Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Maaf


__ADS_3

Saat berjalan melewati lorong, Papa Surya berpapasan dengan seorang pasien berkursi roda elektrik. Awalnya ia tak menghiraukannya, tapi...


"Ss.. Surya" panggil pasien itu


Papa Surya menoleh,


"kamu.." Papa Surya menyipitkan matanya seakan bertanya tanya


Pasien itu meraih tangan Papa Surya.


"maafkan kesalahanku dulu" ucapnya


Papa Surya masih diam mematung.


"Surya, maafkan aku, maafkan aku yang sudah banyak kali menyakitimu dan anakku"


"anakmu? Kamu sudah menelantarkannya dan kamu masih menyebutnya anakmu?" tanya Papa Surya dengan suara meninggi


"Surya, aku mohon. Maafkan aku, aku ingin bertemu anakku" ucap pasien itu yang tak lain adalah Sarah, Ibu yang melahirkan Gibran


"lihat betapa menyedihkannya aku sekarang, aku lumpuh bahkan aku hanya hidup sendiri tanpa suami" imbuhnya


Papa Surya terus menghela nafasnya, mengingat apa yang dulu dilakukan Ibu Sarah kepada mereka.


"memangnya dimana lelaki yang dulu kamu banggakan?" sindir Papa Surya


"dia meninggalkanku, maaf waktu itu aku.."


"jangan bahas lagi" ucap Papa Surya dengan tatapan tajamnya


"seandainya kita tidak berpisah pasti.."


"jangan bahas lagi" ucap Papa Surya lagi dengan nada meninggi


"aku menyesal, aku minta maaf, mohon temukan aku dengannya, aku ingin melihatnya, aku ingin meminta maaf kepadanya" Ibu Sarah terus memohon


"dimana dia sekarang? aku ingin bertemu dengannya" imbuhnya


Papa Surya menghela nafasnya dan melihat mata Ibu Sarah dalam dalam, Papa Surya tak melihat kebohongan disana.


"dia disini, tapi aku tidak yakin apakah dia mau bertemu denganmu atau tidak" jawab Papa Surya datar

__ADS_1


"disini? dimana? Tolong temukan aku dengannya, Surya. Setelah ini aku janji tidak akan menganggu kalian berdua"


Papa Surya masih diam, ia terus mempertimbangkan.


"baiklah, ikuti aku"


Ibu Sarah berbinar di buatnya, matanya berkaca-kaca. Kemudian ia menjalankan kursi roda elektriknya di belakang Papa Surya.


Setibanya di ruang perawatan.


"kok cepet Pa?" tanya Gibran yang melihat Papa Surya sudah kembali


"Nak, ada yang ingin bertemu denganmu" ucap Papa Surya


"siapa?"


"masuklah" perintah Papa Surya ke Ibu Sarah


Kemudian Ibu Sarah benar benar membawa dirinya masuk kedalam ruangan. Ia tak bisa menahan air matanya saat melihat sang putra yang dulu tak dianggapnya kini sudah dewasa.


"putraku" ucapnya lirih kemudian mengarahkan kursi roda ke dekat Gibran berada


Gibran dan Gania pun tercengang dibuatnya.


"aku Ibumu" ucap Ibu Sarah sambil berusaha meraih tangan Gibran, tapi saat itu juga Gibran langsung menjauhkan dirinya


"Papa, kenapa dia bisa sampai sini? Apa Papa mengajaknya?" tanya Gibran dengan suara lantangnya


"tidak" jawab Papa Surya


"maafkan Ibu putraku, Ibu sudah menelantarkanmu, Ibu sangat menyesal telah meninggalkan kalian"


Tangis Ibu Sarah semakin menjadi-jadi hingga membuat baby Gift ikut menangis.


Oekk.. Oekkk


Dengan cepat Gibran menggedong putri kecilnya lalu ia berikan ke Gania agar diberikan ASI yang tadi sudah di pompa.


"apakah dia istri dan anakmu?" tanya Ibu Sarah yang melihati Gania


"lihat, seperti inilah seseorang yang pantas disebut Ibu. Jangan sesekali menyebut dirimu Ibuku dan aku Putramu. Karena selama ini yang aku tahu Papa Surya adalah Ayah sekali Ibu bagiku!" ucap Gibran ketus

__ADS_1


"masss" Gania berusaha menghentikan ucapan Gibran


"bahkan namaku saja kamu tidak mengetahuinya" sindir Gibran


Ibu Sarah hanya bisa menangis dan menangis, ia sangat menyesali perbuatannya.


"se benci itukah kamu denganku?" tanya Ibu Sarah


"lalu se benci apa kamu denganku dulu?" tanya Gibran balik


"dulu aku kehilangan akal sehatku Nak, dan sekarang aku menyesali semua perbuatanku di masalalu, hanya kamu satu satunya anak yang lahir dari rahimku"


"lahir tanpa diinginkan" sindir Gibran lagi


"mas cukup" Gania berusaha menenangkan Gibran


"Sarah, aku rasa sebaiknya kamu keluar dulu. Gibran belum bisa menerimamu" ucap Papa Surya


"Gibran?"


Untuk pertama kalinya Ibu Sarah mendengar nama putra yang dulu tak dianggapnya.


"baiklah Gibran, Ibu berharap kamu mau menemuiku" ucap Ibu Sarah lalu keluar dari ruangan


Air mata Gibran mengalir saat kembali mengingat kenyataan pahit dalam hidupnya. Ia tak menyangka akan bertemu wanita yang telah melahirkannya lalu meninggalkannya.


"mas, kamu harus tenang, jangan biarkan ego mu mengalahkan semua kebaikan yang ada didalam diri kamu. Bagaimanapun juga dialah yang sudah membawamu lahir ke dunia ini, pagi tadi kamu juga melihat kan bagaimana perjuangan melahirkan?"


"tapi yang.."


"sstt, suamiku orang yang baik, dan aku juga yakin suamiku adalah orang yang bisa memaafkan" ucap Gania sambil mendaratkan jari telunjuknya di bibir Gibran


"bagaimanapun masalalu Ibu kamu, tapi kamu tidak bisa terpaku pada masa itu. Kamu juga lihat kan kondisi Ibu sekarang bagaimana?"


Gibran masih diam menatap mata Gania yang selalu terasa sejuk baginya.


"tenangkan dirimu dulu Nak, dan Papa berharap setelah kamu tenang nanti kamu bisa bicara baik baik dengannya" ucap Papa Surya sambil menepuk bahu sang putra


Kemudian Gibran memeluk Gania dan baby Giftania,


"terimakasih sayang, kamu menyadarkanku" ucap Gibran

__ADS_1


Kemudian ia beralih memeluk sang Papa dan menangis di bahunya.


__ADS_2