
Pagi ini Gibran menghadiri meeting penting dengan klien di Bangkok. Ia meninggalkan Gania serta putrinya yang masih terlelap di Condominiumnya. Gibran sengaja tak membangunkan karena ia tahu pasti mereka kelelahan.
Sayang, aku berangkat ya. Nanti kalau kamu udah bangun jangan lupa kabari aku. Jangan kemana-mana dulu. See you. -Gibran
tulis Gibran di secarik kertas yang ia tinggalkan di nakas.
Tak lama setelah keberangkatan Gibran, Gania pun bangun dan melihati suasana sekitar tapi ia sudah tak menemukan suaminya disana.
"Gift masih bobo" gumam Gania
Kemudian ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya serta sang putri.
Saat kakinya menanjak ke lantai, ia mengambil secarik kertas yang terletak di nakas lalu membacanya.
Setelah membaca, senyum terlihat mengembang dari bibir Gania. Lalu ia menuruti perintah sang suami untuk mengabari.
"Mas sayang, aku udah bangun. Semoga lancar ya meetingnya. Hati-hati, aku menunggumu kembali" tulis Gania didalam pesan WhatsAppnya
Ia meletakkan kembali ponselnya di nakas, lalu beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"hmhh" lenguh Gift sambil memiringkan tubuhnya
Setelah itu Gift membuka mata. Ia merasa sangat asing di tempat ia berada, ia melihati sekelilingnya tapi tak terlihat juga kedua orangtuanya.
Gift kemudian mengendus dan merengek. Ia ketakutan karena sendirian.
"huaaaa" tangisnya kencang
Air shower mengguyur ujung rambut hingga ujung kaki Gania. Suara gemercik air itu berisik, Gania tak mendengar suara dari luar.
"huaaaaaa" tangis Gift semakin kencang
Setelah selesai membilas tubuh dan rambut, Gania mematikan showernya.
"aaaaa.. haaaaa" teriak dan tangis Gift histeris
Seketika Gania membelalakkan mata, ia langsung menarik handuk dan menutupi tubuhnya lalu keluar begitu saja.
__ADS_1
"sayang sayang, takut ya? maaf ya Nak" Gania langsung meraupnya
"huaaaaa" tangisan itu masih menggema
"ssstt.. sssttt..." Gania menenangkannya sambil menggoyangkan tubuhnya
"udah ya nangisnya, Mommy udah disini" imbuh Gania
"tadi Mommy mandi" imbuh Gania lagi sambil mengusap air mata dan air liur sang putri
Gift sudah berhenti menangis, namun masih sesenggukan.
"maaf ya sayang" ucap Gania sambil mencium kedua pipi chubby Gift
"hiii.. hiiii" tangisan itu kembali
"loh kok nangis lagi"
"hikk.. hikk.. num" ucap Gift sambil sesenggukan
Kemudian Gania membawa Gift ke dapur lalu menuangkan air putih kedalam gelas.
"cucu.. hikk.. hikk.. " pinta Gift sambil memukul mukul keras dada Mommynya
"pakai botol ya? Baby kan biasanya udah ngga minum dari Mommy?" tawar Gania
"haaaaaa" tangis kembali menggema
"oke oke minum cucu langsung dari Mommy" jawab Gania setelah menghela nafasnya
Lalu ia membawa kembali Gift ke ranjang dan ia tidurkan. Gania langsung membuka lilitan handuk bagian atasnya dan menyusui sang putri.
"Baby Gift takut ya sendirian di tempat asing" ucap Gania sambil mengusap ke belakang rambut Gift yang berkeringat
"ini rumah Daddy. Baby jangan takut lagi" imbuh Gania
Cekittt Gift menggigit.
__ADS_1
"aarrhh" racau Gania dan reflek menarik p*y*d*r*nya
Lalu Gift bangun dari tidurannya dan mendudukkan diri.
"uuuu.. uuuuu.." Gift bergumam sambil memainkan tangan
Gania masih membiarkan sang putri asyik sendiri, sementara ia sekarang harus berganti pakaian.
"Mmom" panggil Gift pada Mommynya dengan suara yang masih serak akibat menangis
"apa sayang" jawab Gania sambil menyisir dan mengeringkan rambutnya
"Ddy"
"DADDY" Gania mengajari sang putri agar menyebutkan Daddy bukan Ddy
"Daa...Ddy"
"DADDY" ucap Gania lagi
Gift yang masih malas itu pun tak merespon lagi.
"yuk ikut Mommy" ucap Gania sambil menurunkan Gift dan menuntunnya agar berjalan bersama ke balkon
Setibanya di balkon, Gania menggendongnya. Ia memperlihatkan sungai Chao Phraya yang terpampang disana.
"Mommy.. tuu" ucap Gift sambil menunjuk kapal yang berada di sungai
"iya sayang, kapal"
"apann" tiru Gift
"sungai Chao Phraya" ucap Gania memberitahu Gift
"aao.. aya" tiru Gift
Setelah itu keduanya tertawa dan bersantai bersama sambil menunggu waktu kepulangan Daddy Gibran.
__ADS_1