Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Clear


__ADS_3

Karena merasa masalah ini berawal dari jebakan Pricilla, dan Gibran sudah menjelaskannya, Papa Surya pun pamit pulang karena masih ada pekerjaan di kantornya.


"sudah clear kan? Papa pamit dulu"


Gibran dan Gania mengangguk bersama.


"kalau sudah baikan, sana naik ke atas" perintah Nenek


Gania lebih dulu melangkahan kakinya untuk naik ke tangga, sebenarnya ia percaya dengan apa yang dikatakan suaminya, tapi pikirannya masih kacau karena bagaimana bisa Pricilla bertindak gila.


Setibanya di kamar, Gania mendudukkan diri di tepi ranjang.


"sayang, apa kamu masih marah?" tanya Gibran kemudian medudukkan diri di samping sang Istri


"maaf ya, aku ngga bisa jaga diri" ucap Gibran lagi


Gania menoleh, matanya berkaca-kaca.


"apa kamu tahu mas? Semalam aku hampir gila"


"aku tidak menyangka dia bertindak sejauh ini" ucap Gania lagi


"maaf ya, kalau kamu sudah tenang, aku ingin mengajakmu menemuinya dan mengancamnya agar tidak menganggu rumah tangga kita"


Gania menhela nafasnya kemudian mengangguk.


Sekarang Gibran kembali menekuk lututnya dan menempatkan diri di depan Gania.


"aku ingin menyapa princessku" ucapnya kemudian perlahan menaikkan kaos yang dipakai Gania


"hallo sayang, Daddy udah pulang. Apa kamu sudah bangun?" Gibran mengelus dan sesekali mencium perut Gania yang berisikan buah hatinya


"terimakasih sudah menjaga Mommy" kemudian ia mendaratkan satu kecupan yang berdurasi lebih lama


Setelah itu, ia menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Mommy mau?" godanya


"jangan mas" jawab Gania malas


"hah?"


"jangan di tanya hahaha"


Kemudian Gibran mengecup seluruh wajah Gania, termasuk bibir ranumnya. Karena gemas, Gibran memperdalam ciuman di bibir itu dan juga sesekali menggigitnya kecil.


Setelah semakin panas, tiba-tiba saja baby yang berada didalam sana bergerak hingga keduanya cepat-cepat melepas pagutan mereka.


Setelah ada tangisan, sudah pasti ada tawaan setelahnya.


"sudah ke makam?" tanya Gibran


Gania menggeleng


"aku menunggumu" kemudian Gania menjawab


Gania mengangguk mengiyakan ajakan Gibran.


"mas, aku penasaran deh Pricilla tuh gimana sih?"


"gimana apanya?" tanya Gibran balik


"wajahnya, apa wajahnya antagonis?"


"engga juga"


"dia kerjanya apa sih? kok punya waktu banget buat ngikutin kamu?" Gania semakin penasaran


"dia punya butik sendiri, makanya dia bisa pergi kemana aja" jelas Gibran


"ohhh, dulu waktu kalian kuliah dia juga agresif gitu?"

__ADS_1


"ya gitu deh, kenapa sih yang kok malah bahas dia?" Gibran malas menjawab hal yang berhubungan dengan Pricilla


"ya aku penasaran aja" jawab Gania


"sudah ya jangan di bahas lagi, aku malas mendengarnya" ucap Gibran kemudian merebahkan diri


"iya iya aku minta maaf" ucap Gania


"ngga usah minta maaf, yang penting jangan di ulangi lagi"


Gania mengangguk mengiyakan.


"sini, tidur di sampingku" ajak Gibran sambil menepuk tempat kosong di sampingnya


"engga mau, kamu belum mandi"


"belum mandi gini kamu mau di cium" ledek Gibran kemudian mendudukkan dirinya lagi


Pipi Gania merona, ia merasa malu.


"kamu yang maksa" elak Gania


"udah ah mas mandi dulu sana" kemudian Gania menarik Gibran agar beranjak dari ranjang.


***


Di Hotel


"saatnya gue pulang"


Setelah mandi, Pricilla mengemasi pakaiannya dan bersiap untuk pulang ke apartemennya.


Selama di perjalanan, dia terus tertawa. Dia merasa dirinya sudah menang, dia berfikir pasti Gibran dan Gania sedang perang besar-besaran.


"hahaha bodoh juga ya Gania"

__ADS_1


__ADS_2