
Dalam perjalanan pulang hingga setibanya di rumah, Gania tetap diam tak berkutik. Begitu turun dari mobil ia juga mendahului langkah Gibran untuk lebih dulu masuk kamar. Hingga Gibran frustrasi dibuatnya.
"sayang, aku mohon percaya sama aku" Gibran memohon
"tadinya aku masih ada rasa percaya mas, tapi setelah kita mendapatkan ini..." ucap Gania sambil memperlihatkan amplop berisi surat hasil tes kehamilan dari Rumah Sakit
"tapi, belum tentu itu benar. Tidak ada keterangannya jika itu anakku"
"lalu apa kamu punya rencana untuk membuktikannya?"
"aku akan melakukan tes DNA"
Gania diam, ia hanya memandang haru Gibran.
"aku mohon, kamu harus percaya sama aku" Gibran memegang tangan Gania
"melakukan tes DNA pada janin adalah resiko besar" ucap Gania sambil melepaskan tangannya yang di genggam Gibran
"tapi kamu butuh bukti kan? Aku harus gimana lagi biar kamu percaya?" Gibran frustrasi
Lagi-lagi Gania hanya bisa menangis, baru beberapa hari ini hubungannya membaik namun kini hubungan itu sudah keruh lagi.
"lakukan apa yang ingin kamu lakukan mas, maafkan aku yang belum bisa mempercayaimu" ucap Gania terbata-bata karena tangisannya
"aku akan membersihkan namaku, tenangkan dirimu terlebih dahulu"
Tanpa pamit, Gibran langsung berlalu begitu saja, meninggalkan Gania sendirian.
"sayang, maaf ya Mommy sedih" ucap Gania sesenggukan sambil membelai perut besarnya
Tak lama kemudian, baby di dalam perutnya aktif menendang dengan kencang hingga membuat Gania merasa kesakitan.
__ADS_1
***
Gibran kembali ke Butik Pricilla untuk menjemputnya.
"dimana Pricilla?" tanyanya dingin pada karyawan Pricilla
"ada di atas Pak, sebentar saya panggilkan"
Kemudian salah satu karyawan naik ke lantai dua untuk memanggil Bos nya.
"Bu Bos, ada yang mencari" ucapnya
"siapa?" tanya Pricilla yang sibuk memainkan ponselnya
"Bapak yang tadi kesini"
Setelah itu Pricilla pun turun dengan wajah penuh kemenangan.
"ikut aku" ucap Gibran dingin tanpa melihat wajah Pricilla, lalu berjalan cepat untuk masuk ke mobilnya.
Dengan senang hati, Pricilla pun mengikuti. Ia sangat percaya diri bahwa Gibran mempercayai akal busuknya.
"mau ajak aku kemana?" tanya Pricilla manja
Gibran hanya diam tak menjawabnya, ia hanya fokus berkendara dengan kecepatan kencangnya.
"Gibran, hati-hati dong"
"ada aku"
"ada anak kamu juga"
__ADS_1
Ucap Pricilla.
"jangan mimpi kamu punya anak denganku" jawab Gibran ketus
"apa kamu masih belum percaya? Semua bukti sudah terkumpul"
Setibanya di tempat tujuan,
"mari kita buktikan" lalu Gibran turun dari mobil
"Gi.. Gibran.. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Pricilla sambil membuntuti Gibran
"aku akan membuktikan apakah itu benar anakku, atau hanya akal-akalanmu!"
"memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Pricilla menantang
Gibran tak menjawabnya, hingga ia bertemu Dokter dan mengatakan bahwa ia akan melakukan tes DNA dengan janin di dalam kandungan Pricilla.
Wajah riang penuh kemenangan pun kini berubah menjadi wajah pucat penuh ketakutan.
"mati aku" ucap Pricilla dalam hati
"mari, saya akan mengambil sampel DNA" ucap salah satu perawat
"cepat!" ucap Gibran ketus
Pricilla sangat gugup saat ini, bagaimana jika rencana yang ia susun selama berbulan bulan akan menjadi berantakan?
Gibran lebih dulu masuk ke ruangan untuk memberikan sampelnya, setelah selesai Gibran pun keluar, kini giliran Pricilla yang memberikan sampel air ketubannya.
"tunggu" ucap Pricilla dengan wajah tegangnya
__ADS_1