
Gania memilih beberapa bra yang ukurannya lebih besar dari yang ia punya sebelumnya, ia juga mempersiapkan bra untuk menyusui kelak.
"mas jangan liatin dong, aku malu" protes Gania
"kenapa malu? bahkan aku sudah melihat isinya"
"masss" Gania melirik sinis, namun sebenarnya ia malu
Sesudah mengambil beberapa bra, ia beralih menuju sudut dress dan daster yang digantung tak jauh dari sana.
"mas bagus ngga?" tanya Gania sambil memperlihatkan dress putih dengan motif daisy kecil
"heem" jawab Gibran singkat
"beneran?" tanyanya lagi
"iya, apapun itu kalau kamu yang pakai selalu bagus. Termasuk itu" jawab Gibran sambil melirik lingerie yang dipajang didekat Gania berada
Gania menoleh ke arah itu lalu membelalakkan matanya.
"masss" ia mencubit hidung Gibran
"aaaa ampun yang hahaha"
Gania melepaskan cubitannya lalu menempelkan dress yang ia pilih di tubuhnya. Di sela-sela itu, Gibran berencana menjahili sang Istri.
"mba, istri saya mau yang itu" ucap Gibran tiba-tiba kepada pelayan toko yang berjaga
"yang mana Pak?" tanya pelayan itu
"yang itu" ia menujuk lingerie tadi
Gania membulatkan mata dan bibirnya secara bersamaan.
"mas kamu apa-apaan sih"
Gibran terus tersenyum nakal melihat sang istri geran kepadanya.
"mba, engga kok"
"jadi, bagaimana?" tanya pelayan toko
__ADS_1
"jadi mba" jawab Gibran
Gania sangat malu karena ulah Gibran, ia tertunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya meremas tangan Gibran.
"jangan di remas, nanti punyamu gantian aku remas loh" bisik Gibran
Gania mendongakkan kepalanya kemudian mencubit hidung Gibran lagi. Gibran semakin gemas dan senang membuat Gania geram.
Setelah selesai berbelanja, keduanya kembali ke rumah.
"huh puasnya" ucap Gania sambil membantu Gibran menurunkan barang barang belanjaannya
"ini masih belum seberapa, pasti mendekati persalinan kamu mengajakku kembali kesana" ledek Gibran
"hehe ya bisa jadi" jawab Gania
Kemudian keduanya segera memasukkannya kedalam kamar.
Gania sibuk membongkar paperbag itu satu persatu, sedangkan Gibran memainkan ponselnya. Ia melihat instastory Rendra yang mengunggah foto mereka berdua bersama Gania kemarin.
"bagus juga" gumamnya
"apa mas?" tanya Gania yang sibuk menata baju baju kecil milik baby
"ohhh"
***
Di lain tempat
"aaargh!" seseorang membanting ponsel
"gue ngga tahan!" teriaknya
"gue harus sesegera mungkin menghancurkan mereka" ucapnya dengan tatapan sinis dan nafas yang memburu.
Siapa lagi kalau bukan Pricilla, ia panas melihat foto acara syukuran tujuh bulanan Gania yang kemarin digelar.
Kali ini ia sudah menemukan ide bejat untuk mengganggu rumah tangga Gibran dan Gania.
"kali ini gue ngga bakal kalah" ucapnya sambil tersenyum sinis
__ADS_1
***
Kamar Gania
"mas, kita jadi ke makam?" tanya Gania di sela-sela kesibukannya
"jadi yang, tapi kita tunda dulu ya. Jangan hari ini, hari ini kamu sudah lelah keliling Mall"
"bukannya besok kamu bekerja?"
"aku akan pulang lebih awal"
"janji?" Gania mengajukan jari kelingkingnya
"iya sayang" Gibran menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Gania
Karena sudah lelah, Gania merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum.
Gibran pun juga melakukan hal yang sama, tapi bedanya ia menatap Gania.
"kenapa?" tanyanya
"aku ngga sabar mas"
"sabar ya, dua bulan lagi" ucap Gibran seraya mengacak-acak rambut Gania
Gania mengangguk
"oh iya mas, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?"
Gibran menggeleng
"belum" lalu menjawab
"aku akan menyerahkannya padamu" imbuhnya
"jadi, aku yang memberinya nama?" tanya Gania
Gibran mengangguk
"emm tapi aku ingin menambahkan marga keluargaku di akhir namanya, boleh?" Gibran meminta persetujuan
__ADS_1
"boleh mas"
Kemudian keduanya menyudahi obrolan mereka lalu memejamkan mata masing-masing untuk tidur siang.