
Pukul empat pagi, terdengar sayup-sayup suara adzan subuh dari masjid yang letaknya agak jauh dari Rumah Sakit. Gibran kemudian terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, dilihatnya sang istri masih tidur lelap di pangkuannya, kemudian ia mengusap rambut dan mencium kening Gania dengan lembut.
"sayang" panggilnya, tapi yang dipanggil tak bergerak sama sekali
"Gania sayang" panggilnya lagi sambil mengusap pipi sang istri
Gania yang merasakan ada sentuhan di pipinya pun mulai mengerjapkan matanya.
"kita sholat subuh yuk" ucap Gibran sambil membantu mendudukkan Gania
Gania yang nyawanya belum kumpul pun hanya diam tak bergeming.
Tak lama kemudian, setelah dirasa nyawanya kumpul, Gania mengikuti ajakan suami untuk shalat subuh di mushola Rumah Sakit.
***
Kurang lebih 10 menit mereka habiskan untuk bersiap dan shalat. Setelah selesai, mereka bergandengan kembali ke ruang tunggu ICU.
"mas, semalam kamu bisa tidur?" tanya Gania
Gibran mengangguk dan tersenyum tipis sambil memakai kembali jam tangan yang ia lepas.
"bohong" ucap Gania sambil menatap tajam wajah suaminya
__ADS_1
Gibran pun mengeriyit, tatapan matanya penuh tanya
"apa?" tanya Gibran sambil mengusap mata Gania agar berkedip dan tidak menatapnya tajam
"kantong mata kamu itu loh mas"
"emang dari dulu kan" jawab Gibran santai
Gania menyipitkan matanya, seolah bertanya-tanya apakah benar.
"sudah sudah, mau sarapan?" Gibran menyudahi pertanyaan yang ada di pikiran Gania, kemudian ia mengajaknya sarapan.
"mana ada jam setengah 5 sarapan?" tanya Gania sambil menyilangkan tangan
"ada, kalo kamu mau"
Tapi, sebelum mereka berdua beranjak dari kursi, Dokter Danar sudah lebih dulu keluar dari ruang ICU.
"Gania" panggil Dokter Danar
"iya Dok?"
"apa kamu ingin melihat Papamu?"
__ADS_1
Deg
Gania senang bisa melihat Papanya kembali tapi ia sangat sedih dengan kondisi Papa Arya yang terbaring lemah.
Lalu Gania dan Gibran membuntuti Dokter Danar untuk masuk ke ruang ICU. Setibanya didalam, air mata Gania mengalir deras saat melihat alat pacu jantung melekat pada dada Papanya.
"se parah itukah Papa" ucap Gania dalam hati, Kemudian Gibran mendudukkan Gania dan mengelus pundaknya serta menyeka air matanya.
"kenapa semakin hari kondisi Papa saya semakin lemah Dok?" tanya Gania yang sesenggukan
"kami sudah berusaha semaksimal mungkin Ga, kami sudah melakukan yang terbaik untuk Papamu. Tapi kami juga manusia biasa, takdir Tuhan tidak bisa ditentang. Doakan saja yang terbaik ya" ucap Dokter Danar membuat suasana lebih mengharukan.
"Papa, ayo sembuh Pa. Gania yakin Papa ngga akan ninggalin Gania sendirian. Setelah Papa sembuh, Gania janji akan melakukan apapun yang Papa inginkan... hiks hiks hiks" bisik Gania ke telinga Papa Arya.
Tangan Gania terus menggenggam tangan Papa, ia tak ingin kehilangan Papa Arya dalam waktu dekat ini. Ia sudah menjadi seorang Piatu sejak usianya 3 tahun, ia tak ingin Papanya juga meninggalkannya.
Tanpa mereka sadari, mata Papa meneteskan air mata. Entah karena mendengar bisikan Gania atau hanya karena kebetulan.
Namun, tak lama kemudian detak jantung dan detak nadi Papa Arya terlihat melemah, tapi tekanan darahnya malah meningkat drastis hingga membuat tim medis gempar.
Tim medis kemudian mengambil alih posisi Gania dan secepat mungkin melakukan tindakan.
Di belakang sana, Gania histeris saat melihat layar EKG yang menampilkan grafik flat. Dan tak lama kemudian pandangan Gania kabur dan ia ambruk begitu saja. Dengan cepat, Gibran membopong Gania lalu membaringkannya di bed kosong.
__ADS_1
Salah satu perawat pun segera memasangkan selang oksigen pada saluran pernafasan Gania.
Bersamaan dengan itu, Dokter Danar menangis dengan suara yang keras. Semua tim medis mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".