Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Tanggung jawab


__ADS_3

"makasih mas" ucap Gania sambil membantu Gibran menurunkan bibit bibit strawberry dari mobil.


"udah baikan moodnya?" tanya Gibran


"udah"


Kemudian keduanya membawa bibit bibit itu ke kebun belakang untuk ditanam disana.


"mas, aku ngrepotin kamu ngga sih?" tanya Gania tiba-tiba


Gibran kemudian menoleh ke arah istri kecilnya itu sambil mengerutkan dahi.


"kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya Gibran lalu tangannya kembali bekerja mengisi pot dengan campuran tanah dan pupuk.


"ngga tahu, tiba-tiba aja kepikiran kayaknya aku ngrepotin kamu, apalagi kamu selalu pergi sendiri dan ngga mau pake bantuan oranglain" kemudian Gania mengikuti apa yang Gibran lakukan.


"sayang, Papa Arya sudah menyerahkanmu kepadaku. Kamu itu tanggung jawabku, jadi apapun yang kamu inginkan aku harus siap melakukan. Aku tidak mau melibatkan oranglain karena aku merasa aku masih mampu melakukannya sendiri, apalagi untuk istriku yang cantik ini"


Kemudian Gibran memeluk hangat Gania, sedangkan Gania tersenyum lega dan sangat bahagia. Tapi.....


"hah? Mas kamu sentuh aku?" tanya Gania kemudian melepaskan diri


Gibran mengangguk menjawab pertanyaan Gania.


"aaaaaaa!" teriak Gania


"aku bau pupuk!" teriaknya lagi


Gibran yang melihat Gania heboh pun tertawa terbahak-bahak. Nenek yang melihat kedua cucunya dari dapur pun ikut tersenyum lega, karena Papa Arya tidak salah pilih menantu untuk menjaga putrinya.

__ADS_1


Setelah itu Gibran kembali merayu Gania agar kembali mengurusi bibit strawberrynya.


"sayang, aku sudah membelikan ini untukmu. Sekarang kamu harus bertanggung jawab merawat mereka hingga berbuah manis"


"seperti kamu merawatku?" ucap Gania sambil menaik turunkan alisnya


"iya, tapi sepertinya bibit yang ku tanam di dalam belum tumbuh hahahaha"


"iiihhh" Gania mencubit lengan Gibran.


***


Malam ini udara sangat dingin, lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Gania membenamkan tubuhnya dibawah selimut tebal miliknya, sedangkan Gibran kali ini menyibukkan diri dengan bermain game online di meja.



"hmm" jawab Gibran cuek karena ia sedang fokus bermain game


"aku gabut" ucap Gania


Tapi kali ini tak ada jawaban dari Gibran, entah karena Gibran tak mendengar atau karena ia malas menjawabnya.


"iiihhh kok ngga dijawab sih" gerutu Gania lirih


Kemudian tinggg! muncul ide jahil dalam pikiran Gania. Ia melangkahkan kakinya ke arah Gibran lalu memeluk dan menciuminya.


Gibran terkejut karena Gania berubah agresif.


"sayang kenapa sih? jangan dulu ih" ucap Gibran sambil menggoyangkan badannya agar Gania melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"aku gabut" ucap Gania kemudian ia semakin mengeratkan pelukannya hingga benda kenyalnya menempel di punggung Gibran.


"aduh jangan ganggu aku dulu yang, aku dikit lagi menang"


Saat Gibran sedang menyerang lawan, tiba-tiba jari Gania mendarat di layar ponsel Gibran dan menggerakkannya kesana kemari. Hingga akhirnya suara "you has been slain" pun terdengar.


"sayanggg" kesal Gibran sambil memperlihatkan wajah geramnya.


"kamu melarangku bermain game karena kamu ingin bermain denganku ya?" ucap Gibran sambil menyipitkan matanya dan meletakkan ponselnya di meja.


Gania kemudian membulatkan matanya.


"matilah aku, dia akan memakanku" ucap Gania dalam hati


Gania terus mundur sampai jatuh ke ranjang, sedangkan Gibran terus tersenyum nakal sambil membuka kaosnya secara perlahan.


"stop!" ucap Gania kemudian


Bug


Ia mendaratkan sebuah bantal pada perut Gibran. Gibran semakin gemas lalu ia semakin cepat berjalan ke arah Gania berada.


"makin berani ya kamu" ucapnya sambil menggelitik perut Gania


"ahahaha ampun mas"


"baiklah, sudah malam ayo tidur"


"eh tumben" gumam Gania lirih kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2