Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Morning kiss


__ADS_3

Pagi yang indah menyambut kedua insan yang masih terlelap bersama di bawah hangatnya selimut tebal milik keduanya.


Ting


Notifikasi pesan masuk di ponsel salah satu dari mereka.


Gibran yang mendengar pun lalu mengerjapkan matanya dan meraih ponsel yang ia letakkan di nakas. Ia membuka pesan itu sambil mengucek matanya yang masih buram.


"Gi, barusan gue dapet kabar katanya Cilla masuk penjara, bener ga ya?" tanya Rendra dalam pesan tersebut


"iya" balas Gibran singkat


"serius lo? Kok lo tahu?"


"iya" balas Gibran lagi dengan singkat


"lo tahu apa masalahnya?"


"kalo pengen tahu, nanti gue ceritain. Jam makan siang kita ketemuan"


"oke bro"


Kemudian Gibran meletakkan ponselnya lagi di nakas. Ia melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.


Ia segera beranjak dari ranjang untuk mandi lalu berangkat ke kantor.


"Mass" panggil Gania dengan suara sayu


Gibran yang tadinya hampir sampai di kamar mandi pun membalikkan badanya dan berjalan kembali mendekati Gania.


"apa sayang?"

__ADS_1


"morning kiss" rengek Gania manja


Gibran pun heran dan mengerutkan dahinya.


Tapi setelah itu Gibran mengecup kedua pipi dan dahi sang istri. Tak lupa juga ia mengecup yang di bawah. Bawah? Eitss maksudnya baby ya wkwk


"kamu ngga kangen ini?" tanya Gania sambil mengerucutkan bibir mungilnya


"yang, udah jam segini. Aku ada meeting pagi" alasan Gibran untuk menolak Gania secara halus, karena ia takut ia akan terbawa suasana dan meminta lebih


Tanpa pikir panjang, Gania pun tiba-tiba menyambar bibir Gibran hingga membuat pemiliknya membelalakkan mata.


Gania menciumnya dan memberi gigitan kecil disana. Dan ketakutan Gibran pun menjadi kenyataan, kini dirinya terbawa suasana yang di buat Gania. Ia malah membalas ciuman Gania dengan rakus, maklum saja karena sudah beberapa hari ini mereka tak melakukannya.


Suara kecapan memenuhi seisi kamar, begitu juga milik Gibran di bawah sana yang meronta-ronta minta keluar.


Merasa miliknya sudah on, Gibran melepas pagutan itu dengan lembut dan pelan.


"sayang, udah jam 06.40, aku harus mandi" ucap Gibran kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melanjutkan permainan yang belum terselesaikan tadi sendirian.


"mas, lesu banget?" tanya Gania kemudian menghampiri suaminya dan membantu mengeringkan rambutnya


"kamu sih ngajak gituan pagi pagi"


"terus?"


"ya terus...." Gibran bingung harus menjawab apa


"lupakan" perintah Gibran kemudian


Gania pun memutar bola matanya dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Setelah siap, keduanya turun ke bawah untuk sarapan bersama.


"Gania, harusnya kamu ngga usah ikut turun. Nenek udah ngilu lihat kamu naik turun tangga" ucap Nenek saat melihat Gania menuruni tangga


"gapapa Nek, Gania bisa hati-hati" jawab Gania


Mendengar jawaban Gania, Nenek hanya menggelengkan kepalanya.


"Gania makan sayur yang banyak, biar ASI nya cepet keluar" perintah Nenek


"tenang Nek, kalo belum keluar kan ada Gibran" jawab Gibran tanpa dosa


Seketika tawa Nenek menggelegar di tengah tengah aktivitas sarapan.


Berbeda dengan Gania, kini wajahnya memerah karena malu.


Karena sarapan sudah selesai, Gibran pun berangkat ke kantor.


"hati-hati ya mas" ucap Gania sambil meraih tangan Gibran untuk diciumnya


"iya sayang, kamu juga. Jangan banyak aktivitas" kemudian Gibran mengecup kedua pipi dan dahi sang istri


Setelah itu ia menekuk kedua lututnya dan membelai lembut baby mereka yang masih berada di dalam kandungan Gania.


"baby sayang, jangan nakal ya Nak. Jaga Mommy" kemudian mengecupnya dengan hangat


"sudah sudah, nanti ngga jadi berangkat lho" ledek Nenek yang menyaksikan kedua cucunya mesra


"iya Nek, saya berangkat dulu"


Kemudian Gibran mulai melajukan mobilnya, sedangkan Gania melambaikan tangannya.

__ADS_1


***


Maaf ya baru bisa up segini ~


__ADS_2