
Jam menunjukkan pukul 14.15. Kemungkinan Gibran akan sampai rumah. Dan benar saja, tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Gibran pun tiba di garasi. Gania yang sudah menunggunya pun langsung menyambut kedatangan suaminya dengan penuh senyuman.
"Mas aku kangen" ucap Gania sambil memeluk Gibran yang turun dari mobil
Papa Arya dan Gibran pun geleng-geleng melihat tingkah Gania yang sudah berubah 180° dari awal pernikahan.
"lancar nak?" tanya Papa
"alhamdulillah lancar Pa" jawab Gibran
Kemudian Gania membantu Gibran mengeluarkan barangnya dari mobil kemudian dimasukkan ke kamarnya.
Gibran terlihat sangat lelah, ia berbaring di ranjang. Belum ada 20 menit, ia sudah terlelap.
Gania membiarkan suaminya tertidur, karena ia tahu pasti suaminya kurang istirahat selama di perjalanan.
***
Beberapa jam kemudian, jam sudah menunjukkan pukul 17.30 tapi Gibran belum juga bangun, akhirnya Gania membangunkan Gibran dengan paksa.
"Mas bangun, mandi dulu ya. Udah hampir petang loh" ucapnya, tapi belum ada pergerakan dari Gibran.
"Masss..." ucapnya sekali lagi sambil menggoyangkan tubuh Gibran, Gibran pun perlahan mulai membuka matanya.
"jam berapa?" tanyanya dengan suara serak
"jam setengah 6. Mandi dulu gih"
__ADS_1
"mandiin" ucap Gibran manja
Gania hanya menggeleng, karena ia baru saja selesai mandi.
"aku sudah mandi mas, aku sudah mempersiapkan semuanya"
Dengan malas, Gibran pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan acak-acakan.
"sayang, keringin rambutku" ucap Gibran
Kemudian Gania mengeringkan rambut Gibran dengan hair dryer miliknya.
"aku kangen banget sama kamu" ucap Gibran sambil memeluk dan mencium tengkuk leher Gania dari belakang. Gania merasa geli, kemudian ia berbalik hingga hidung mereka bertabrakan.
"kamu harum sekali sayang" bisik Gibran
"tidak, kali ini kamu lebih harum. Aku ingin" bisik Gibran lagi, bisikan itu membuat Gania merinding.
Tanpa lama Gibran pun mencium bibir mungil istrinya. Gania hanya diam, mungkin inilah cara melepas kerinduan mereka. Setelah puas, Gibran menggendong Gania ala bridal style dan membaringkannya di ranjang.
"sayang aku sudah tidak bisa menahannya lagi" bisik Gibran, Gania hanya diam dan pasrah dibawah Gibran.
"apa kamu siap?" tanya Gibran
Gania memejamkan mata, jantungnya berdebar kencang. Ia takut, ia malu, tapi ia tak mungkin bisa menolaknya.
"aku takut mas" jawabnya lirih
__ADS_1
Tangan Gibran mulai membuka kancing paling atas piyama Gania, tapi tiba-tiba...
*tok tok tok* Terdengar suara ketukan pintu
"Non, mari makan malam" ucap Bi Asih dari luar kamar
"iya Bi" teriak Gania
Gibran agak kecewa karena aksinya harus terganggu. Dengan terpaksa mereka berdua pun turun untuk makan malam.
"Papa mana Bi?"
"Bapak sudah makan lebih awal Non"
Gibran dan Gania hanya saling diam, sampai makanannya habis Gibran baru mengajak Gania berbicara.
"nah pinter makan banyak, abis ini kita mau tempur" bisik Gibran, mendengar hal itu Gania pun mencubit Gibran.
"durianku mana mas?" tanyanya
"ada" jawab Gibran singkat
"mau" rengek Gania
"ngga boleh. Aku pengen belah duren kamu dulu" bisik Gibran sambil tersenyum nakal, kemudian ia menggandeng Gania untuk kembali ke kamar.
Jantung Gania kembali berdebar, dinginnya AC menambah hawa tubuhnya semakin dingin. Akankah malam ini Gibran berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga miliknya?
__ADS_1