau mandi"


Nenek mengangguk kemudian kembali mengajak bermain Baby Gift.


***


Di kantor, Gibran seperti tak tenang. Setiap saat ia terus memikiran Gania dan Babynya. Ia sangat merindukan keduanya, dan ingin cepat cepat pulang ke rumah.


Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Gania. Ia memvideo callnya.


"apa Gi?" dari layar ponselnya terpampang jelas wajah Neneknya


"kangen anak istri Nek, haha" jawab Gibran cengengesan


"halah kamu"


"Nek, tolong arahin ke Baby Gift"


Kemudian Nenek mengarahkan kamera ke Baby Gift, agar Gibran bisa melihatnya.


Mendengar suara Daddynya, Baby Gift pun mencari cari sumber suara itu dengan menggerak-gerakkan bola matanya.


"siapa Nek?" tanya Gania yang keluar dari kamar mandinya


"suamimu, siapa lagi" jawab Nenek sambil memutar bola matanya


Gania hanya geleng-geleng kepala.


"udah kangen?" sahut Gania yang kemudian mengambil alih ponselnya dari Nenek


Terlihat Gibran mengangguk mengiyakan pertanyaan Gania.


"halah" cibir Gania


Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari ruangan Gibran bekerja.


"Pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak" ucap salah satu karyawan yang terdengar


"Baik, tunggu 5 menit" jawab Gibran


Setelah karyawan itu kembali, Gibran berniat menutup panggilan videonya, tapi sebelum itu ia mengecup Gania secara virtual lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2