
Pagi hari, Gania membuka matanya dan melihat badannya masih polos. Ia kemudian berjalan menyeretkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Pangkal pahanya kali ini benar benar terasa kaku akibat ulah Gibran semalam yang memakannya beberapa kali.
Gania masuk ke kamar mandi dan melihat dirinya di cermin. Ia geleng-geleng melihat leher dan dadanya banyak terdapat tanda merah. Kemudian ia melanjutkan aktivitas mandinya.
Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dan melihati sang suami yang sibuk membuat kopi.
"gimana? remuk?" tanya Gibran sambil menyeruput kopinya
"iya mas kamu tuh kayak buaya kelaparan tahu ngga" jawab Gania
Kemudian Gibran mendekatinya, dan mencubit kedua pipi Gania.
"habis kamu begitu menggoda" ucap Gibran
Gania salah fokus ke dada dan punggung Gibran yang terdapat beberapa bekas cakaran disana.
"ini kenapa mas?"
"kamu ngga tahu ya semalem ada beruang kutub kelaparan yang nyakar nyakar dadaku?"
"hah? Maksudmu aku?" Gania membelalakkan matanya
Gibran mengangguk dan menyeruput kopinya lagi.
"aku ngga sadar mas, aku kasih antiseptik sini" ucap Gania sambil menggeledah kopernya mencari kotak P3K.
"ngga usah sayang" tolak Gibran
__ADS_1
"ini ngga sebanding sama bekas merah yang kutinggalkan di lehermu" imbuh Gibran
Gania reflek mencubit lengan Gibran hingga akhirnya Gibran lari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gania berjalan untuk membuka gorden dan pintu kaca. Dilihatnya pemandangan sungai Chao Phraya, sungai utama di Thailand itu terpampang disana.
"jadi ngga pengen pulang deh" gumamnya sambil duduk di kursi yang berada ditempat itu.
Gania sibuk mengambil foto dirinya dan juga pemandangan sungai, tak lama kemudian Gibran keluar dari kamar mandi.
"dorrr" ia mengagetkan Gania
"aaa!" teriak Gania kaget, kemudian ia beranjak dari kursi lalu menjewer telinga suaminya.
Kemudian Gania melepaskan tangannya dari telinga Gibran dan kembali duduk di kursi lagi.
"katanya pengen jalan? sampe sini kok maunya dikamar aja?" goda Gibran sambil memegangi dagu Gania.
"gimana mau jalan-jalan mas, semalem aja kamu buat aku hampir ngga bisa jalan" jawab Gania sambil memanyunkan bibirnya.
"tapi kamu menikmatinya kan?" goda Gibran sambil gelendotan di lengan Gania. Hal itu membuat Gania merasa sangat malu hingga wajahnya memerah.
"kamu pengen kemana gitu ngga?" tanya Gibran
"pengen ke Phuket mas, tapi jauh aku males"
__ADS_1
"Pattaya aja kalo gitu?" Gibran mengajak Gania ke pantai
Kemudian Gania mengiyakan ajakan suaminya, lalu keduanya bersiap dan meluncur ke Pattaya.
Setibanya di Pattaya, Gibran dan Gania berjalan-jalan menyusuri pantai pasir putih itu.
Sesekali Gania berpose karena Gibran sedang mengambil gambarnya. Setelah lelah berjalan, mereka berdua duduk di gazebo tersedia. Tak lupa juga Gibran memesan beberapa makanan dan minuman.
"kamu suka sayang?" tanya Gibran
Gania mengangguk sambil menikmati minuman yang Gibran pesan. Keduanya pun berbincang-bincang dan bersenda gurau, dan tak lama kemudian muncullah sesosok wanita di hadapan mereka.
"sawadde kha Phi Gi" ucap wanita itu kemudian membuka kacamata hitamnya.
Gibran mengeriyitkan alisnya,
"aw Nong Da. Sawadde krub" ucap Gibran kemudian
Gania mendongak ke arah wanita itu, dalam hati ia bertanya-tanya siapa dia.
"yes, it's me. How are you? and who is this? is he your sister?" tanya wanita itu
"sabai dee (kabarku baik), and she is my wife, her name is Gania" ucap Gibran sambil merangkul Gania.
Wanita itu tersenyum kepada Gania dan Gania juga membalas senyumnya. Setelah itu keduanya saling berkenalan, ternyata wanita itu adalah salah satu teman Gibran sewaktu tinggal disini.
__ADS_1