
Ia kembali ke kamarnya, pikirannya kacau. Ia mencoba mengubungi Gania kembali tapi tak ada jawaban sama sekali.
"aku harus pulang malam ini"
Gibran mengemasi pakaiannya lalu memasukkan kedalam koper dengan sembarangan.
Jam menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan pekerjaannya agar dapat memutus kesalahpahaman Gania dan Neneknya.
Di dalam mobil, Gibran mencoba menghubungi Papa Surya. Tiga kali panggilannya tak ada jawaban, tapi beruntung panggilan ke empat ini Papa Surya menjawabnya.
"Pa, maaf. Gibran pulang malam ini" ucapnya gusar
"kenapa Gi? Lalu meeting besok?"
"ini lebih penting dari meeting. Gibran yakin sekretaris Papa bisa meng-handlenya"
"sebenarnya ada apa?"
"sebaiknya besok pagi Papa ke rumah, ada hal penting yang harus Gibran jelaskan"
Belum sampai Papa Surya menjawab, Gibran lebih dulu menutup panggilannya.
***
Di rumah, Gania seperti seseorang yang kehilangan raganya. Ia tak bisa memejamkan mata, ia melamun menatap langit-langit kamar Neneknya yang remang-remang tanpa cahaya.
"kenapa ini terjadi" ucap Gania lirih
"sayang, maaf ya Mommy membuatmu sedih juga" ucap Gania lagi sambil membelai perutnya
Ia tak pernah berfikir bahwa rumah tangganya akan seperti ini, apalagi disaat kondisinya yang tengah mengandung.
"jangan banyak berfikir, sebaiknya kamu istirahat. Nenek yakin besok pagi Gibran pulang" ucap Nenek tiba-tiba sambil memeluk hangat cucunya
"bagaimana mungkin Gania ngga memikirkannya Nek? Tadi Nenek juga mendengar suara itu kan?"
"tapi Gibran sempat bilang kan kalau dia dijebak?"
Gania mengangguk
"sudah, istirahat dulu. Nanti kalau sudah pagi kita tunggu saja kejelasan dari Gibran"
Kemudian Gania kembali mengangguk dan memiringkan tubuhnya ke kanan. Bayangan suara itu masih menyelimuti pikiran Gania, tapi ia mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1
***
Pukul 07.30
Suara mobil Gibran tiba di garasi rumahnya. Ia buru-buru keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.
Di ruang TV, dilihatnya sudah ada Gania dengan mata sembabnya, Nenek dan Papa Surya.
"akan ku jelaskan" ucap Gibran lalu duduk di lantai tepat di depan Gania
"malam tadi aku merasa bosan, aku memutuskan untuk keluar mencari kopi di Cafe sebelah Hotel. Saat aku mengantri, ternyata disana ada Pricilla"
"Pricilla?"
"Pricilla?"
Tanya Gania dan Papa Surya bersamaan.
"iya" jawab Gibran
"dia bilang, dia memesan dua kopi. Satu untuknya dan satu lagi untuk temannya. Tapi saat dia mendapatkan kopi itu, dia bilang temannya pergi, dan dia menawarkan kopi itu untukku" lanjutnya
"dia memaksaku duduk bersama.."
"dan kamu mau?!" Gania memotong cerita Gibran
"apa tenagamu tidak cukup untuk melawan Pricilla?" cibir Gania
"sayang, dengarkan dulu. Awalnya dia meminta maaf padaku, tapi aku tak menjawab sepatah kata pun. Lalu aku langsung meminum kopi pemberiannya hingga habis agar aku bisa cepat pergi darinya" lanjutnya
"tapi saat aku berdiri, aku merasa lambungku tidak mencerna kopi itu. Jadi aku memuntahkannya kembali, dan setelah itu aku tidak mengingat apapun. Kurasa aku pingsan"
"apa kamu di racun?" tanya Gania
"mungkin sejenis itu. Aku ngga sadar, aku terbangun saat Nenek menelfonku dan memarahiku"
"kamu menidurinya!" teriak Gania
"Gania, tenang Nak" Nenek berusaha menenangkan Gania yang sudah berlinang air mata
"aku tidak merasa menidurinya yang"
"tapi dia berteriak kamu memperkosanya" ucap Nenek
__ADS_1
"tidak, tidak mungkin aku memperkosanya"
"apa buktinya?" Gania ingin bukti
Gibran berpikir sejenak
"aku tidak menemukan sisa cairan apapun"
Seketika Nenek dan Papa Surya pun tergelak, sedangkan Gania menatap semua heran semua.
"Gania, Papa yakin Gibran tidak melakukannya. Bukannya kamu sudah tahu siapa Pricilla?" tanya Papa Surya
Gania mengangguk
"tapi bagaimana bisa ada kiriman suara laknat?" tanya Gania
"suara laknat? maksudnya?"
Kemudian Gania memutar ulang pesan suara tadi malam.
"aku tidak mengirimnya, lihat saja di ponselku tidak ada" Gibran menunjukkan isi chatting
"itulah jebakan. Setelah mengirim, dia pasti menghapusnya" sahut Papa Surya
Gania berpikir ini masuk akal juga.
"jadi gimana? udah percaya sama aku?" tanya Gibran
Gania masih diam menatap mata Gibran, ia pun juga melihat tak terdapat kebohongan disana.
"tapi ngapain dia disana?" tanya Gania kemudian
"ngga tanya" jawab Gibran kemudian mendudukkan diri di sofa sebelah Gania
"Papa rasa dia mengikutimu Gi" sahut Papa Surya
"kok dia tahu kalau Gibran ke luar kota?"
Masih menjadi tanda tanya besar.
***
Di Hotel
__ADS_1
"ahaha aku tidur nyenyak semalam" ucap Pricilla sambil memeluk guling bekas dekapan Gibran
"lihat aja Gania, hatimu akan hancur setelah ini" ucapnya lagi sambil tersenyum sinis