Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Istirahat disamping Mama


__ADS_3

Gibran yang sedari tadi membelakangi pun segera membalikkan tubuhnya yang terasa kaku, matanya membulat, jantungnya seperti berhenti saat mendengar ucapan tim medis.


Ia tak kuasa menahan tangisnya saat melihat banyak darah yang keluar dari h*d*ng dan t*l*nga Papa Arya. Tubuhnya lemas hingga akhirnya ia ambruk ke lantai.


"Papa..." teriaknya


Kemudian tim medis membersihkan darah dan melepas semua alat medis yang melekat pada tubuh Papa Arya.


Melihat Gibran ambruk, Dokter Danar pun segera memberinya minum agar shocknya berkurang. Dan benar saja, setelah minum Gibran lebih bisa mengontrol dirinya sendiri.


Setelah itu ia memberitahu Papa Surya dan Nenek Gania agar datang ke Rumah Sakit sekarang juga.


***


30 menit kemudian Nenek dan Papa Surya sampai di Rumah Sakit. Bersamaan dengan itu, Gania juga mulai siuman dari pingsan.


"sayang" ucap Gibran lirih dengan suara bergetar


"aku kenapa mas? Aku bermimpi Papa..." ucap Gania


Gibran menggeleng dan meneteskan air mata.


"astagfirullahaladzim" ucap Nenek dan Papa Surya bersamaan


"Putraku..." teriak Nenek histeris

__ADS_1


Mata Gania membulat, ia bertanya tanya dalam hati "apakah Papa meninggalkanku". Lalu ia menoleh ke bed sebelah kanannya dimana bed itu merupakan bed pada saat Papa Arya dirawat.


"Papa..." teriak Gania saat melihat Papanya telah tertutup kain kafan.


Tidak ada satu pun dalam ruangan itu yang tidak menangis. Perasaan Gania campur aduk antara sedih dan marah. Ia terus meracau kenapa Papa Arya tega meninggalkannya secepat ini.


"Gania, kami dan Papamu sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa membaik. Tapi kehendak Tuhan tidak ada yang bisa melawan. Kami segenap keluarga Rumah Sakit turut berduka cita atas kepergian Papamu" ucap Dokter Danar dengan suaranya yang masih bergetar.


Gania tak menghiraukan apapun, ia terus memeluk dan mencium jenazah Papa Arya. Saat ini ia belum bisa menerima kepergian Papanya.


***


2 jam kemudian.


Gania sedikit lebih tenang, ia sudah bisa diajak berbicara dengan semestinya meskipun tangisannya tak kunjung usai.


***


Saat tiba di rumah duka, para tetangga, sahabat dan karyawan perusahaan pun sudah menunggu disana. Mereka semua mengucapkan belasungkawa kepada Gania dan keluarga semoga diberi ketabahan.


***


Beberapa jam kemudian, saat jam menunjukkan pukul 11.30, jenazah Papa Arya dibawa ke pemakaman setempat untuk segera di semayamkan.


"Papa, istirahat dengan tenang di samping Mama ya" ucap Gania sesenggukan saat melihat proses pemakaman Papanya yang dimakamkan di samping makam Almarhumah Mama Miranda.

__ADS_1


Setelah proses selesai, keluarga pun menaburkan bunga di pusara Papa Arya. Gania kemudian memeluk tanah yang mengubur Papanya sebelum ia meninggalkan pemakaman.


"Papa, sekarang udah ngga sakit lagi. Gania pulang dulu ya, Gania janji akan sering sering kesini" ucapan terakhir Gania kemudian memberikan buket bunga pada pusara Papanya.


***


Selama perjalanan pulang, Gania menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. Ia rapuh, rasanya separuh raganya melayang begitu saja.


"sayang, sabar ya" ucap Gibran sambil memeluk hangat Gania dan sesekali menyeka air matanya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah, rumah yang biasanya hangat kini berubah menjadi haru.


Gibran menuntun Gania agar masuk rumah dan segera membersihkan diri. Tapi mata Gania tertuju ke kamar Papanya.


"mas aku ingin ke kamar Papa" ucapnya


Gibran menuruti saja kemauan istrinya karena ia tahu hati Gania belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


Dibukanya kamar Papa perlahan, Gania duduk di tepi ranjang dan melihati bingkai foto Papa, Mama, dan Gania kecil.


"mas, dulu kamu menikah denganku karena kemauan Papa. Setelah Papa meninggal, apa kamu juga akan meninggalkanku?" tanya Gania sambil mengusap foto itu.


Gibran terkejut dengan ucapan Gania. Bagaimana bisa ia beranggapan seperti itu. Kemudian ia memeluk Gania dengan sangat erat.


"sayang, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu? Aku sudah mengambil sesuatu yang paling berharga darimu. Aku menikah juga tidak dengan terpaksa. Jangan pernah berfikir seperti itu, jangan pernah merasa sendiri. Kini aku yang akan menggantikan Alm. Papa dalam menjagamu"

__ADS_1


Gania menangis haru dalam pelukan Gibran, ia tak menyangka Papa tidak salah pilih. Meskipun sebelum ini Gania membenci pernikahan paksanya, namun kini hanya rasa syukur yang Gania rasakan setiap harinya.


__ADS_2