
Sore harinya, Gania mengerjapkan matanya. Ia terbangun setelah merasakan tendangan kuat dari dalam perutnya.
"sayangnya Mommy lapar ya" gumamnya dengan suara serak
Kemudian ia mendudukkan tubuhnya lalu membahasi tenggorokannya dengan air mineral.
Karena merasakan adanya pergerakan, Gibran pun ikut menggeliat dan mengerjapkan matanya.
"jam berapa?" tanya Gibran
"jam dua mas" jawab Gania kemudian beranjak dari ranjang
"mau kemana?" tanya Gibran lagi, sebenarnya ia masih malas berbicara karena nyawanya belum terkumpul
"lapar" jawab Gania sambil menyeretkan kakinya
Ia membuka pintu lalu keluar dari kamar, meninggalkan Gibran sendirian. Ia turun ke bawah untuk mencari makanan.
"Bi, ada makanan apa?" tanyanya pada Bi Asih yang sedang menyapu ruangan
"eh maaf Non, Bibi belum masak" jawab Bi Asih
"tapi kalo Nona pengen makan, Bibi siap membuatkan" imbuh Bi Asih
"oh ngga usah Bi, kalau gitu Gania masak sendiri aja" tolak Gania, karena ia tahu Bi Asih masih ada kerjaan
"ngga papa Non, biar saya masakkan"
"ngga usah Bi, Gania masak sendiri aja"
Kemudian Gania berlalu, ia membuka kulkasnya untuk mencari bahan makanan. Disana, ia menemukan beberapa potong paha ayam. Gania punya ide untuk membuat ayam kecap.
Pertama ia mencuci bersih potongan ayam itu, lalu ia menyiapkan bumbunya. Setelah semua siap, ia mulai memasaknya. Aromanya harum dan sangat menggugah selera.
"hmm sepertinya enak" gumamnya
Dan benar saja, setelah matang ia langsung menyerbunya. Ia makan sangat lahap karena memang ia sudah sangat lapar dan masakannya juga enak.
"laper banget ya?" tanya seseorang dari belakang tempat duduk Gania
__ADS_1
Gania yang sedang asyik mengunyah pun menoleh ke sumber suara itu.
"heem" jawabnya singkat karena mulutnya masih penuh dengan makanan
"yah kok habis sih?" Gibran melihat piring lauk yang sudah tak tersisa lauknya, hanya tinggal kecapnya saja
"ehehe maaf ya Dad" ucap Gania lalu mengemas piring kotor itu dan meletakkannya di wastafel
"kalo mau, nanti aku masakin" ucap Gania lagi sambil berjalan kembali menuju meja makan
"ngga usah yang, kasian kamu capek capek" tolak Gibran
"kamu ngga kangen masakanku mas?" tanya Gania manja
"kangen, tapi..."
Jawaban Gibran membuat Gania penasaran
"tapi apa?"
"tapi aku lebih kangen kamu" bisik Gibran kemudian
"haha baby tolongin Daddy, Mommy KDRT nih"
"baby, Daddymu nakal. Ayo nak tendang Daddy" ucap Gania sambil mengelus perutnya sendiri
Tak butuh waktu lama, rangsangan itu membuat baby menendangkan kakinya ke perut Gania. Gibran yang sudah menunggunya pun langsung menempelkan pipinya pada perut Gania agar bisa merasakan tendangan keras dari sang buah hati.
"bahagianya" ucap Nenek yang baru keluar dari kamar
"hehe iya Nek, baby aktif banget" jawab Gania
"banyak banyak diajak ngobrol yang baik ya Nak" nasehat Nenek
"iya Nek"
***
Hari sudah malam, setelah makan malam Gibran dan Gania kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
"mas, besok ke makam kan?" tanya Gania sambil mencari posisi nyaman untuk rebahan
"iya"
"emm, mas kamu kangen baby ngga?"
Gibran yang sedang asyik bermain game pun segera menghentikannya lalu menoleh ke arah Gania.
"kangen banget"
"udah lama ngga lihat baby kan?"
"kamu mau?" Gibran merangkak ke ranjang
Gania mengangguk
Melihat sang Istri menginginkannya, Gibran pun melepas pakaian atasnya.
"masss, kamu ngapain sih" protes Gania
"aku kangen sama baby, aku ingin menjenguknya"
"mesum!"
"hah?" Gibran menganga
"maksudku tuh, kalau kangen besok kita sekalian USG lagi. Aku pengen lihat wajah baby" jelas Gania
"oh gitu ya"
"memangnya kamu kira apa?"
"aku kira kamu pengen..."
"apa?!" Gania menatap sinis
"gagal deh" gumam Gibran kemudian merebahkan tubuhnya dengan kasar
"selamat tidurrrr" ledek Gania sambil memainkan pipi Gibran semacam squisy
__ADS_1