Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Bonus 8


__ADS_3

Hari terakhir di Bangkok, Gania rasanya tak ingin pergi dari sini.


"hmm hari terakhir" gumam Gania sambil membuka gorden kamarnya dan melihat pemandangan indah sungai Chao Phraya


"kenapa?" tanya Gibran menghampiri Gania


"gapapa Mas, cuma.."


"betah kan disini?" tebak Gibran


"hmm" jawab Gania sambil menganggukkan kepala


"mau lebih lama? atau mau menatap? aku sangat siap"


Gania menggelengkan kepala dan mendudukkan dirinya.


"aku ngga tahu kalau tinggal dan menetap disini apakah aku akan betah"


"mungkin aku merasa betah karena aku kurang liburan" imbuh Gania


"hmm.. ya.. ya" jawab Gibran sambil mengangguk-anggukkan kepalanya


"kita pulang jam berapa?" tanya Gania


"jam dua"


"oke, aku akan packing pakaian dan barang barang kita"


"ehhh" ucap Gibran sambil menahan tangan sang istri agar tidak pergi


"kenapa?" tanya Gania heran


"aku udah packing Yang"


"semalem aku ngga ada kerjaan" imbuh Gibran


"hmm terimakasih Mas" ucap Gania sambil membelai pipi sang suami


Setelah itu mereka bersantai selagi si buah hati belum bangun dari tidur lelapnya.


***


"mau makan apa?" tanya Gibran pada Gania yang bermain putri mereka


"apa ya, aku males makan nasi"


"somtam mau?" tawar Gibran


"somtam?" tanya Gania sambil mengerutkan dahinya


"iya, salad pepaya. enak loh Yang"

__ADS_1


"hmm boleh" jawab Gania


"Gift mau mamam apa sayang?" tanya Gibran sambil menjahili sang putri


"no..no..no" ucap Gift sambil menggerakkan jari telunjuknya


"jangan di jahili Dad" sahut Gania


"pesenin apa aja lah Mas, yang penting perutnya keisi" imbuh Gania


"oke" ucap Gibran kemudian memesan makanan online dari ponselnya.


Kurang lebih 20 menit kemudian makanan pesanan Gibran pun tiba. Mereka bertiga segera menyantapnya. Gania yang baru pertama kalinya merasakan somtam atau salad pepaya itu pun merasa aneh dengan rasanya, namun rasa itu malah menjadikannya candu.


"seger kan?" tanya Gibran


"iya Mas"


"inum.. inum" rengek Gift sambil menunjuk botol minum mini miliknya


Kemudian Gibran menyodorkan botol minum itu lalu membiarkan Gift memegangi dan meminum sendiri.


"uhukk.. uhukk.." Gift tersedak


"uhukk.." Gania yang sedang menikmati somtam itu pun juga ikut tersedak


"pelan-pelan sayang" ucap Gania sambil meraup Gift ke gendongannya


"huaaaaa" tangis Gift menggema


"huaaaaa" tangisnya masih sama


"maafin Daddy ya sayang, Daddy tadi ngga megangin"


Lalu Gania mengajak sang putri menjauh.


"uhukk..uhuk" Gift masih batuk-batuk


"hmhh" Gania mengurut pelan dada Gift


"hiii.. hii.. " tangis Gift lagi


"ssstt udah ya sayang nangisnya" ucap Gania kemudian duduk memangku Gift di kursi


"Yang" panggil Gibran sambil mendekati sang istri


Tapi Gania tak menjawabnya, Gania masih sibuk mengurusi sang putri.


"kamu marah ya?" tanya Gibran sambil membelai rambut Gania


Gania masih diam tak menjawabnya.

__ADS_1


"aku kira Gift bisa minum sendiri" ucap Gibran lagi


"Gift mau tidur" ucap Gania lalu menghindar dan membaringkan tubuhnya serta sang putri di ranjang


Gibran hanya menghela nafasnya lalu keluar kamar.


"bukannya ikut nenangin anak malah keluar, ngga pamit lagi" gerutu Gania


Setelah itu Gania menidurkan Gift terlebih dahulu. Masih ada tiga jam waktunya untuk beristirahat. Gania sengaja menidurkannya dulu agar nanti tidak rewel saat berada di pesawat.


Kurang lebih satu jam lamanya Gibran pergi dan belum kembali. Tapi kini pintu sudah dibuka, pertanda yang punya sudah datang.


"Yang, masih marah?" tanya Gibran


"engga" jawab Gania


"maafin aku ya"


"oke" jawab Gania lagi


"ayo ikut" ucap Gibran sambil menarik tangan Gania agar ikut bersamanya


"kemana sih, Baby sendiri" gerutu Gania


Setelah tiba di ruangan yang di tuju, Gibran mempersilakan Gania duduk. Lalu ia meletakkan paperbag di meja.


"udahan marahnya" ucap Gibran kemudian


"siapa bilang aku marah" elak Gania


"yaudah, buka"


Lalu Gania membuka paperbag itu.


"tas dan jam tangan" batin Gania


"senyum dong, jangan ditahan" ledek Gibran


"terimakasih" ucap Gania manja lalu memeluk dan mencium suaminya


"meredam amarah yang sangat mudah" batin Gibran dengan tertawa geli


Setelah itu keduanya kembali ke kamar untuk menemani Gift dan menata barang tambahan yang akan di bawa pulang.


Setelah tiba saatnya, mereka pulang menuju Indonesia.


***



Tas dan jam tangan dari Daddy Gibran :v

__ADS_1


Btw kapan-kapan lagi ya bonusnya


Jangan lupa like!


__ADS_2