
Dua minggu telah berlalu, saat ini Baby Gift sudah bisa merangkak dengan lancar.
Gania selalu geleng-geleng kepala karena lelahnya mengejar Baby Gift yang sangat aktif merangkak kesana kemari.
"sayang, mandi yuk keburu petang. Mommy udah siapin air nih" ucap Gania sambil meraup putrinya
Baby Gift yang belum mau mandi namun lebih dulu diraup sang Mommy pun menendang-nendangkan kakinya dan mengeluarkan rengekan.
"aaeehhh..ihikkk..hikkk" rengeknya
"ini udah hampir petang. Bentar lagi Daddy pulang"
"eeemmmhhh" Baby Gift masih berusaha melonjak untuk melepaskan dirinya
"ngga boleh nakal, bentar lagi petang" ucap Gania tegas
"huaaaaa" Baby Gift mengeluarkan tangisan kencang
"haduh Mommy lagi PMS Gift, Mommy pusing, Mommy capek" gerutu Gania sambil melepas pakaian putrinya dengan paksa
"haaaaaa" tangisan itu semakin kencang
"kenapa sih Ga? tumben nangis kejer?" tanya Nenek yang tiba-tiba masuk
"ngga mau mandi" jawab Gania ketus
Tangan Gania masih memaksa melepas celana Baby Gift walaupun Baby menendang-nendangkan kaki.
"jangan di paksa Ga, kasihan anaknya kesakitan" Nenek tak kalah menggerutu sambil menangkis tangan Gania
"huaaaaaa" tangis Baby Gift masih menggema
"ssstt ssstt sayang udah ya nangisnya, sini sama Nenek" ucap Nenek kemudian menggendong dan menjauhkannya dari Gania
"kamu kenapa sih Ga?! baru kali ini Nenek lihat kamu begini" tanya Nenek dengan suara yang sedikit meninggi
"ada masalah apa?" imbuh Nenek
Gania kemudian tersadar dari amarahnya. Ia berkaca-kaca kemudian meneteskan air mata. Bibirnya bergetar menyesali apa yang tadi ia lakukan.
"maafin Mommy sayang" ucap Gania sambil berusaha mengambil alih putrinya dari gendongan Neneknya
__ADS_1
Baby Gift yang baru saja tenang itu pun belum mau kembali bersama Mommy.
"biar Nenek yang mandiin" ucap Nenek kemudian membawa cicitnya mandi
Di dalam kamar mandi, terdengar gelak tawa Baby Gift yang menggema. Gania hanya bisa mendengarkan dari atas ranjangnya. Tiba-tiba saja matanya kembali berkaca-kaca.
Ceklek pintu kamar di buka
"sayang, kamu kenapa?" tanya Gibran kemudian mendekati Gania yang duduk di atas ranjang dengan rambut dan raut wajah berantakan
"kamu nangis?" tanya Gibran lagi yang terus mengamati mata sendu sang istri
Gania langsung membenamkan wajahnya di dada suaminya. Setelah itu terdengarlah isak tangis dari sana.
"kenapa hmm" tanya Gibran sambil membelai rambut Gania
"a-aku tadi marahin Baby, habis itu dia ngga mau sama aku" jawab Gania dengan suara terbata-bata
"sayang kenapa marah? tumben kamu marah?" tanya Gibran heran
Gania yang masih berada di dadanya pun semakin mengeluarkan tangisnya.
Gibran terkekeh mendengarnya.
"terus sekarang kenapa nangis?" tanya Gibran yang menahan tawa
"aku nyesel Mas, dia ngga mau sama aku" jawab Gania sambil memukul dada Gibran
"ehek.. ehek.." gelak tawa Baby Gift terdengar dari samping Gania
"By" panggil Gania lalu menarik wajahnya dari dada suaminya
"ehekk.. ehehekkk" Baby Gift yang masih di gendong Nenek itu pun tertawa melihat Mommynya
Gania langsung meraupnya dan menciumi seluruh wajahnya.
"mmwahh maafin Mommy" ucap Gania
Baby Gift yang merasa geli pun memukul mukul Mommynya agar menghentikan ciumannya.
Baby Gift kemudian meremas hidung Mommynya dan membuka mulut seperti ingin melahapnya.
__ADS_1
"hahaha hidung Mommy mirip makanan ya Nak?" ledek Gibran
"karena udah tenang, Nenek kembali ke bawah ya" ucap Nenek
"iya Nek, terimakasih" jawab Gania
"lain kali jangan di ulangi" ucap Nenek sambil menutup pintu
"mau pakai baju sama Mommy atau Daddy?" tanya Gania pada Baby Gift yang berada dalam pangkuannya
Kemudian tangan Baby Gift mengarah ke Daddynya.
"yaudah sini sama Daddy" ucap Gibran kemudian mendudukkan putrinya lalu memakaikan pakaian
"bisa-bisanya aku marah padanya" gumam Gania sambil melihati putrinya yang sedang asyik memainkan kedua tangan
Gibran kemudian tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Gania.
"harusnya disini aku minta maaf Yang, aku tidak bisa membantumu mengasuh putri kita. Aku akan mengakatan apa yang kamu lakukan tadi 'wajar', karena kamu sedang lelah. Andai saja aku membantumu, pasti kamu bisa beristirahat cukup dan tidak akan merasa kelelahan" ucap Gibran yang juga melihati putrinya yang kini sudah berguling dan memainkan kaki
"apa sih Mas yang kamu katakan, apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu selalu menyalahkan dirimu? Padahal sudah jelas ini salahku, aku tidak bisa mengontrol emosiku"
"bagaimanapun juga..."
"sssttt" Gania memotong ucapan sang suami yang selalu menyalahkan diri sendiri
"lain kali aku janji tidak akan mengulangi. Dan satu lagi, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Justru aku berterimakasih kepadamu, meski kamu tidak bisa membantuku mengasuh, tapi kamu selalu bertanggung jawab kepadaku. Kamu selalu memberi apa yang aku butuhkan, meski aku tak pernah meminta. Kamu selalu membuatku bahagia" ucap Gania menatap dalam mata Gibran
"sudah ku bilang..."
"jangan bilang kamu akan bilang 'jangan berterimakasih'" ucap Gania yang lagi lagi memotong ucapan sang suami
Gibran pun tersenyum mendengarnya.
Cup kemudian Gibran mengecup pipi sang istri.
"Gift sayang, apa kamu tahu kalau pipi Mommy rasanya asam" ledek Gibran
"oh iya aku belum mandi" jawab Gania sambil meringis
Setelah itu ia membersihkan diri di kamar mandi. Begitu juga dengan Gibran, setelah Gania selesai, ia bergantian membersihkan dirinya sendiri di kamar mandi.
__ADS_1