Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Hilang keseimbangan


__ADS_3

Malam ini Gania tidur sendiri, sudah berkali-kali ia mengganti posisi tidurnya namun matanya tetap saja terbuka. Ia khawatir, ia rindu Gibran. Jam 23.00 ia memutuskan untuk menelpon suaminya.


"nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi" itulah jawaban yang Gania dapatkan.


"apa mas Gibran baik-baik saja" tanyanya pada diri sendiri sambil menatap layar ponselnya.


***


Hotel Bintang


Di Hotel ini Gibran menginap, sudah sejak sore tadi ia terlelap karena lelah dalam perjalanan dan sibuk meeting dengan kliennya. Ia sampai lupa mengabari istri kecilnya.


***


Beberapa jam telah berlalu, bulan telah berganti mentari. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 tapi belum ada tanda pergerakan dari Gania. Tiba-tiba ponsel Gania berdering yang menandakan ada telepon masuk. Gania meraih ponselnya yang ia letakkan di nakas dengan malas.


"hallo" ucap seseorang


"hmm" jawab Gania malas


"sayang belum bangun ya?" sudah pasti ini Gibran


"hemm mas kok ngga kasih kabar?" tanya Gania sambil mengucek-ngucek mata

__ADS_1


"maaf sayang aku sibuk dan kecapekan. Pagi ini aku pulang ya" ucapan Gibran membuat Gania bersemangat


"mas jangan lupa pesananku ya" ucap Gania manja


"oke sayang" jawab Gibran lalu mengakhiri telponnya.


Gania langsung bangun dari ranjang kemudian mandi agar merasa segar. Setelah mandi ia pun turun ke bawah untuk mencari makanan.


Setibanya di lantai bawah, ia melihat Nenek ternyata datang kerumahnya.


"Nenek" panggilnya lalu memeluk sang Nenek


"baru bangun?" tanya Nenek


"kenapa? Ngga ada temennya ya?" sahut Papa Arya


Gania tersenyum malu-malu. Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang karena memang sudah lama tidak bertemu.


***


Sudah berbulan-bulan Rere hilang kabar. Gania sangat rindu, entah kenapa Rere menghilang begitu saja semenjak kuliah. Gania mencoba menghubungi semua nomor dan akun media sosialnya tapi sepertinya sudah tidak Rere gunakan.


"Re.. lu kemana sih? Gue pengen banget cerita sama lu. Banyak banget yang pengen gue ceritain" ucap Gania dalam hati sambil melihat fotonya bersama Rere.

__ADS_1


Rindu Gania sudah tak tertahankan, ia memutuskan pergi ke rumah Rere saat ini juga untuk bertanya ke keluarganya tentang kemana menghilangnya Rere.


Kali ini Gania ingin pergi mengendarai motor saja, sudah lama ia tak mengendarai motor matic kesayangannya semasa SMA.


***


Jalanan tidak terlalu ramai, tapi mobil di belakang Gania mengklaksonnya tiada henti. Hal itu membuat Gania geram dan meneriaki pengemudi. Si pengemudi mobil malah semakin ugal-ugalan hingga membuat Gania hilang keseimbangan dan terjatuh di pinggir jalan.


"pengemudi gila!" teriak Gania kesal


Kebetulan tidak ada satu orang pun yang melihat Gania, jadi terpaksa ia harus memberdirikan motornya sendiri. Meskipun berat akhirnya ia berhasil.


"untung ngga ada yang lecet" ucapnya kesal


Gania masih terngiang-ngiang mobil yang hampir menyelakainya tadi, sepertinya ia pernah melihat mobil itu tapi ia lupa. Akhirnya ia melanjutkan perjalanan ke rumah Rere. Setibanya disana, rumah Rere sangat sepi dan berantakan seperti tidak berpenghuni.


Gania pun berkeliling dan mencari tetangga untuk bertanya.


"permisi Bu, saya mau tanya. Memangnya rumah nomor 52 sudah kosong ya?" tanya Gania


"oh rumahnya Bu Ita (Mama Rere)? Rumah itu sudah lebih dari sebulan kosong dek. Bu Ita dan keluarganya pindah ke luar kota" jawab Ibu itu


Gania kaget, karena selama ini tidak hanya Rere yang menghilang, tapi keluarganya juga. Ia bingung dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Jadi Gania memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2