
Malam harinya, Gibran benar-benar menuruti keinginan Gania untuk jalan keluar rumah. Ia tahu selama ini istrinya cukup bosan dirumah.
"ayo mas" Gania menggandeng tangan Gibran
Keduanya menuruni tangga dengan sedikit bersenda gurau.
"mau kemana?" tanya Nenek
"Gania pengen jalan nek, bosen dirumah terus" jawab Gibran
"yaudah hati-hati ya, jangan kecapekan, jangan pulang malem"
"siap Nek" jawab Gania dengan semangat
Dalam perjalanan Gania tak henti-hentinya memperlihatkan senyum simpulnya kepada sang suami.
"seneng banget kayaknya" ledek Gibran
"iyalah mas, udah lama kita ngga jalan"
Tak terasa mereka sampai di tempat tujuan, tempat yang ramai dan dipenuhi berbagai macam lampu disana. Keduanya menyusuri setiap sudut dengan bahagia. Nah kebetulan ada tukang foto, lalu Gibran mengajak Gania untuk berfoto bersama. Gibran selalu ingin mengabadikan setiap moment indahnya bersama sang istri dan calon buah hatinya.
Satu..dua..tiga.. Cekrek
btw kenapa ya mas Gibran kalo di foto mukanya selalu datar wkwkw :p
*Beberapa saat sebelum pengambilan foto
"sayang kamu pakai kemejaku ya" ucap Gibran sambil melepas kemeja kotak kotak itu
"loh emang kenapa mas?" tanya Gania
"lihat tuh baju kamu udah press body, aku ngga mau tubuh seksi istriku ini dilihat berpasang pasang mata" bisik Gibran dengan selingan tawa
"berarti kamu ngatain aku gendutan?"
Yaampun salah lagiiii
"bukan gitu sayangku, sekarang kan ada baby disini, jadi baju kamu yang dulunya longgar sekarang udah press body" jelas Gibran lirih
__ADS_1
"sama aja!"
Kemudian Gania terpaksa menggunakan kemeja kotak-kotak yang kedodoran itu.
*
Setelah bosan berjalan, Gibran mengajak Gania duduk di kursi taman yang sudah disediakan.
"yang aku mau ke toilet" ucap Gibran yang sudah tak bisa menahan kencing
"ih yaudah sana"
"ikut aja yuk, masa kamu sendirian disini"
"ih ngga mau ah, udah mas ngga papa aku disini"
Kemudian Gibran meninggalkan Gania sendirian di taman.
Selepas kepergian Gibran ke toilet, Gania tak bisa diam saja, kakinya kembali melangkah melihat beberapa kerajinan yang dihias dengan lampu itu. Meski di sudut kerajinan tidak begitu banyak pengunjung tapi sudut itu terlihat meriah karena adanya berbagai macam warna lampu.
"mba cantik sendirian aja" ucap salah satu pengunjung berbadan besar
Gania hanya diam dan menatap sinis lelaki itu.
"jangan sentuh gue!" ucap Gania dengan nada meninggi
Lelaki itu membulatkan mata dan memperlihatkan senjata pisau yang ia kantongi. Hal itu membuat Gania tersentak melihatnya. Karena melihat Gania ketakutan, ia semakin maju untuk mendekat ke arah Gania.
"woii ngapain lo!" teriak seseorang dari arah lain
Lelaki itu menoleh kemudian kabur karena keberadaannya diketahui orang.
"Gania kamu gapapa kan?" tanya wanita itu
"Kak Anin! Beruntung Kakak disini" kemudian Gania memeluknya
"kamu kok sendirian? Suami kamu mana?"
"Suamiku ke toilet Kak"
"lain kali hati-hati ya. Yaudah aku pulang dulu" ucap Pricilla kemudian melesat dengan cepat.
__ADS_1
Gania bertanya-tanya kenapa Anin (Pricilla) tumben langsung pulang, biasanya mereka akan berbincang-bincang dulu kalau bertemu.
"sayang kamu kok disini"
Ucapan itu membuat Gania terkejut dan membuyarkan lamunannya.
"eeh iya mas tadi aku lihat lihat"
"yaudah kita pulang ya"
Kemudian Gania mengangguk.
Dalam perjalanan hingga sampai di rumah, Gania hanya diam. Ia memilih merahasiakan kejadian tadi, ia tak ingin Gibran khawatir dengannya.
Setibanya di kamar, Gibran mengajaknya tidur bersama tapi Gania belum bisa memejamkan matanya. Saat ditanya Gania selalu menjawab "tidak apa apa".
Setelah beberapa jam terjaga, Gania bisa tidur juga. Tapi tidur kali ini tak se nyenyak biasanya, ia bergerak kesana kemari memiringkan badannya untuk mencari posisi yang enak. Tapi ia kembali teringat pisau tadi, ia kemudian membuka mata dengan cepat lalu mendudukkan diri.
"aku takut" gumamnya lirih
Gibran yang merasakan ada pergerakan dari sang istri pun juga ikut terbangun.
"sayang kamu kebangun?" tanyanya sambil mengucek mata
"ada apa?" tanya Gibran lagi dengan suaranya yang masih serak
Gania terus terusan hanya menggeleng, tapi kini air matanya menetes. Ia tak mungkin tidak menceritakan kejadian tadi kepada Gibran, ia tak pandai berbohong.
Akhirnya ia berani menceritakan, Gibran yang mendengar cerita itu pun langsung mengendus kesal dan terus merutuki dirinya sendiri.
"kenapa aku ninggalin kamu sih" ucapnya sambil menjambak rambutnya
"mas tenang ya, ini bukan salah kamu kok. Aku yang ceroboh ngga nungguin kamu. Dan beruntung tadi ada Kak Anin"
"siapa dia?"
"Kak Anin itu kenalan Gania. Udah ya mas Gibran tenang, aku juga nggapapa kok sekarang"
"gimana mau tenang? Kamu hampir aja disakiti loh, gimana kalo gaada yang tolongin kamu? Gimana kalo kamu dan anak kita disakiti?" Gibran emosi
"aku akan mengurusnya" imbuhnya
__ADS_1
"mas sudah dong jangan diperpanjang, aku ngga mau masalah ini jadi berbelit-belit. Aku nggapapa, aku cuma mau cerita biar aku lega"
Setelah lama dibujuk akhirnya Gibran menuruti kemauan Gania untuk tidak mengurusnya lebih lanjut. Tapi Gibran memberinya satu syarat, mulai sekarang Gania tidak boleh pergi sendirian lagi. Dan Gania pun menyetujuinya.