Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Kejadian dipenjara


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu, saat Khan dan Diana masih berada dipulau. Gina mengunjungi kembaranya dan membawakan makanan untuknya. Setelah berbulan-bulan tidak menemuinya, membuat Gina trenyuh dan akhirnya hatinya tergerak untuk mengunjungi Fina.


Gina datang seperti biasa, saat jam makan siang dikantor, dia segera pergi ke restoran untuk memesan makanan yang enak untuk kembaranya. Hatinya terlalu baik dan tidak ingin membalas perlakuan kembaranya yang sangat buruk padanya.


Tiba dipenjara, seperti biasanya, mereka berada didalam ruangan dan Fina memakan apa yang dibawa Gina. Mereka berbicara layaknya saudara. Fina, juga memperlakukanya dengan baik kali ini. Gina sempat berfikir jika Gina sudah berubah.


"Terimakasih, makananya sangat enak, kak," kata Fina lalu membersihkan sisa makanan yang tersisa didekat bibirnya.


Gina menyodorkan minuman padanya.


"Jika kau suka, lain kali aku akan membawakanya lagi untukmu," kata Gina.


"Iya kak," jawab Fina lalu mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan itu. Dia melihat cctv agak lama dan menunduk melihat lantai seakan sedang memikirkan sesuatu. Gina tidak mencurigai apapun.


Tiba-tiba, ada teriakan dari beberapa sipir, jika ada kebakaran didapur umum tempat para napi memasak. Dan seketika itu juga listrik dipadamkan.


Gina yang takut gelap, menjadi teringat kembali pada trauma saat dia disekap didalam ruang gelap dibawah tanah. Tiba-tiba Gina pingsan dan hal itu membuat Fina kaget.


Fina lalu mendekatinya dan akan memeriksanya. Namun iblis didalam hatinya mulai menggodanya kembali.


"Kesempatan," sebuah kalimat tiba-tiba seperti muncul didalam hatinya. Seketika itu juga, Fina yang tadinya akan menolong kembaranya, menjadi berubah pikiran.

__ADS_1


Dia segera melepaskan semua baju kembaranya dalam keadaan gelap. Lalu mengacak-acak rambutnya dan menghapus semua tiadanya. Kini Guna telah memakai baju napi dalam keadaan tidak sadarkan diri, sedangkan Fina telah memakai baju Presdir miliknya. Dengan cepat Fina merias dirinya sebagaimana biasanya Gina berdandan.


Setelah selesai merias diri, tiba-tiba lampu menyala dan Fina menarik nafas lega. Kina dia bukanlah Fina, tapi nyonya Gina. Dan dengan senyum sinis beraura jahat, dia memanggil sipir.


"Pak, tolong kemari!" teriak Fina.


"Saudara saya mengalami pobia gelap. Dia teringat kembali pada trauma dimasa lalunya. Dan jika sudah begitu, maka biasanya mentalnya akan terganggu," kata Fina.


"Baik Bu, lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya sipir penjaga itu.


"Pak, saya mau ruangan khusus dan berapapun akan saya bayar. Saya tidak ingi terjadi hal yang buruk dengan saudara saya meskipun dia sedang menjalani hukuman," kata Fina.


"Baik Bu, mari ikut saya," kata Bapak itu dan mendudukan Gina diatas kursi roda dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Kalau begitu, saya permisi," kata Fina lalu menyelipkan uang yang dia ambil dari tas Gina kekantong sipir itu.


Sipir itu mengangguk dan melihat padanya sambil tersenyum.


"Pak, kalau ada apa-apa, hubungi saya. Jangan menghubungi siapapun selain saya. Karena hanya saya yang tahu persis keadaan kembaran saya itu. Saya akan membawa dokter nanti satu jam lagi," kata Fina lalu pergi melenggang bebas dan menghirup udara segar.


Fina segera berfikir keras saat keluar dari kantor polisi. Dia tidak ingin usahanya kali ini sia-sia setelah berhasil bebas. Maka dia melihat sebuah klinik dokter tidak jauh dari kantor polisi itu.

__ADS_1


Fina lalu masuk kedalam, klinik itu nampak sepi pengunjung, dan rupanya beberapa meter disebelah Utara ada klinik juga yang lebih rame. Maka Fina segera memilih klinik yang sepi agar bisa bernegosiasi.


Dia disambut dengan senyum oleh dokter yang sedang duduk dengan memegang kepalanya.


"Anda adalah pasien terakhir saya. Karena klinik ini akan segera saya tutup," kaya dokter itu.


"Kenapa?" tanya Fina sangat tertarik dengan kalimat terakhir. Mungkin dia bertemu orang yang tepat, dan butuh bantuan, itu yang Fina pikirkan.


"Klinik ini sepi dan saya rugi jika membukanya, maka akan saya tutup," kata dokter itu.


"Saya akan menjadi pasien setia anda. Dan saya akan membayar berkali lipat sebanyak yang anda mau," kata Fina.


"Apa!?" Dokter itu menatapnya tidak percaya.


"Ya, dengan perjanjian dan beberapa syarat," kata Fina.


"Baiklah, saya setuju apapun syaratnya," kata dokter itu lalu Fina memberikanya cek kosong dan membisikan sesuatu di telinganya.


Fina tidak ingin tembok mendengar kalimatnya maka dia berbisik sangat lirih ketelinga dokter itu.


"Baiklah, saya setuju," kata dokter itu yang sedang membutuhkan uang yang sangat banyak saat ini.

__ADS_1


Mereka lalu meninggalkan klinik dan pergi ke penjara untuk memeriksa Gina.


__ADS_2