Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Pantai


__ADS_3

"mas jadi ke pantai kan?" tanya Gania sambil memasang slip belt


Gibran mengela nafasnya panjang.


"ee.. Sayang, Dokter bilang kamu harus banyak istirahat dulu kan?"


Seketika wajah riang Gania berubah menjadi datar dan matanya berkaca-kaca.


"sayang jangan marah" ucap Gibran kemudian menarik tangan Gania


"kamu bohong. Kamu kan tadi bilang katanya abis periksa mau ke pantai" kemudian satu bulir dari mata Gania menetes


"loh kok nangis sih" Gibran menyeka air mata itu


"yaudah kita ke pantai" imbuhnya


Dengan cepat wajah Gania pun kembali riang saat mendengar ucapan Gibran pasrah.


Gibran terus menghela nafasnya, ia harus banyak bersabar.


50 menit kemudian keduanya sampai di pantai. Gania langsung berjalan cepat, ia tak sabar ingin bermain ombak. Padahal belum lama ini saat ia liburan di Pattaya ia tak se antusias ini.


"sayang pelan-pelan ya jalannya, kasian baby"


Tak lama kemudian mereka sampai di perairan pantai, Gania menghamburkan diri bermain ombak.


blushhh


Suara deburan ombak. Gania bahagia dapat kembali menghirup udara pantai pagi ini. Kemudian Gibran mengambil foto istri kecilnya untuk diabadikan.

__ADS_1


"sayang lihat sini" teriaknya



"perut rata ini sudah berisi baby, sebentar lagi aku akan menjadi daddy" gumam Gibran lirih sambil tersenyum melihat hasil jepretannya.


Setelah puas bermain air, Gania mengajak Gibran untuk makan seafood asli pantai. Gania membeli cumi asam manis, cumi lada hitam, kepiting pedas manis, dan ikan bakar. Oh iya tak lupa juga ia membeli es kelapa muda.


Saat pesanan datang, Gibran membulatkan matanya melihat banyak sekali porsi makanan yang istrinya beli.


"sayang apa kamu kuat menghabiskannya?


"kalo ngga kuat ya kamu dong mas" jawab Gania


Kemudian Gibran menelan salivanya,


"bagaimana mungkin" ucapnya lirih


"pelan-pelan yang. Pedesnya kurangin"


Gania hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"tuh belepotan" kemudian Gibran mengelap saus yang belepotan pada bibir Gania.


Tak terasa makanan yang mereka makan sudah hampir habis. Mereka tak lagi melanjutkan makan karena sudah sangat kenyang. Gania puas dengan masakan warung makan ini.


"pulang yuk mas, aku pengen ngasih kabar gembira ini ke Nenek" ucap Gania kemudian beranjak dari kursi


"bentar ya aku bayar dulu"

__ADS_1


Setelah selesai membayar, mereka pun berjalan menuju mobil untuk kembali ke rumah.


***


"Alhamdulillah Ya Allah" ucap Nenek sambil memeluk Gania dan tak henti hentinya menciumnya saat di beritahu bahwa Gania hamil.


"lalu sudah berapa minggu?" tanya Nenek


"empat minggu" jawab pasutri iti bersamaan


"Gania ngga boleh capek-capek dulu. Kalo butuh apa apa bisa panggil Nenek atau Bi Asih. Usianya masih rawan, Nenek ngga mau hal buruk terjadi pada kalian" ucap Nenek


"Gibran juga ditahan dulu mainnya" imbuhnya


"hahaha iya iya Nek, tadi Dokter udah bilang" jawab Gania.


Kemudian Gibran membawa Gania naik ke atas untuk beristirahat. Setibanya di kamar, Gibran melirik jam dinding, jam menunjukkan pukul 11 siang.


Seperti peramal, Gania tahu apa yang dipikirkan suaminya.


"mau ke kantor mas?" tanyanya


"kayaknya iya deh yang"


"yaudah" ucap Gania singkat


"gapapa kan kalo kamu aku tinggal dulu?"


"heem. Tapi jangan pulang malem malem ya"

__ADS_1


"oke sayang"


Kali ini Gibran menyiapkan sendiri perlengkapannya ke kantor. Ia tak ingin Gania banyak gerak terlebih dahulu.


__ADS_2