Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Menerima Gibran


__ADS_3

Mulai sekarang Gania mencoba membuka hatinya untuk Gibran. Ia mulai menerima keberadaan Gibran dalam keluarganya, dan mulai menerima Gibran sebagai suaminya.


Kini Gibran sudah resmi menempati posisi tertinggi di Anjasmara Group. Jadi setiap hari Gania selalu mempersiapkan sarapan hingga keperluan.


Gania sudah diterima di Universitas Terbuka, ia hanya kuliah tatap muka setiap hari Sabtu dan Minggu, dan selebihnya ia kuliah di rumah.


"semua tugas udah selesai, enaknya ngapain ya" ucap Gania


Gania bingung karena tidak ada kegiatan apapun, jadi ia memutuskan untuk membaca novel online. Kali ini Ia memilih novel bergenre Romantis.


"kayanya bagus nih"


Gania terus membaca novelnya. Sampai pada episode yang tergolong dewasa, ia merasakan merinding. Yang ada didalam bayangannya kali ini adalah wajah Gibran. Tiba-tiba saja ia merindukan suaminya. Ia teringat rasa yang ia rasakan ketika Gibran tak sengaja menyentuh dadanya.


***


Pukul 19.30


Gibran pulang telat hari ini, ia harus meeting dengan beberapa klien.


Gibran pun segera membersihkan diri, setelah selesai ia keluar menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Rambutnya pun basah dan terurai kedepan.


Gania yang melihatnya pun kini tak bisa mengedipkan mata, Gibran terlihat sangat menawan.


"kenapa lihat? pengen?" ucapan Gibran bagaikan petir yang menyambar Gania malam ini, ia kemudian tersadar dan menutup matanya.


Setelah Gibran mengenakan pakainnya,


"Ga sini deh" ucapnya sambil menepuk sofa sebelahnya.

__ADS_1


"keringin rambutku" ucap Gibran manja, Gania pun juga segera melakukannya.


"makasih ya kamu udah berusaha buka hati" ucap Gibran lagi, Gania hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.


Dengan cepat Gibran langsung menggendong istri kecilnya, kemudian menurunkannya di ranjang.


Gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Gania hingga hidung mereka saling bersentuhan.


"buatin kopi"


Gania langsung bangun dan mendorong Gibran.


"iihh kalo mau minta kopi ngga usah buat suasana kaya gini" kesal Gania


Gibran hanya cengengesan melihat tingkah istrinya, kemudian Gania pun menjalankan kewajibannya untuk menuruti permintaan suami.


***


"sarapan yuk, terus minum obat" ajak Gania


Gibran hanya menggeleng.


"yaudah aku ambilin ya"


Gania mengambilkan sarapan dan obat untuk suaminya, pagi ini ia seperti merawat bayi besar karena harus menyuapinya. Setelah selesai, Gania menyuruhnya mandi.


"mandi gih, udah jam 8 loh"


"mandiin"

__ADS_1


Gania melotot dan mencubit Gibran.


"aww sakit sayang" teriaknya


Gania menarik Gibran agar mau bangun, setelah Gibran bangun kini Gibran pun menarik Gania agar masuk ke kamar mandi bersamanya.


“ngga mau” tolak Gania sambil menahan badannya agar tidak terseret


“sayang ayolah” pinta Gibran


“ngga” tolak Gania


“kenapa? Kita udah sah loh”


“ya terus?” Gania sambil menarik kembali tangannya


“kamu boleh lihat semua yang aku punya”


“tapi aku belum siap”


Keduanya berdebat.


“aku sudah mulai menerima kamu bukan berarti aku sudah siap melihat dan melakukan apa yang orang dewasa lakukan”


“iya sayang, aku minta maaf ya. Harusnya aku berfikir lebih dewasa bukan malah memaksa” ucap Gibran kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri


Gania yang masih cemberut itu pun hanya duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.


15 menit berlalu, Gibran telah menyelesaikan aktivitas mandinya. Ia menghampiri sang istri yang duduk sendiri.

__ADS_1


“sayang, aku minta maaf lagi ya soal yang tadi” ucap Gibran


“hmm” jawab Gania sambil memperlihatkan senyumnya


__ADS_2