Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Gania boleh kuliah


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di Rumah Sakit, Papa Arya sudah di perbolehkan pulang dengan di dampingi perawat pribadi di rumah.


"akhirnya Papa kembali ke rumah ini lagi, Papa sempat berfikir kalau Papa akan kembali ke ...."


"sstt Papa. Pokoknya mulai sekarang Papa janji harus semangat lagi biar semakin membaik" ucap Gania yang juga tersenyum bahagia melihat Papa Arya pulang


"tapi Gania juga janji harus menerima Kak Gibran"


Gania menoleh ke belakang melihat Gibran yang mengeluarkan barang-barangnya dari mobil.


"dibantu ya" Papa menyuruh Gania membantu Gibran


Dengan berat hati Gania melangkah, tapi ini semua Gania lakukan demi sang Papa.


Setelah selesai, Gibran dan Gania masuk ke dalam rumah.


"Gania" panggil Gibran


"hmm" jawabnya


"kamarnya dimana? aku mau istirahat"


"kamar Gania ada di atas Gi" jawab Papa yang berada di ruang tamu


"Papa, ngga bisa"


"kenapa engga?" tanya Papa


Gania tidak bisa menolak, terpaksa ia harus menampung Gibran di kamarnya siang ini.


***


Kamar Gania


"luas banget kamarnya" ucap Gibran dalam hati

__ADS_1


"siang ini kamu bisa disini, tapi nanti malam kamu harus pindah ke kamar sebelah"


"lah? kok gitu?" Gibran mulai merebahkan tubuhnya


Gania menatap Gibran dengan tajam


"iyaiya nanti pindah"


Gania merasa gerah karena sejak pagi tadi ia sibuk mengurus Papa Arya.


Gibran mulai memejamkan mata, sedangkan Gania bersiap untuk mandi.


Setelah mandi Gania terbiasa hanya memakai handuk yang dililitkan, begitu juga di siang ini. Setelah membuka pintu kamar mandinya, ia baru ingat ada seseorang yang menghuni kamarnya.


"bodoh banget sih gue!" decis Gania


"mana lemarinya deket tempat dia tidur lagi"


Akhirnya Gania berjalan mengendap-endap agar langkahnya tidak didengar Gibran. Ia mulai mencari baju tapi sikunya tak sengaja menyenggol pintu lemari sehingga terdengar suara *dugg*


Gibran mulai terganggu, ia membuka matanya secara perlahan. Rasa kantuk dan lelahnya hilang seketika setelah melihat pemandangan indah tubuh mulus Gania.


Gania menemukan baju yang akan ia gunakan, setelah berbalik ...


"aaaaaaa!!!" Gania menjerit dan melemparkan bajunya begitu saja


Gibran auto menutup mata dan telinganya.


"hah baju gue!" Gania berjongkok dan menunduk mengambil bajunya yang jatuh ke lantai


Gibran kembali membuka matanya, dan pemandangan yang lebih indah mulai terlihat. Setelah Gania mengambil baju, Gibran kembali menutup matanya.


Gania buru-buru pergi meninggalkan Gibran dikamarnya.


"sial! " ucap Gibran lirih

__ADS_1


"kenapa bangun sih ini"


Baru pertama kali Ini Gibran melihat tubuh mulus wanita secara sangat terbuka. Hal itu menjadikannya ingin segera menyerang Gania, tapi di sisi lain ia ingat bahwa Gania belum bisa menerimanya.


***


Di lantai bawah


"liat mereka berdua jadi inget kamu sama Almh. Miranda" ucap Nenek kepada Papa Arya


"iya Bu"


"dulu Miranda cepet ya punya momongan. Kira-kira Gania gimana ya?"


"haha Ibu, aku tidak akan memaksa Gania untuk secepatnya punya momongan Bu. Untuk saat ini, Gania menikah dengan Gibran saja sudah cukup bagi saya" jawab Papa Arya


"mungkin Gania ingin melanjutkan kuliah Bu, aku tidak akan melarangnya kuliah yang terpenting ia sudah ada yang menjaga" imbuh Papa


"Gania boleh kuliah Pa?" Gania yang turun dari tangga itu mendengar ucapan Papa langsung berlari mendekati Papanya


"loh Kak Gibran mana?" tanya Nenek


"tidur mungkin" jawabnya sewot


"Gania pengen kuliah kan? Nanti kalau Kak Gibran udah bangun coba ajak diskusi"


"diskusinya sama Papa aja deh"


"hmm sekarang kan dia suamimu, jadi apapun itu harus diskusi dulu sama suami" ucap Papa membuat Gania cemberut dan tak menjawab


"ya udah Gania cari info dulu mau kuliah dimana" suruh Papa


"cari aja pakai komputer Papa di ruang kerja atas" imbuhnya


Kemudian Gania kembali ke lantai atas menuju ruang kerja Papa Arya untuk mencari informasi beberapa kampus.

__ADS_1


__ADS_2