Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Bonus 2


__ADS_3

Hari ini Gibran berangkat lebih pagi sebelum sang putri bangun dari mimpi.


"sayang, aku berangkat ya" ucap Gibran sambil berbisik di telinga Gania


"iya, hati-hati Mas" jawab Gania sambil mencium punggung tangan Gibran


Tak lupa juga Gibran mendaratkan kecupan di dahi serta kedua pipi sang istri.


"uuu" Gania memajukan bibirnya


"apa?"


"kamu ngga rindu?" tanya Gania sambil menggandeng Gibran untuk menjauhi ranjang


"engga" jawab Gibran


Gania membelalakkan mata.


"engga usah ditanya" jawab Gibran lalu menyambar bibir Gania dengan cepat


Gania kembali membelalakkan matanya karena mendapat perlakuan mengejutkan dari sang suami.


"udah ya Yang, aku ada meeting penting" ucap Gibran yang sudah melepas pagutan


"hati-hati" ucap Gania kemudian melambaikan tangan.


Setelah sang suami berangkat bekerja, sekarang Gania beres-beres kamarnya. Ia menata ulang buku-buku yang berantakan dan memasukkan mainan Gift yang semalam dimainkan ke dalam keranjang.


Dilihatnya juga tempat sampah sudah penuh, mau tidak mau Gania harus membuangnya sekarang juga.


"Baby bangun ngga ya" gumam Gania yang sudah mengangkat tempat sampahnya


Karena di rasa sang putri masih asyik dengan mimpi, Gania pun segera turun untuk membuang sampahnya dengan cepat.


Deg suara pintu yang tertutup dengan keras.


Mendengar itu, Gift membuka mata sambil sedikit melenguh dan menggeliat. Ia melihat ke kanan ke kiri mencari keberadaan sang Mommy serta Daddy tapi tak ditemukan juga.

__ADS_1


Di bawah, Gania membuang sampah di tong sampah besar samping rumah.


"tumben Gibran berangkat pagi Ga?" tanya Nenek pada Gania


"iya Nek, ada meeting penting" jawab Gania


"udah sarapan?"


"udah" jawab Gania sambil menurunkan tempat sampahnya yang sudah kosong


"kapan? Sarapan apa?" tanya Nenek heran, karena Nenek merasa tak melihatnya


"sarapan ciuman hahaha" jawab Gania tanpa dosa sambil tertawa


"hih bisa aja kamu" gemas Nenek sambil mencubit lengan Gania


"haha Gania naik dulu Nek, takutnya Baby Gift nangis kalau bangun ngga ada aku" ucap Gania


Kemudian Nenek mengangguk mempersilakan.


Ceklek pintu kamar Gania buka.


Gania yang awalnya menundukkan kepala langsung membelalakkan mata dan melihat putrinya. Dilihatnya Baby Gift sudah duduk di ranjangnya, semalam Gania membiarkan sang putri tidur bersamanya karena tak mau tidur di box bayi.


"Baby Gift udah bangun?" tanya Gania sambil menghampiri


"Mommy" panggil Gift lagi


"apa sayang" jawab Gania


"anak Mommy pintar, bangun tidur ngga nangis" puji Gania sambil mencium pipinya


"eemmhh" Gift yang masih malas pun mendorong wajah Mommynya


"Ddy" panggil Gift pada Daddy


"Daddy kerja sayang, buat beli apa?"

__ADS_1


"cucuu.." jawab Gift


"ahaha pintar"


Ting Ting Ting ponsel Gania berbunyi. Secepat mungkin ia merihnya.


"hallo Mas" ucap Gania


"....."


"kamu serius Mas?"


"....."


"oke, aku akan packing-kan"


Lalu Gania menutup panggilan itu.


"Ddy" ucap Gift


"iya sayang, Daddy yang telfon"


"u'un.. u'un" pinta Gift


"turun? okay"


Lalu Gania menurunkan sang putri kemudian membiarkan berdiri serta berjalan sendiri.


Satu Dua Tiga Bug, Tiga langkah berjalan Gift terjatuh.


"lagi Nak, sini samperin Mommy" ucap Gania menyemangati putrinya


Tak patah semangat, Gift pun kembali bangkit dan berjalan sendiri. Hingga akhirnya ia sampai tepat di depan Mommynya berada.


"yeayy" sorak Gania


"eyyy" sorak Gift yang juga menepukkan kedua tangan

__ADS_1


"Baby Gift mainan dulu ya, Mommy mau packing baju Daddy" ucap Gania


Kemudian ia membiarkan Gift bermain dengan boneka peek a boo nya sendiri.


__ADS_2