Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Tak pernah bosan


__ADS_3

Setelah puas jalan-jalan di pantai dari pagi hingga petang, kini Gibran mengajak Gania kembali ke Condominium.


Setibanya di condo, keduanya masuk dengan saling bergandengan tangan. Gania senang, Gania puas meski hanya jalan-jalan di satu tujuan.


Setelah tiba di kamar, Gania langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi tidak dengan Gibran, seperti biasa ia selalu merebahkan dirinya terlebih dahulu setelah dari perjalanan.


15 menit kemudian Gania keluar dengan menggunakan handuk yang dililitkan.


Gibran berkali-kali menelan salivanya, ia melihati kedua gunung dibalik handuk yang kini sudah lebih berisi.


"sayang kamu hanya memakai itu apa kamu mau menggodaku" ucap Gibran


Gania yang sedang mencari piyamanya pun menoleh ke arah Gibran.


"yaampun mas aku gini dibilang godain kamu. Yang tadi di pantai bukannya lebih terbuka dari aku? Berarti kamu sangat tergoda?"


"engga sayang, kamu tuh beda" bisik Gibran sambil menabrakkan kedua hidung mereka.


Gania tahu Gibran akan menyerangnya, kemudian ia punya ide untuk menyerang Gibran terlebih dahulu.


Dengan cepat Gania menggigit bahu Gibran hingga membuat Gibran teriak kesakitan.


"aargh"


"udah ah mandi dulu sana" ucap Gania kemudian mendorong tubuh Gibran


"oke habis mandi ya"


Gania hanya geleng-geleng kepala, kenapa suaminya tak pernah bosan menyerangnya.


15 menit kemudian Gibran selesai dengan aktivitas mandinya, ia keluar dengan hanya menggunakan celana saja tanpa menggunakan kaos.

__ADS_1


Gania tak mengedipkan mata saat melihat tubuh sixpack suaminya.


"are you ready honey?" ucapan Gibran membuat Gania mengalihkan pandangannya.


"mas aku capek"


"yaudah kamu tiduran aja, aku yang akan mengatur semua. Biasanya juga gitu kan"


Ucapan Gibran membuat Gania sangat malu dan wajahnya memerah. Seperti biasa, Gibran mencoba melakukan pemanasan. Tapi belum sampai Gania panas, ponselnya lebih dulu berbunyi.


"angkat dulu mas" ucap Gania yang dengan cepat melepaskan pagutan mereka


Gibran menghembuskan nafas dengan kasar kemudian mengangkat panggilan itu.


"Hallo Pa"


.....


......


"mungkin besok"


......


"baik Pa, besok aku akan kesana"


Setelah panggilan diakhiri, kemudian Gibran meletakkan ponselnya lagi di nakas.


Kemudian ia mengulangi pemanasan yang belum terselesaikan tadi. Tangannya tak tinggal diam, kini tangan Gibran sudah berada di tempat favoritnya sampai membuat Gania menggeliat kesana kemari.


"gimana? mau?" tanya Gibran

__ADS_1


Gania kemudian mengangguk dengan tatapan sayu.


Dengan cepat, Gibran pun segera melancarkan aksinya. Meski lelah, tapi Gania selalu menerima Gibran dengan baik hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama.


"terimakasih sayang, kamu selalu menuruti kemauanku" ucap Gibran sambil mengelus pipi Gania


"me too dear. Thank you for always taking the time for me" balas Gania


Setelah itu keduanya kembali membersihkan diri mereka masing-masing.


***


Gania mengerjapkan matanya, ia melihat ke arah gorden sepertinya matahari sudah naik. Dan benar saja, ia melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 07.35 waktu Bangkok.


Ia menggeliat ke kiri, tapi ia tak lagi menemukan keberadaan Gibran.


"mas" panggil Gania


"mas" panggilnya lagi, tapi tak ada jawaban


Kemudian ia segera beranjak dari ranjang untuk mandi karena pagi ini ia akan pulang ke Indonesia.


15 menit kemudian, ia menyudahi aktivitas mandinya. Ia membuka pintu kamar mandi dan kini Gibran telah kembali.


"darimana mas?" tanyanya


"dari bawah, sini sarapan dulu abis ini kita pulang"


Gania menuruti perintah Gibran untuk sarapan.


30 menit kemudian mereka berdua terbang kembali menuju Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2