
Pagi ini suara dering ponsel membangunkan Gibran, sudah seperti alarm yang dulu sering ia aktifkan. Ia mulai mengerjapkan matanya lalu tangannya meraba nakas yang berada di sebelah ranjangnya. Kali ini ia mendapat panggilan dari Papa Surya.
"Hallo Pa?" ucap Gibran dengan mata yang kembali terpejam
"......."
"hah? terus berangkat pagi ini?" Gibran langsung mendudukkan tubuhnya
"......."
"oke oke nanti Gibran ke kantor Papa"
Gibran meletakkan ponselnya kembali di nakas, ia menghela nafasnya lalu memandang sang Istri yang masih tertidur pulas disampingnya.
"sayang" Gibran membangunkannya pelan
Gania melenguh lalu mengerjapkan matanya
"maaf membangunkanmu" ucap Gibran
"ada apa?" tanya Gania sambil mengucek matanya
"Papa memintaku menggantikannya meeting di luar kota pagi ini"
"pagi ini?" Gania mengulangi
"iya, maaf ya aku belum bisa menepati janjiku"
"memangnya sampai kapan?" tanya Gania kemudian ikut mendudukkan diri
"kemungkinan dua hari"
Gania tak menjawab, tapi ia mengerucutkan bibirnya.
"sayang, jangan marah ya. Ini mendadak"
"ya udah mandi gih, aku siapin barang barangnya"
Gibran kembali menghela nafasnya, lalu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Entah kenapa Gania merasa sedih dan kecewa, sudah dua kali ini ia menunda keinginannya untuk mengunjungi kedua orangtua di makam. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa apa, karena ini sudah tugas suaminya.
Ia mulai menata beberapa baju kerja dan baju harian Gibran di koper, tak lupa juga memasukkan laptop dan buku catatan kerja.
15 menit kemudian Gibran keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Gania yang sedang duduk termenung di tepi ranjang.
"sayang, maaf ya. Kalau kamu mau hari ini juga, kamu bisa berangkat sama Nenek" Gibran duduk di samping Gania dan menarik bahunya
"terus aku nyetir sendiri gitu?"
"ya kan ada Pak Sopir"
"memangnya kamu mau nyetir sendiri?" tanya Gania
"iya, aku kan sudah biasa"
"jangan deh mas" Gania mulai khawatir
"kenapa? Percayalah tidak akan terjadi apa apa" Gibran menenangkan Gania
Dengan berat, Gania akhirnya mengangguk mengiyakan kemauan suaminya.
Setelah selesai, Gibran berpamitan dengan Gania dan Neneknya.
"sayang, aku berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik, aku akan merindukanmu" ucap Gibran kemudian mencium kening dan pipi Gania berkali-kali.
"baby belum bangun ya? jangan nakal didalam sini ya Nak, jangan buat Mommy repot. Daddy kerja dulu" ucapnya lagi sambil menekuk lututnya lalu membelai dan mencium sang buah hati yang dikandung sang istri.
"Nek, Gibran berangkat ya. Saya titip Gania" kemudian ia mencium punggung tangan Nenek
Lambaian tangan Gania mengiringi keberangkatan Gibran ke luar kota pagi ini. Entah kenapa Gania merasa tak tenang dibuatnya.
***
Setibanya di kantor Papa Surya, Gibran langsung masuk begitu saja.
"Gi, maaf ya Papa merepotkanmu. Papa meminta bantuanmu karena Papa masih ada project yang juga harus dikerjakan hari ini" ucap Papa Surya
"disana sudah ada sekretaris Papa, jadi kamu tidak akan sendiri" imbuhnya
__ADS_1
"oh iya, ini berkas tambahan yang harus kamu bawa. Hati-hati ya"
"baik Pa, Gibran berangkat dulu"
***
6 jam kemudian
Gibran sudah sampai di tempat tujuan, ia beristirahat sejenak di Hotel yang sudah di pesan untuknya, sebelum nanti pukul 2 ia meeting bersama.
"sayang, aku sudah sampai" tulis Gibran lalu mengirimkannya ke WhatsApp Gania
Tak lama kemudian Gania memanggilnya dengan panggilan video.
"masss" rengekan Gania diseberang sana
"apa sayang"
"jangan lama-lama" rengeknya lagi
"sudah rindu?"
Gania mengangguk, lalu ia mengarahkan kamera ke perutnya.
"cium" perintahnya
"mwahhh" Gibran mencium perut Gania yang terpampang di layar ponselnya
"Hallo princessnya Daddy" ucap Gibran kemudian
Suara itu membuat baby bergerak sangat aktif, mungkin karena sedari tadi ia belum mendengar dan merasakan sentuhan Daddynya.
"baby...aww...sakit sayang" racau Gania sambil memegangi perutnya
"kenapa sayang?" tanya Gibran panik
"baby nendang kenceng banget nih"
"yaudah istirahat dulu gih, kasian kamu sampe kesakitan"
__ADS_1
Kemudian Gania mengangguk dan menutup panggilan video itu.