
10 Hari Kemudian
Pukul 03.15 dini hari Gania mengerjapkan matanya, ia merasa bagian bawah tubuhnya seperti basah.
"apa aku ngompol?" tanya Gania dalam hati pada dirinya sendiri
Kemudian tangannya meraba, dan benar saja ternyata kimono yang ia gunakan basah. Gania mendudukkan dirinya lalu berfikir sejenak, apakah ia benar menompol atau ...
"mas mas bangun mas" tiba-tiba saja ia heboh membangunkan Gibran
"hmm" lenguh Gibran
"mas aku basah"
"kamu mimpi basah?" tanya Gibran nyleneh
"mas buka mata kamu dulu, lihat ini" Gania menggoyangkan tubuh Gibran
"apa ini air ketuban?" tanya Gania
Mendengar pertanyaan itu, dengan cepat Gibran membuka matanya dan melihat Gania.
"sebentar ya, aku panggil Nenek"
Gibran langsung berlari ke kamar Nenek untuk memanggilnya.
"awwwhhh kenceng banget" racau Gania sambil meringis dan memegangi perutnya
Setelah itu juga Gibran kembali ke kamar dengan Nenek.
"benar ini air ketuban, sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit" ucap Nenek setelah melihatnya, kemudian membantu Gania beranjak dari ranjang
"aku gendong sampai depan ya biar cepet" ucap Gibran kemudian meraih tubuh Gania
"jangan Gi, kalau Gania masih kuat jalan mending jalan saja. Biar pembukaannya cepat"
"ya sudah Gibran siapin mobil dulu Nek"
Gibran berlari keluar untuk menyiapkan mobil.
__ADS_1
"pelan pelan sayang, kamu pasti kuat" ucap Nenek sambil memegangi pinggang Gania dan berjalan bersama
"Gania kuat Nek" jawab Gania dengan suara bergetar, sebenarnya ia merasakan pegal dan kencang di bagian pinggang dan perutnya.
Setibanya di luar, Gibran dengan sigap membopong Gania dan memasukkannya kedalam mobil. Lalu melaju ke Rumah Sakit.
Di Rumah Sakit, Nenek langsung memanggil Dokter Kandungan dan Bidan yang berjaga agar Gania segera di tangani oleh mereka. Dengan sigap juga mereka segera membawakan kursi roda untuk Gania kemudian memeriksanya.
"sakittt" racau Gania dengan mata basahnya
"saya cek dulu ya" ucap Bidan itu sambil membantu Gania tiduran di bed khusus persalinan
Setelah di cek,
"sudah pembukaan lima. Kami akan mulai mempersiapkan alatnya"
Gania mengangguk kemudian mencengkram dan meremas tangan Gibran yang tegang di sebelahnya.
"sabar ya Nak, tahan sebentar" ucap Nenek sambil mengusap keringat dan air mata Gania
"Mama.. Papa..." Gania memanggil mendiang orangtuanya
"sayang, cengkram aku atau cakar aku sekuat tenagamu. Meski rasanya tidak sesakit yang kamu rasakan, setidaknya aku juga bisa merasakan sakitnya" ucap Gibran sambil menciumi seluruh wajah Gania
Gania hanya bisa menjawabnya dengan anggukan, ia merasakan begitu sakitnya.
"saya cek lagi ya" ucap Bidan
Setelah kembali di cek,
"sudah pembukaan enam" kemudian Bidan mulai memasang selang oksigen pada hidung Gania
Setiap 5 menit sekali Bidan memeriksa pembukaan Gania. Hingga kini sampai pada pembukaan terakhir, pembukaan sembilan.
"sakiiittttt" racau Gania sambil mencengkram keras tangan Gibran
"mengejan Nak" perintah Nenek
Perlahan Gania mulai mengejan dengan nafas ngos-ngosan, keringat dan air matanya menyatu menjadi satu.
__ADS_1
"aaaaaa" suara yang keluar dari bibir Gania
"lagi" perintah Dokter
"aaaaaa"
"Gania ngga bisaa" Gania menangis
"sekali lagi, sedikit lagi" ucap Dokter
"aaaaaaa"
Dan akhirnya .....
Oekkk.. Oekkk.. Oeekkk...
Suara tangisan bayi perempuan terdengar memenuhi ruang persalinan.
"bayi lahir pukul 04.30" lapor Bidan kepada Dokter Kandungan
Di saat yang bersamaan, terdengar sayup sayup adzan subuh dari Masjid yang letaknya agak jauh dari Rumah Sakit.
"Masyaallah, bersamaan dengan adzan subuh" ucap Nenek sambil membelai rambut dan mengecup wajah Gania
Setelah itu, Dokter dan Bidan melakukan pemotongan tali pusar kemudian memandikan.
Setelah selesai, Dokter memberikan baby kepada Gibran untuk di adzaninya. Ia mengadzani sang buah hati dengan suara bergetar karena menahan air matanya.
"welcome to the world baby girl" ucap Gibran dengan senyum simpulnya
Kemudian Gibran menidurkan baby mereka di dada Gania sebagai tahap skin to skin contact.
Tak henti-hentinya air mata Gania jatuh dari pelupuk matanya, kali ini terharu yang dirasakannya.
"terimakasih sudah melahirkan princess cantik ini" ucap Gibran sambil membelai lembut pipi baby dengan jari
Gania mengangguk kemudian membelai tubuh mungil baby.
"kamu sudah menyiapkan nama kan sayang?" tanya Gibran
__ADS_1