
Matahari terbenam, hari sudah petang. Tapi Gibran belum juga pulang.
"mass, kamu kok belum pulang sih" gumam Gania sambil menatap layar ponselnya
"aku telfon juga ngga aktif"
Nenek yang tahu Gania sedang khawatir pun segera menghampirinya.
"sabar, sebentar lagi pasti pulang"
Dan benar saja...
Tin Tin suara klakson mobil yang berada di depan gerbang rumah
Setelah mobil berhasil masuk, si pengemudi pun turun dan masuk ke dalam rumah.
"assalamualaikum" ucapnya
"waalaikumsalam"
"waalaikumsalam"
Jawab Gania dan Neneknya bersama.
"loh sayang kok tumben di bawah?" tanya Gibran kemudian menghampiri Gania
"iya" jawab Gania singkat kemudian mengecup punggung tangan Gibran
"kata Nenek, sebaiknya sementara kita di bawah dulu aja mas" jelas Gania
"iya Gi, Nenek ngga tega lihat Gania naik turun tangga" sahut Nenek
"iya Nek, tadi Gibran juga sempat mikir gitu"
Kemudian Gibran berlalu ke kamar atas untuk mandi terlebih dahulu.
15 menit kemudian Gibran kembali turun dan menyusul Gania yang menonton televisi.
__ADS_1
"sayang, maaf ya aku pulang telat" ucap Gibran sambil menyilangkan tangannya di pinggang Gania
"iya mas, tapi lain kali kabarin ya, aku khawatir" jawab Gania
"mana ku telfon juga ngga aktif" imbuhnya
Gibran meringis.
"iya sayang, maaf ya tadi hp ku lowbat" jawab Gibran
Kemudian tangannya beralih membelai perut besar sang istri.
"sayangnya Daddy hari ini nakal engga?" tanyanya dengan suara kecil
"engga Dad, baby pinter" jawab Gania dengan suara di buat buatnya
"Gibran, Gania, ayo makan malam dulu" ajak Nenek yang baru saja keluar dari kamar
Gibran dan Gania pun mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Nenek.
Di meja makan, sudah tertata rapi nasi dan beberapa lauk.
"sini mas biar aku sendiri, biasanya kan aku yang ambilin kamu"
"gapapa, sekarang gantian"
"emm telur sama daging aja deh"
Kemudian Gibran mengambilkan apa yang diinginkan Gania, tapi tak lupa juga ia menambahkan sayur disana.
"sayur jangan lupa" ucap Gibran sambil menyerahkan piring itu
"terimakasih Daddy" ucap Gania sambil tersenyum
Kemudian semua makan malam dengan tenang walau terkadang terselip candaan.
Setelah selesai, Gania izin dulu untuk masuk ke kamar, meninggalkan Suami dan Neneknya.
__ADS_1
Selepas kepergian Gania ke kamarnya, Gibran berbincang bincang dengan Nenek mengenai persalinan yang akan dihadapi Gania.
"Nek, apa ngga sebaiknya Gania caesar aja? Gibran takut membayangkan Gania persalinan normal, padahal Gania kan kecil dan usianya juga masih muda"
"kita ikuti saja arahan Dokter, kalau Gania bisa bersalin normal ya kita biarkan saja. Semua Ibu meninginkannya, dan itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita" jawab Nenek
"ya sudah Nek" jawab Gibran kemudian menghela nafasnya dan memejamkan mata, ia membanyangkan betapa mengerikannya
***
Pagi harinya, Gania terbangun saat sinar matahari mulai menghangatkan matanya. Ia mengerjapkan mata, melihat suasana kamar berbeda dan juga terangnya kamat ini karena cahaya matahari.
"jam berapa ini" gumamnya dengan suara serak
Betapa terkejutnya Gania saat melihat jam yang ternyata sudah mmenunjukkan pukul 07.00.
"mas mas bangun" Gania menggoyangkan tubuh Gibran
Gibran hanya melenguh namun tak membuka mata.
"mas bangun, udah jam tujuh"
Kemudian Gibran membuka matanya.
"biarin" jawabnya santai
"mas kamu nanti terlambat" Gania masih heboh
Kemudian Gibran mendudukkan tubuhnya dan mengumpulkan nyawa. Setelah di rasa nyawanya telah terkumpul, ia baru menjawab sang istri.
"aku ngga berangkat"
"hah?" Gania menganga
"aku punya surprise untukmu" ucap Gibran sambil membelai pipi sang istri
"surprise?"
__ADS_1
"kalau pengen tahu, mandi dulu"
Karena penasaran, akhirnya Gania pun mandi untuk menuruti perintah suami.