Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
"pengen jalan ngga?"


__ADS_3

Gania membuka matanya, ia merasa tubuhnya remuk karena pertempuran semalam. Perutnya juga terasa berat, saat dilihatnya ternyata tangan suaminya sudah nangkring disana.


"mas" ucapnya lirih dengan suara serak


"bangun" imbuhnya


Gibran mendengarnya, tapi ia tak kunjung menghiraukannya malah semakin mempererat pelukannya.


"mas aku mau mandi"


Ucapan itu membuat Gibran membuka mata.


"ikut" ucap Gibran dengan suara seraknya


"ngga mau ah, nanti durasinya bisa berjam-jam kalo sama kamu"


Tapi dengan cepat tubuh Gania dibopong begitu saja oleh Gibran. Gania memukul kecil dada suaminya tapi hal itu malah membuat Gibran semakin gemas dan mempercepat jalannya.


Setibanya di dalam kamar mandi, Gibran mendudukkan Gania di bath up kemudian ia mengisi airnya.


Dan benar saja ucapan Gania tadi, mandi yang seharusnya hanya 15 sampai 20 menit kini molor menjadi 1 jam. Kalian pasti paham ya :v


***


Seperti biasa, setelah mandi mereka turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.

__ADS_1


"cucu cucu Nenek kok baru turun" ucap Nenek yang sudah lebih dulu sarapan, karena ia terlalu lama menunggu Gania.


"hehe iya Nek, Gania nih minta nambah soalnya" ucap Gibran sambil tersenyum nakal


Gania memukul kecil lengan Gibran karena ia berbicara yang tidak-tidak.


"oh pantesan rambutnya sama sama basah" ledek Nenek


"ih apaan sih Nenek, Gania kan emang 2 hari sekali keramas. Dan mas Gibran ngapain sih ngaco" ucap Gania sambil memanyunkan bibirnya.


"sayang mau lauk apa?" Gibran mengalihkan pembicaraan lalu mencoba merayu Gania.


Tangan Gania menunjuk Orak-arik, ikan goreng, dan juga udang goreng. Kemudian Gibran mengambilkan itu semua dengan porsi yang banyak, ia tahu Gania lelah dan pasti lapar karena terus ia gunakan.


"mas, kok ngga siap siap?" tanyanya


"engga, kemarin kerjaan kantor udah aku selesaiin jadi sekarang tinggal pantau aja" jawab Gibran


"ohhh" jawab Gania sambil beranjak dari kursi dan membereskan meja makan


"pengen jalan ngga?" tanya Gibran


Gania yang berjalan membawa piring kotor pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"pengen banget, tapi..."

__ADS_1


"apa?" tanya Gibran sambil mendekat ke arah Gania


"pengennya ke luar negri. Udah hampir 1 tahun ngga jalan jalan" Gania memberi tatapan penuh harap


"emm gimana ya" Gibran melirik Gania


"yaudah kalo belum bisa ya gapapa" kemudian Gania membalikkan lagi badannya dan meletakkan piring-piring kotor ke wastafel


"oke berangkat siang ini ya" ucap Gibran sambil memeluk Gania dari belakang


"hah? Beneran mas?" Gania senang dan membalikkan badannya hingga wajah mereka bertabrakan


Gibran mengangguk dan tersenyum manis menuruti kemauan Gania. Karena Gania sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan Gibran pun menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, ia juga tak ingin mengingkari janjinya pada Alm. Papa Arya dalam hal membahagiakan putrinya.


***


Gibran mengubungi Zayn, asistennya. Ia memberikan tugas untuk check in tiket dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke luar negri siang ini. Kali ini Gania memilih jalan-jalan ke Thailand, karena letaknya tak begitu jauh, dan wisatanya terkenal menarik. Selain itu ia jarang mengunjungi negara negara serumpun, karena selama ini ia selalu diajak Alm. Papa Arya keliling Eropa.


***


"terimakasih mas" ucap Gania sambil mencium pipi kanan Gibran


"sama-sama sayang. Apapun yang kamu inginkan, aku akan selalu berusaha mengabulkan" jawab Gibran lalu membalasnya dengan ciuman


Kini keduanya sudah berada di dalam pesawat. Tak lama kemudian Pesawat yang mereka tumpangi pun take off. Gania tersenyum puas sambil melihat ke arah jendela menikmati pemandangan.

__ADS_1


__ADS_2