Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Tukeran Bakso


__ADS_3

Hari mulai petang, Gania akan turun lebih awal untuk membantu Bi Asih di dapur, tapi..


"kita makan di luar aja yuk sayang" ucap Gibran sambil memeluk Gania yang sedang menyisir rambutnya dari belakang.


Gania diam sejenak, lalu


"mau makan dimana mas?" tanyanya


"mau pengennya dimana?" tanya Gibran balik


"aku lagi pengen makan bakso nih"


"ya udah kita cari bakso di deket deket sini ya"


"oke aku siap siap dulu ya"


Gania bersiap untuk makan di luar, sedangkan Gibran turun terlebih dahulu untuk berpamitan dengan Papa Arya.


Setelah semua beres, Gibran dan Gania pun berangkat. Namun kali ini berbeda dari biasanya, kali ini mereka berangkat menggunakan motor trail milik Gibran. Gibran memang hobi mengendarai motor.


"jangan ngebut dong" teriak Gania


"makanya pegangan" lalu Gibran meraih tangan Gania agar memeluknya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat makan bakso.


"kamu mau bakso apa sayang?" tanya Gibran


"terserah kamu aja deh" jawabnya


"ya udah kamu duduk dulu ya, biar aku yang antri" Kemudian Gania menuruti perkataan Gibran, ia pun duduk terlebih dahulu.

__ADS_1


Saat Gania melihat kiri kanan, ia melihat sosok Pricilla yang juga sedang makan disana.


"Kak Anin" teriaknya


Pricilla menoleh ke sumber suara itu,


"oh bocah itu, sama siapa dia?" tanyanya dalam hati, lalu ia melihati semua arah dan kini matanya tertuju ke satu titik dimana Gibran berada.


"oh sama Gibran" ucapnya dalam hati lagi.


Karena lama menunggu Gibran, Gania pun menghampiri Pricilla.


"Kak Anin kok ngga jawab Gania sih" ucapnya


"ehehe maaf Ga, Kakak kira kamu siapa"


"btw Kakak sering makan disini? Ini kan jauh dari tempat tinggal Kakak?"


"kamu sendirian aja?" tanya Pricilla


"engga Kak, yaudah aku balik kesana dulu ya. Byee"


Pricilla hanya membalasnya dengan senyuman sinis.


Tak lama kemudian Gibran duduk menghampiri Gania,


"sayang tadi aku lihat kamu ngobrol sama seseorang, siapa?" tanya Gibran


"oh itu Kak Anin"


Sayang sekali Gibran tidak mengetahui bahwa Anin itu sebenarnya Pricilla, karena saat itu tubuh Gania menutupi Pricilla.

__ADS_1


Tak lama kemudian bakso pesanan mereka pun datang, dengan semangat Gania langsung membumbuinya dengan saos dan sambal.


"jangan banyak-banyak sayang. Nanti sakit perut" ucap Gibran yang melihat Gania menuangkan saos dan sambal ke mangkok baksonya. Tapi Gania tak menghirukannya.


Saat Gania menyeruput kuah baksonya, ia tersedak karena saking pedasnya. Wajahnya memerah, hal itu membuat Gibran sangat panik. Gibran mengelus-elus punggung Gania dan memberikannya minum.


"pelan-pelan minumnya"


Setelah Gania membaik, Gibran menatap tajam Gania. Nyali Gania melemah saat melihat Gibran seperti itu.


"makan baksoku. Baksomu biar aku yang makan" ucap Gibran sambil menukarkan baksonya yang belum diberi apa-apa.


Makanan pedas adalah makanan kesukaan Gibran, jadi ia tak masalah jika harus memakan bakso pedas milik Gania.


15 menit kemudian.


Setelah selesai makan, mereka segera pulang.


Udara terasa lebih dingin, Gania menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Ia merasa kedinginan karena hanya memakai setelan piyama lengan pendek. Gibran yang melihatnya pun langsung memberikan jaketnya agar dipakai.


"naik" ucap Gibran yang sudah menyalakan motornya.


Kemudian Gania naik dan Gibran pun menjalankan motornya dengan pelan. Di belakang, Gania merasa sangat nyaman dan mulai bersyukur karena mendapatkan suami sebaik Gibran. Tangannya pun memeluk Gibran dengan erat.


***


Dear Readers.


Maaf membuat kalian menunggu.


Beberapa hari yang lalu Author sibuk dan tidak sempat untuk up. Terimakasih sudah mengikuti cerita ini. ❤

__ADS_1


__ADS_2