
Setibanya di Indonesia, keduanya dijemput Pak Sopir. Tapi sebelum pulang ke rumah, mereka mampir dulu ke kantor Papa Surya karena Gibran bilang akan kesana hari ini.
Setelah tiba, keduanya turun dari mobil kemudian masuk ke ruangan Papa Surya.
"assalamualaikum Pa" ucap Gibran seraya masuk
"waalaikumsalam anak-anak Papa"
Kemudian mereka saling bersalaman.
Papa Surya mempersilakan Gibran dan Gania duduk di sofa. Gibran yang merasa lelah pun menyandarkan kepalanya pada badan sofa.
"ngomong-ngomong kalian ngapain ke Bangkok?" tanya Papa Surya
"ja.." ucap Gania tapi terpotong dengan ucapan Gibran
"buatin Papa cucu dong" ucap Gibran sambil mengelus rambut panjang Gania
Papa Surya terkekeh mendengar jawaban Gibran, sedangkan Gania membelalakkan matanya.
"oh iya katanya ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan?" tanya Gibran
"jadi begini, dua hari yang lalu Papa menghadiri acara kolega, disana Papa bertemu dengan Tante Erla dan Tante Erla bilang seminggu yang lalu dia melihat Sarah di bandara, tapi dia hanya sendiri dan membawa banyak barang"
"apa dia akan kembali tinggal disini?" tanya Gibran
Gania merasa tidak nyaman karena yang Papa Surya dan suaminya bicarakan adalah hal serius yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Gania berusaha mengalihkan pendengarannya, ia bermaksud untuk beranjak dari sofa tapi Gibran menahannya.
"mau kemana?" tanya Gibran
"eee...mau..." Gania gugup
"ngga usah pergi. Sekarang kamu istriku, kamu berhak tahu"
Kemudian Gania mengangguk pelan dan tetap duduk disamping Gibran.
__ADS_1
"belum ada yang tahu pasti" jawab Papa Surya
"apa dia diusir suami barunya? Rasanya aku ingin tertawa"
"entah Gi, Papa juga belum tahu lagi. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari Tante Erla"
"yang penting kita harus berhati-hati" imbuh Papa Surya.
Karena dirasa pembicaraan ini sudah selesai, Gibran dan Gania berpamitan untuk pulang.
***
Dalam perjalanan pulang, Gania hanya diam tak bergeming.
"hmm kenapa diam saja?" tanya Gibran
Gania tetap tak menjawab, ia hanya menatap mata Gibran.
"pasti dalam hatimu bertanya-tanya tentang Ibuku?" tanya Gibran lagi
"I...Ibu mas? Ibumu masih ada?" tanya Gania
"iya. Maaf sayang bukannya aku menyembunyikan, tapi ku rasa itu tidak penting"
"aku dan Papa sudah sangat lama tak berhubungan dengannya, wajahnya saja aku hampir lupa" imbuhnya
Gania menatap heran suaminya, bagaimana bisa ia berkata seperti itu.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Keduanya segera keluar dari mobil dan membawa koper bawaannya.
Karena lelah, mereka pun langsung naik ke atas dan mengistirahatkan tubuh di ranjang empuk milik keduanya.
"mas, aku bingung soal yang tadi" ucap Gania tiba-tiba.
Kemudian Gibran menidurkan kepalanya pada paha Gania.
__ADS_1
"apa kamu bertanya-tanya mengapa aku tidak mengenalkanmu padanya? Apa kamu juga berfikir mengapa aku tidak begitu akrab dengannya"
Gania hanya menatap heran, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga Gibran.
"baiklah, aku akan menceritakan semua" ucap Gibran, kemudian Gania mengangguk kecil.
"dulu aku tak diinginkan olehnya, karena dia adalah model ternama pada masanya. Dia menyalahkan Papa seolah-olah Papa memaksa menikahinya, padahal waktu itu keluarganya sedang bangkrut lalu Ayahnya meminta Papa untuk menikahinya"
"kenapa kamu tidak menyebutnya Ibu mas?" tanya Gania
"apakah dia pantas disebut Ibu?" tanya Gibran balik, lalu ia kembali bercerita.
"pada saat dia mengandungku, dia beberapa kali mencoba menggugurkanku tapi beruntung janinku kuat. Hingga dia kabur selama beberapa bulan karena ia malu tubuhnya berubah setelah mengandungku"
"setelah mendekati persalinan, dia kembali namun bersama lelaki, dia bilang ke semua keluarga bahwa lelaki itu kekasihnya"
Flashback
"tepat sekali semua ada disini, aku mau mengenalkan kekasihku" ucap Sarah tanpa dosa
"wanita macam apa kamu! Sadar Sarah! Kamu mengandung anakku!" bentak Surya
"anakmu kan? Haha setelah ku lahirkan, aku akan memberikan anak iki kepadamu, uruslah sendiri karena aku ingin berpisah darimu"
"beraninya kamu bilang seperti itu Sarah!" Surya mengayunkan tangannya dengan tujuan ingin menampar mulut istrinya itu namun tangannya lebih dulu di cengkram oleh kekasih istrinya.
***
Beberapa hari kemudian, lahirlah seorang bayi laki-kali tampan namun badannya sangat kurus karena hampir tidak pernah diberi nutrisi oleh Ibunya.
Setelah lahir, bayi itu harus menginap beberapa minggu sampai berat badannya memenuhi batas normal.
Dan Ibu Sarah pun kembali ke rumah sakit untuk menemui Papa Surya dengan tujuan memberi surat cerai.
Papa Surya hanya bisa pasrah, tapi ia tak putus asa. Ia mengurus bayi laki-laki bernama Gibran itu sendirian dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Flashback off