Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Bonus 4


__ADS_3

Saat ini ketiganya sudah berada di Bandara. Gibran dan Gania membawa dua koper dan satu tas khusus yang berisi susu, camilan, dan dua mainan untuk si kecil agar tidak bosan.


Gift yang baru pertama kalinya ke bandara dan melihat pesawat secara nyata pun terus menepukkan kedua tangan.


"Baby suka?" tanya Gania pada sang putri yang di gendongannya


"airplane" sahut Gibran


"hiihh" Gift gemas


Tak lama kemudian mereka masuk kedalam pesawat. Gift tampak riang, ia melihat suasana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Si kecil montok itu duduk di pangkuan Mommynya dan memakan camilan yang sudah disiapkan.


Saat pesawat lepas landas pun Gift tampak biasa saja, ia tak takut sama sekali. Malah ia bergumam menirukan sang Daddy bernyanyi.


"berapa jam perjalanan Mas?" tanya Gania


"kurang lebih tiga jam Yang" jawab Gibran


"tut.. tut Ddy" ucap Gift sambil merentangkan kedua tangan ke Daddy Gibran


"yuk sini" ucap Gibran sambil meraihnya


"mau lihat pemandangan ya sayang?" tanya Gania sambil mencubit lembut pipi chubby sang putri


"iya tuh bagus" jawab Gibran sambil menunjuk ke arah luar

__ADS_1


"bagus kan sayang?" tanya Gania pada Gift yang juga ikut menunjuk luar


"aa-duss" jawab Gift


Kemudian Gibran dan Gania tertawa bersama.


Skip


Tak terasa tiga jam sudah mereka di udara. Kini ketiganya sudah tiba di Bangkok. Gania menggendong Gift yang sudah tertidur lelap di dalam pesawat dan juga menenteng tas khususnya. Sedangkan Gibran membawa dua koper keperluan mereka.


Setelah keluar bandara, Gibran memesan taxi untuk mengantar mereka ke Condominium miliknya.


"habis ini kamu harus langsung tidur, biar besok ngga kecapekan" ucap Gania yang berbisik di telinga suaminya


"iya sayang" jawab Gibran


Gibran yang sudah akrab dengan pegawai Condo pun langsung dengan cepat bisa masuk ke kamarnya.


Setelah pintu kamar dibuka, senyum terlihat mengembang dari pipi Gania.


"kenapa senyum-senyum? Nostalgia aktivitas kita saat membuatnya?" tanya Gibran sambil melirik ke si buah hati yang berada gedongan sang istri


"ishh kamu" Gania langsung mencubit suami omesnya. Saat itu juga pipinya tampak merona, awalnya Gania hanya merasa bahagia karena bisa membawa putri mereka ke luar negeri juga.


Setelah itu Gania menidurkan Gift di ranjang. Merasa tubuhnya di gerakkan, Gift menggeliat dan melenguh pelan. Tapi beruntung dengan cepat Gania menepuk nepuk bokongnya hingga akhirnya Gift kembali merasakan kenyamanan.

__ADS_1


Setelah sang putri nyaman, Gania menyusul Gibran duduk di balkon. Mereka melihat pemandangan malam kota Bangkok. Dari atas, kendaraan di jalanan terlihat mulai berkurang.


"hampir dua tahun yang lalu kita kesini berdua, rasanya belum lama. Tapi kali ini kita kesini sudah bertiga" gumam Gibran sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gania


"dari yang ku lihat, sepertinya kamu senang bisa kembali kesini? apa kamu mau kalau kita tinggal disini juga?" tanya Gibran yang juga memegang tangan Gania


"ya, aku memang senang Mas. Aku suka suasana disini, rasanya tenang" jawab Gania


"tapi?" tanya Gibran lagi


"tapi aku tidak mau meninggalkan rumah kita, rumah yang sangat ku cinta dan rumah yang sudah memberiku banyak kenangan bersama Mama dan Papa" imbuh Gania


"jangan sedih lagi" ucap Gibran sambil mengecup dan mengusap pucuk kepala Gania


"gimana kalau kita buat adik untuk Gift?" tanya Gibran sambil berbisik


Gania langsung membelalakkan matanya dan mencubit keras lengan Gibran.


"kebiasaan" gerutu Gania


"hahaha ampun Yang, aku bercanda. Lagian Gift saja sudah sangat menggemaskan"


Kemudian keduanya tertawa dan bermesraan bersama.


Bersambung. . .

__ADS_1


Untuk Bab Bonus slow update ya, karena Author juga kebetulan sedang banyak pekerjaan :)


Jangan Lupa Like 💓


__ADS_2