
Gania meletakkan foto kenangan itu di dalam laci nakas, tapi matanya tertuju dengan kotak kecil berwarna hitam. Gania memberanikan diri mengambil kotak itu, lalu memberitahukannya kepada Gibran.
"mas, ini apa ya?" tanyanya
Gibran yang sedang memandang ponselnya pun segera mengalihkan pandangannya ke kotak itu.
"kamu dapat darimana?" tanya Gibran kemudian mendekatkan tangannya pada kotak
"dari laci nakas" jawab Gania sambil menunjuk tempat dimana ia menemukan
Karena penasaran, Gania memberanikan diri untuk membuka kotak itu. Setelah ia buka, isinya adalah sebuah kertas yang berisi rangkaian kata dan di tulis rapi dengan tinta hitam.
Isi kertas itu adalah..
*Untuk Gania putri kecil Papa.
Jika Papa tiada, ikhlaskan Papa bagaimanapun keadaannya. Maaf jika selama ini Papa sibuk dengan pekerjaan Papa. Maaf Papa telah menikahkanmu secara paksa. Mungkin kamu pernah berfikir jika Papa tergesa-gesa, tapi Papa yakin kedepannya kamu akan merasa beruntung karena sudah Papa nikahkan sebelum Papa tiada. Papa akan bisa beristirahat dengan tenang karena sudah ada yang menjaga putri Papa. Jagalah rumah tangga kalian, jangan sampai saling meninggalkan sampai maut memisahkan. Papa hanya berharap semoga pernikahan kalian segera lengkap dengan hadirnya momongan. Love you daughter.
With Love,
Papa*
__ADS_1
Setelah membaca surat itu, tangis Gania kembali pecah. Gibran pun ikut terharu setelah membacanya.
"sayang kita ke kamar atas ya" ucap Gibran sambil menyeka air mata Gania, kemudian menuntun Gania naik ke kamarnya agar bisa beristirahat.
***
Setibanya di kamar, mereka pun membersihkan diri secara bergantian. Setelah bersih, Gania merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamarnya. Sedangkan Gibran mengambilkan makan untuk Gania karena dari pagi tadi ia belum memakan apapun.
"sayang makan dulu ya" ucap Gibran
Gania tak menggubris, ia masih melamun karena teringat isi surat dari Papa.
Kemudian Gibran mengelus pundaknya, sebagai tanda agar Gania sabar. Setelah itu Gibran menyuapinya sedikit demi sedikit akhirnya 1 porsi nasi pun habis dilahap Gania.
Setelah kenyang, Gibran membiarkan Gania merebahkan kembali tubuhnya hingga akhirnya terlelap.
"Papa!" teriaknya kecang, setelah itu ia kembali menangis dan terbangun.
"kenapa?" tanya Gibran pelan
"aku bermimpi Papa mas" ucapnya dengan mata yang sudah basah
"aku sudah mencoba ikhlas" imbuhnya lirih
__ADS_1
"tapi?"
"tapi terkadang aku merasa marah, kenapa takdir seperti ini. Aku harus kehilangan kedua orangtuaku disaat aku belum bisa membahagiakan mereka"
"tapi kamu harus bersyukur Nak, sekarang kamu punya suami yang siaga dalam menjagamu" sahut seseorang yang masuk ke kamar Gania
"istirahat lagi ya, malam ini kita tahlilan" imbuh Nenek.
Kemudian Gibran dan Gania mengistirahatkan diri mereka.
***
Pukul 19.30 para pelayat yang siang tadi datang pun malam ini kembali ke istana megah Alm. Papa Arya. Malam ini diadakan acara tahlilan untuk mendoakan Almarhum. Semua tampak khusyuk.
Setelah selesai, tak lupa Gania juga bersedekah atas nama Papanya.
Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan rumah, kini hanya tersisa dirinya, Gibran, Nenek, Papa Surya dan beberapa pegawai rumah yang sibuk membereskan ruangan.
"Nek, Gania mau Nenek tinggal disini" ucap Gania tiba-tiba.
"lalu bagaimana dengan rumah Nenek sayang?" tanya Nenek sambil mengelus rambut cucunya.
"bisa disewakan kan Nek? Atau dijual? Gania ngga pengen jauh dari keluarga"
__ADS_1
"baiklah Nenek akan turuti kemauan Gania"
Lalu Gania dan Nenek berpelukan dengan hangat.