
Setibanya di rumah Gania lebih dulu membersihkan dirinya, sedangkan Gibran pergi ke kebun belakang untuk melihat beberapa tanaman strawberry Gania.
"sudah matang lagi" gumamnya kemudian memetik beberapa buah strawberry yang sudah matang
"Gania pasti suka" lalu ia mencucinya hingga bersih
Saat sedang bersantai di kursi, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Sesegera mungkin Gibran menerima panggilan itu.
"Hallo" ucapnya
"....."
"omong kosong apa lagi ini?" wajah Gibran mulai memerah karena marah
"....."
"jangan mengada-ngada, saya tidak melakukan apapun. Jangan bohongi saya" emosi Gibran memuncak
"sekali lagi kamu buat kekacauan, saya tidak akan segan-segan membawa kebohonganmu ke pengadilan" ancam Gibran kemudian ia menutup panggilan itu
Gibran mengendus kesal dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"sial, se gila ini Pricilla" decisnya lirih
Dari kejauhan tampak Gania yang sedang mengamatinya.
"mas, kamu baik-baik aja?" tanya Gania kemudian mendekat ke arah Gibran berada
"i'am oke" jawabnya sambil menarik bibirnya dengan terpaksa
"beneran?" tanya Gania menyelidik
Gibran mengangguk kemudian menyerahkan strawberry yang tadi ia petik.
"wah sayang, Daddy memetikkan kita strawberry" ucap Gania sambil menerima strawberry itu
"aku mandi dulu ya" pamit Gibran sambil mengacak-acak rambut Gania
__ADS_1
Lalu ia meninggalkan Gania di kebun sendirian.
Gania yang asyik makan pun tak menghiraukannya, tapi setelah selesai ia menyadari ponsel suaminya tertinggal di kursi.
"mas, ketinggalan" ucapnya sambil menoleh dan mengangkat ponsel itu
Tapi dilihatnya Gibran sudah menghilang dari pandangannya.
"oh udah naik, kalo begitu aku mau selfie ah" gumam Gania
"Daddy, pinjem ya hihihi"
Gania bisa mengakses ponsel suaminya karena memang ponsel itu belum terkunci layarnya.
Gania mengambil foto dirinya beberapa kali, tapi kelihatannya tidak ada yang memuaskan.
"aaa aku gendut" rengeknya sambil melihati beberapa foto hasil jepretannya
Saat ia terus men-slide foto-foto di galeri Gibran, ia menemukan banyak foto candid dirinya yang di ambil oleh suaminya.
Tanpa sengaja, Gania menemukan foto Gibran, Rendra dan satu wanita yang tak asing wajahnya bagi Gania.
Gania memperbesar foto itu, matanya membulat hebat.
"ini kan seperti..."
"sayang, ponselku tertinggal ya?" tanya Gibran tiba-tiba yang sudah selesai mandi
Dengan cepat Gania meletakkan ponsel itu kembali ke kursi.
"iiya mas, tadi aku bilang eh kamu udah keburu naik"
"pantesan aku cari di atas ngga ada" kemudian Gibran menyimpannya kembali di saku celana
"cepet banget mandinya?" tanya Gania
"iya, dingin"
__ADS_1
"kan bisa pake yang anget?"
"tetep aja dingin yang" jawab Gibran kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Gania
Gania diam dan melamun.
"sayang, kenapa melamun?" Tany Gibran
Gania hanya menggeleng.
"wanita tadi mirip dengan..." ucap Gania dalam hati
"ada apa hmm?" tanya Gibran menyelidik
"emmm...." Gania bingung
Gibran menaikkan satu alisnya.
"mas, kapan kita mau ketemu Pricilla?" tanya Gania
Gibran heran, kenapa Gania lagi-lagi membahas Pricilla, padahal sebenarnya ia muak mengungkitnya.
"memangnya kenapa yang?"
"aku penasaran aja" jawab Gania gugup
"sepertinya ngga jadi, aku takut dia nekat melakukan hal gila kepadamu"
"tidak mungkin mas"
"mungkin!" jawab Gibran yang tiba-tiba mengeluarkan suara lantang
"mas, kamu bentak aku?" Gania kaget
"mm..maaf sayang, bukan begitu. Aku cuma ngga mau dia menyakitimu dan anak kita. Pricilla itu bisa melakukan apa saja" jelas Gibran
Gania hanya diam lalu mengangguk menuruti kemauan sang suami.
__ADS_1