
Malam ini, seperti biasa Gania tidur di dekapan Gibran. Ia selalu merasa aman dan nyaman dengan posisi seperti itu.
Meski sudah terpejam, tapi pikiran Gania masih berputar putar memikirkan siapa wanita yang berada di foto itu bersama suamianya dan Rendra.
Kini matanya mengerjap, ia juga berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami. Merasa ada pergerakan dari teman tidurnya, Gibran ikut membuka matanya.
"kenapa?" tanya Gibran dengan suara seraknya
"aku haus" alasan Gania
Kemudian Gibran mendudukkan diri dan meraihkan air minum yang berada di nakas sampingnya.
"terimakasih" ucap Gania sambil menerima air minum itu, kemudian menenggaknya hingga separuh
"kayaknya kamu gelisah, kamu mikirin apa yang?" tanya Gibran sambil mendekap Gania lagi
"ah engga mas, perasaanmu aja" elak Gania
"kalo ada apa-apa cerita sama suaminya"
"engga ada" elak Gania lagi
"aku tebak kamu masih mikirin Cilla" tebak Gibran
Kemudian Gania mengaku, ia menganggukkan kepalanya perlahan.
"apa sih yang kamu pikirin tentang dia?" tanya Gibran malas
"aku penasaran wajahnya"
"cuma itu? Dan kamu sampai ngga bisa tidur?"
"ya ngga tahu pokoknya aku penasaran mas" jawab Gania
"apa kamu punya fotonya?" tanya Gania kemudian
__ADS_1
Lalu Gibran meraih ponselnya yang berada di nakas, ia membuka folder galeri lamanya yang masih ia simpan.
"ini Aku, Pricilla, dan Rendra. Ini foto dua setengah tahun yang lalu di Eropa waktu kami masih kuliah disana" jelas Gibran sambil memperlihatkan foto itu ke Gania
Deg
Jantung Gania serasa berhenti berdetak.
"emm.. Nama lengkap Pricilla siapa sih mas?" tanya Gania dengan suara sedikit bergetar
"Pricilla Anindita"
Nafas Gania berhenti selama beberapa detik. Setelah itu kepalanya terasa pening karena kebenaran yang baru saja ia dapatkan.
"Anindita..Selama ini aku mengenalnya dengan nama Anin. Orang yang selama ini ku kira baik ternyata adalah musuh didalam selimut" batin Gania sambil memejamkan mata
"berarti selama ini dia sudah tahu tentangku, dia pasti sudah mengincarku" batin Gania lagi
"sudah hilang penasarannya, tidur lagi ya" ucap Gibran sambil membelai lemut pipi Gania
"aku semakin tidak bisa tidur mas" jerit Gania dalam hati
Gania memeluk erat tubuh Gibran, seperti mencari keamanan karena rasa penasaran kini berubah menjadi ketakutan.
***
Sinar matahari mulai menyeruak menembus jendela, membuat Gania membuka matanya.
Ia meraba kasur di sampingnya, dan di rasanya teman tidurnya sudah beranjak dari sana.
"oh udah bangun" gumamnya sambil mengucek mata
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar mandi di buka
"sayang baru bangun?" tanya Gibran
Gania mengangguk sambil mendudukkan diri di kepala ranjang.
"mata kamu sedikit bengkak, apa kamu menangis?" tanya Gibran kemudian mendekati Gania
"engga, mungkin semalem aku kurang tidur" elak Gania
"ohh" jawab Gibran singkat kemudian memakai kemejanya
"mas, jangan pulang malem ya" pinta Gania
"engga sayang, biasanya juga sore udah pulang kan?"
"iya"
Gibran sudah rapi mengenakan setelan jas serta dasi yang di pasangkan Gania. Setelah itu keduanya turun bersama untuk sarapan.
"Nenek mana Bi?" tanya Gania sambil menoleh ke kanan ke kiri
"Nenek pulang ke rumah Non, katanya kangen" jawab Bi Asih sambil meletakkan lauk sarapan
"oohh"
Kemudian Gania mengambilkan sarapan untuk Gibran. Sarapan pagi ini terasa sepi, tidak ada obrolan yang tersemat disana.
"aku berangkat ya sayang" pamit Gibran sambil mencium kedua pipi Gania
Tak lupa juga ia mencium baby mereka.
"baby belum bangun ya? Daddy berangkat ya Nak, jaga Mommy. Jangan nakal di dalam sini" ucapnya kemudian membelai dan menggelitik perut Gania
"geli mass"
__ADS_1
"dadahhh" Gibran melambaikan tangan kemudian masuk kedalam mobil.