Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Masalalu Gibran


__ADS_3

Gibran yang sedari tadi bercerita sambil memejamkan mata pun kini membuka matanya ketika merasakan ada tetesan air yang menetes di dahinya, kemudian ia melihat ke atas arah istrinya berada.


"sayang? kamu menangis?" tanyanya kemudian mendudukkan diri


Dilihatnya mata Gania sudah merah dan sangat berkaca-kaca. Saat Gania mengedipkan matanya, bulir-bulir itu berjatuhan secara bersamaan.


Kemudian air mata itu Gibran usap dengan lembut.


"kenapa hm?" tanya Gibran lagi


"aku turut sedih mas mendengar cerita masa lalumu"


"baru sampai sini kamu sudah berlinang air mata, ngga usah dilanjutin ya?"


"lanjuttt" rengeknya


Kemudian Gibran merebahkan tubuhnya dan tubuh sang istri sambil memeluknya hangat.


"sejak lahir, aku hidup dengan Papa. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ASI. Maka dari itu aku menganggap Papa jauh lebih baik dari dia"


"kemudian saat aku berusia 5 tahun dia kembali lagi ke kehidupan kami. Dia menangis dan mengemis untuk dapat bertemu denganku, entah kenapa Papa mengizinkannya masuk lagi ke keluarga kami, ya namanya juga Ibu dari anaknya ya. Dia juga bercerita bahwa suaminya menceraikannya"


"Papa turut bersedih, lalu Papa mengizinkan dia tinggal di rumah kami selama kurang lebih satu bulan, itu pun tanpa sepengetahuan keluarga Papa"

__ADS_1


"dan puncaknya pada saat Papa bekerja sehari full, dia mencari kesempatan untuk mencuri barang barang berharga milik Papa kemudian pergi begitu saja. Setibanya di rumah Papa sangat kaget, ia sempat berfikir dia sudah berubah tapi pada kenyataannya masih sama"


"sejak saat itu, kami tidak pernah lagi bertemu dengannya. Ada beberapa desas desus bahwa dia kembali menikah dengan pengusaha"


Setelah selesai bercerita, Gibran melihat istrinya yang ternyata sudah terus-terusan menguap.


"istri nakal, kamu menyuruhku berdongeng ya" ucap Gibran sambil mencubit hidung mancung Gania


"maaf mas, tiba-tiba saja aku mengantuk" jawab Gania


Kemudian keduanya saling memejamkan mata dan mencoba tidur siang.


***


"hai cucu Nenek, dari tadi Nenek belum lihat kamu" ucap Nenek


"hehe iya Nek, tadi istirahat. Gania capek" jawab Gania kemudian ikut Nenek duduk


"memangnya kemarin ngapain aja di Bangkok?"


"ngga banyak kegiatan sih Nek, tapi ngga tahu kenapa rasanya capek. Mungkin perjalanan agak lama kali ya"


"sayang apa kamu lupa kegiatan kita di Condo?" sahut Gibran yang sedang menuruni tangga

__ADS_1


Gania pun memutar kepalanya dan melihat suaminya tak tersenyum nakal dibelakangnya.


"maasss"


Kemudian ketiganya tertawa bersama sambil bersantai menonton televisi.


"Nek, aku pengen belajar buat kue" ucap Gania tiba-tiba


Kemudian Nenek mematikan televisinya,


"ayo. Nenek juga sudah lama tidak membuat kue"


Kemudian Gania dan Nenek bersama-sama berjalan ke dapur. Tapi setibanya di dapur sayang sekali bahan-bahan untuk membuat kue sudah habis.


"yaudah Nek Gania ke supermarket dulu ya" ucap Gania kemudian mengambil kunci motornya.


"eehhh tunggu dulu, memangnya kamu tahu bahannya apa saja?" tanya Nenek


Gania menggeleng dan sedikit meringis. Sebenarnya Bi Asih juga menawarkan diri untuk membelikan bahan tapi Gania menolaknya, kali ini ia ingin belajar.


"sayang ku antar ya?" ucap Gibran, tapi Gania menolaknya karena ia hanya pergi ke supermarket yang letaknya tak jauh dari rumahnya.


15 menit telah berlalu, kini ia sampai di supermarket dan segera mencari bahan bahan yang ia butuhkan.

__ADS_1


__ADS_2