Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
"Mas"


__ADS_3

Gania kemudian beranjak dari tepi ranjang dan mengambil handuk serta pakaian bersihnya untuk mandi.


Setelah berada didalam kamar mandi ia merendam tubuhnya di dalam bath up. Itulah cara Gania merilekskan pikiran serta tubuhnya.


“akan jadi apa aku kalau tadi memandikan Kak Gibran” gumam Gania sambil memainkan busa yang memenuhi bath up


“membayangkan aja aku ngga sanggup, apalagi melihatnya secara nyata” gumam Gania lagi


Setelah Gania puas berendam, ia lalu membilas tubuhnya di guyuran air shower sekalian mengkeramasi rambutnya yang mulai lepek.


20 menit kemudian setelah benar benar selesai, ia segera keluar.


“baru selesai?” tanya Gibran basa basi karena masih merasa tidak enak kepada sang istri


“iya, baru keluar juga kan”


“sayang, sekali lagi aku minta maaf ya” ucap Gibran sambil menghampiri Gania yang masih berdiri


“iyaa”


Tanpa izin atau aba-aba Gibran langsung mencium pipi kiri Gania. Hal itu membuat yang punya membelalakkan mata.


Tak di sangka ternyata Gania pun juga membalasnya. Ia mencium pipi kanan Gibran.


“lagi” pinta Gibran sambil membenamkan kepalanya di leher Gania dengan manja


“ihh geli”


“kalau begitu boleh aku menciummu lagi?” tanya Gibran


Gania memikirkannya seribu kali, ia ingin menolak tapi kali ini ia berperan sebagai istri, jika ia mengizinkan ia takut hal yang tak diinginkannya terjadi lebih dini.


“gimana sayang? Ngga boleh ya? Yaudah nggapapa”


“ehh boleh kok..”

__ADS_1


Lalu Gibran menciumi kedua pipi dan dahi sang istri berkali-kali. Tanpa sadar tangannya menggerayahi bagian yang ia sukai. Gania yang merasa geli itu hanya pasrah.


Gibran mulai menurunkan ciumannya hingga tengkuk Gania dan meninggalkan beberapa jejak disana.


Setelah puas, ia langsung melepaskan dirinya.


"sayang”


"sakit ya?" tanya Gibran sambil mengamati tanda merah di leher Gania. Gania tak menjawab, ia hanya memberi isyarat "tidak" dengan menggeleng


"mau lagi?" tanya Gibran lagi sambil tersenyum. Gania melotot dan mencubit hidung Gibran


"aww" teriaknya.


Gania mulai merebahkan tubuhnya, tak lama kemudian hal yang sama juga dilakukan Gibran. Mereka berdua hanya diam menatap langit-langit kamar.


"Kak.." panggil Gania


Gibran menoleh ke arah Gania dan mengerutkan alis,


"Kak? Ganti dong panggilannya. Masa Kak" protesnya


"Sayang dong"


Gania menggeleng dan terus memaksanya untuk memanggil Gibran "Mas", dengan terpaksa Gibran pun mengiyakan kemauan istrinya.


"kenapa manggil?" tanya Gibran


"emm ngga jadi"


"jangan pernah bilang kata-kata itu" ucap Gibran serius


Gania menghela nafasnya,


"apa kamu siap punya anak?" tanya Gania lirih

__ADS_1


Gibran pun mendekatkan wajahnya ke wajah Gania hingga nafas mereka saling bertabrakan.


"tergantung kamu, tapi kalau buat sih aku selalu siap hahaha" jawab Gibran, lalu Gania mendorong wajah Gibran agar menjauh. Gania terlihat gelisah.


"kenapa?" tanya Gibran


"aku belum siap, aku takut"


"aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk itu"


"tapi aku terkadang tidak sabaran" bisik Gibran


Gania gemas dan mencubit lengan suaminya.


"apa sih yang kamu takutkan?"


"emm...sakit" jawab Gania lirih


"aku akan melakukan dengan pelan dan lembut, aku tidak akan menyakitimu" ucap Gibran dan disusul dengan tawa. Gania malah merasa malu lalu ia bangun dari ranjang.


"aku ke bawah dulu ya, pengen makan buah"


Setelah sampai di bawah, Gania menuju kulkas untuk mencari buah-buahan segar. Ia menemukan buah Apel dan Pir, ia pun segera mencuci dan memotongnya menjadi empat.


Setelah bersih-bersih Bi Asih kembali ke dapur, ia melihat Gania sedang sibuk lalu ia menghampirinya.


"Nona lagi ngapain?" tanya Bibi


"eh ini Bi, lagi motong buah. Tiba-tiba pengen" jawabnya


"aaa jangan-jangan Nona lagi ngidam?"


"sstt Bibi, ya engga lah Bi. Gania kan belum..." Gania tidak meneruskan ucapannya karena merasa malu.


"aa Nona yang benar saja, lalu itu?” tanya Bi Asih sambil menunjuk tanda merah di leher Gania.

__ADS_1


“rambut Nona juga terlihat basah”


Gania kaget dan reflek menutupinya dengan tangan. Gania sangat malu ia kabur dengan membawa buah yang sudah dipotongnya.


__ADS_2