Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Latihan


__ADS_3

Setelah sama sama sudah bersih, keduanya keluar kamar untuk sarapan. Gania masih bertanya-tanya tentang surprise yang akan diberikan oleh suaminya.


"aku tahu pasti kamu ngga sabar" tebak Gibran di sela sela aktivitas sarapan


Gania hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"sebentar lagi juga tahu"


Kemudian semua menghabiskan sarapan.


30 menit kemudian


Sebuah mobil datang dan parkir di depan garasi rumah.


"siapa itu?" tanya Gania dalam hati yang tak henti henti melihati mobil itu


"sudah datang" ucap Nenek kemudian menyambutnya


"selamat pagi" sapa seorang wanita yang usianya kurang lebih 30 tahun itu


"pagi, ini rumah kami" ucap Nenek


Kemudian Nenek mempersilakan wanita itu duduk, sedangkan Gania hanya mematung menyaksikannya.


"sini duduk" Gibran menarik lengan Gania


"saya Bidan Darika, adik dari Dokter Danar. Pasti semua sudah mengenal kakak saya"


"oh pantas mirip" celetuk Gibran tiba-tiba

__ADS_1


Semua tertawa mendengarnya.


"tadi malam Nenek menelfon kakak saya dan meminta salah satu rekan kerjanya kemari untuk melatih memandikan bayi, jadi kakak mengirimkan saya" jelas Bidan Darika


Nenek tersenyum sedangkan Gibran dan Gania mengangguk paham.


"ini surprisenya?" bisik Gania


"iya, selama ini kita belum pernah belajar kan"


Senyum Gania mengembang, mengingat sebentar lagi akan mempraktikkan hal ini kepada si baby.


"ini rencanamu atau rencana Nenek?" bisik Gania lagi


"rencanaku, tapi aku meminta Nenek mengubungi mereka" jawab Gibran


Kemudian Gania mengangguk, ia merasa sangat bahagia dengan apa saja yang berhubungan dengan bayinya.


Setelah itu Bidan Darika mengeluarkan phantom bayi yang ia miliki, kemudian mempraktikkan bagaimana cara memandikan bayi. Setelahnya, Gibran dan Gania bergantian mencobanya.


Tak hanya berlatih memandikan, tapi Bidan Darika juga mengajarkan bagaimana cara membedong bayi, cara menenangkan bayi, dan masih banyak lagi mengenai bayi.


Setelah selesai, Bidan Darika pun pamit.


"terimakasih mas, surprise darimu sangat berarti" ucap Gania kemudian mengecup pipi sang suami


"sama sama" kemudian Gibran membalasnya


Keduanya menghabiskan waktu siang ini dengan menonton televisi.

__ADS_1


***


Malam ini, malam kedua Gania tidur di kamar yang bukan miliknya. Meskipun masih di rumahnya, tapi rasanya tak se nyaman kamar pribadinya.


"kenapa hmm?" tanya Gibran sambil membelai rambut Gania


"ngga se nyaman kamar kita" rengek Gania


"sabar ya, kita ngga lama kok di sini" Gibran menenangkan Gania


"iya mas"


"udah lama nih Daddy ngga main sama baby" ucap Gibran kemudian mendaratkan bibirnya di perut Gania


"princessnya Daddy udah bobok ya?" tanyanya sambil membelai perut Gania


Tak lama setelah itu, baby pun mengirimkan tendangan di perut Mommynya, hingga Mommy Gania meringis di buatnya.


"awwhh"


"sayang, kalau nendang jangan keras keras. Kasihan tuh Mommy kesakitan" ucap Gibran lagi sambil terus membelai perut Gania


"aku ngga bisa membayangkan mas, kalau baby bisa jalan nanti pasti dia bakalan ngga ada capeknya kesana kemari"


"iya, kuat banget yang kayaknya"


Kemudian mereka bersenda gurau membayangkan masa depan keduanya dan baby mereka.


***

__ADS_1


Hari sudah pagi, meski Gania tadinya merasa tak nyaman tidur di kamar yang bukan miliknya, tapi entah mengapa malam ini ia merasa sangat nyaman tidur di pelukan suaminya.


__ADS_2