
Amaya sudah menemukan pulau untuk menyimpan semua harta milik suaminya. Dia membawa emas batangan kesana bersama Robert dan anak buahnya. Ada Tom juga yang merupakan orang yang dipercaya oleh Harun Malik, ayah Andy.
Mereka rakus akan harta hingga menyembunyikan peti-peti berisi emas batangan kesebuah pulau tidak berpenghuni. Karena mereka punya banyak kapal, tentu pergi dari satu pulau ke pulau yang lainya terasa sangat mudah.
"Kau yakin pulau ini tidak berpenghuni?" tanya Amaya.
"Ya. tidak ada orang yang tahu tentang pulau ini." kata Tom.
"Ayo kita keluarkan peti-peti itu," kata Amaya.
Robert dan Tom lalu mengeluarkan semua peti dari kapal. Mereka membawa ketengah hutan. Dan memang hutan ini sepertinya belum pernah dijamah oleh manusia. Tidak ada tanda kehidupan didalam hutan itu. Bahkan dalam peta sekalipun, pulau itu terlewatkan.
"Istirahat dulu, aku lelah," kata Amaya.
Mereka lalu beristirahat.
"Mungkin banyak binatang buas disini, kita harus hati-hati," kata Amaya.
"Aku membawa senapan, jadi tidak usah khawatir," kata Tom.
"Ayo kita lanjutkan lagi, hari keburu malam," Robert mulai berjalan dengan pelan.
"Ya, saat malam hari, binatang buas lebih ganas, dan tidak terlihat,"
Amaya segera bangkit dan menarik peti juga. Mereka membawa lima peti berisi emas batangan. Dua dibawa oleh Robert, dua dibawa oleh Tim, dan satu ditarik oleh Amaya.
"Apakah masih jauh?" tanya Amaya.
"Tidak. Sumurnya ada ditengah hutan dan sebentar lagi sampai."
"Baiklah,"
"Kenapa kita harus menaruhnya kemari? Kenapa tidak kita kubur aja dihalaman atau ditanam milik kita?"
"Tidak aman!" Seru Amaya. "Anak buah Malik ada dimana-mana. Kau pikir kita punya waktu untuk menggali dan menguburkannya?"
"Bagaimana jika disini juga tidak aman?" tanya Robert.
"Mereka tidak akan datang ke pulau tak berpenghuni. Untuk apa?" kata Amaya.
"Yang ibumu katakan benar. Kita menyimpan harta ini bukan untuk sehari dua hari. Tapi untuk bertahun-tahun dan itu sangat lama. Harus ada tempat yang aman yang tidak terlihat oleh siapapun," kata Tom.
__ADS_1
"Dimana kita akan menyimpannya?"
"Ada sumur tua disana. Tidak akan ada yang tahu jika didalamnya ternyata kita menyembunyikan semua peti ini," kata Tom.
"Sudah hampir sampai," Tom segera berlari kecil menuju sumur itu. Dia sudah memberikan petunjuk disetiap pohon yang agar tidak tersesat saat mencari sumur tua itu.
"Hutan ini begitu luas. Jika tidak ada petunjuk tanda maka pasti tidak akan bisa menemukanya lagi." ujar Tom.
"Otakmu cerdas juga,"
"Aku memberi tanda pada setiap pohon. kita tinggal mengikuti arahnya saja."
Mereka lalu sampai dipinggiran sumur itu. Sumur itu lumayan dalam. Mereka tidak perlu menggali untuk menyimpan emas itu. Mereka lalu melemparkan peti itu kedalamnya. Tidak akan rusak karena peti itu terbuat dari baja. Mereka sudah menggemboknya dan tidak mudah dibuka.
"Kita akan menutupnya dengan ranting pohon dan daun kering," kata Tim yang sudah menarik ranting pohon dan melemparkanya kedalam sumur itu.
"Kita tidak boleh menyimpan uangnya didalam satu tempat." kata Tom setelah selesai menutupi sumur tua itu dengan ranting kering.
"Disini cukup lima peti saja. Lain kali kita akan mencari hutan yang lain lagi untuk menyimpannya." kata Tom.
"Ya, yang kau katakan benar juga." kata Amaya.
Lewis tidak sengaja berpapasan dengannya. Lewis mengangguk hormat pada mereka. Meskipun dia membenci mereka bertiga tapi tetap saja dia harus menghormatinya. Dia bekerja dan tidak boleh terlalu kelihatan jika dia tidak menyukainya.
Lewis juga tahu jika ada hubungan gelap antara Tom dan Amaya. Tanpa bukti dia tidak bisa mengadukannya pada Tuan Harun Malik. Jika diadukan maka, Amaya pasti berdalih dan dengan mudah berkilah dan Lewis tahu jika mulutnya berbisa.
Tiba-tiba Amaya memanggilnya,
"Ya, ibu memanggil saya?"
"Apakah Tuan mencari saya?" Tanya Amaya.
"Tidak."
"Ya, saya hanya berkeliling bersama Tom dan Robert."
Lewis mengangguk hormat.
Amaya segera berlalu dan masuk kedalam mobilnya.
Tuan Harun Malik sedang melihat pembuatan kapal pesiar pesanan seorang raja tetangga. Dia nampak berbicara dengan Bondan.
__ADS_1
"Berapa lama lagi kapal ini akan jadi?"
"Dua bulan tuan," jawab Bondan.
"Kau sekarang jarang terlihat bersama putraku Andy."
"Ohh, Andy punya kesibukan lain. Dia juga mulai berbisnis."
"Benarkah? Itu kabar yang bagus. Jika tidak, uang dan aset yang aku berikan padanya tidak akan berkembang,"
"Dia jauh berbeda dengan kakaknya Robert. Tapi aku senang dia mulai tertarik dengan bisnis," kata Tuan Harun Malik.
"Sekarang Khan lebih senang dengan dunianya. Tapi aku senang, daripada dia berdiam dikamar terus dan tidak tahu dunia luar," kenang Tuan Harun Malik.
"Ya, banyak perubahan yang terlihat sejak dia sering menghabiskan waktu diluar rumah,"
"Pria harus begitu. Dia harus sering berada diluar dan melihat keadaan. Jika dikamar terus apa yang akan berubah? Tidak ada," kata Tuan Harun Malik tertawa kecil pada Bondan.
Bondan juga tersenyum melihat kearahnya.
"Pa, papa disini?" tanya Amaya yang tidak sengaja melihat suaminya ditempat pembuatan kapal.
"Ya, kau dari mana?" Tanya Tuan Harun.
"Hanya berjalan-jalan sebentar dengan Robert."
"Apakah papa sudah makan? Jika belum, mari kita akan ke restoran," kata Amaya.
Tuan Harun Malik mengangguk dan bangkit mendekati istrinya. Mereka lalu pergi ke restoran untuk makan bersama.
Sementara Andy dan Diana sudah sampai dihutan. Mereka mencari kesetiap tempat di dalam hutan itu, tapi tetap tidak menemukan sebuah sumur pun.
"Mungkin dibelakang bukit ini," kata Diana.
"Tapi, terlalu beresiko, kami tidak pernah kehutan di belakang bukit ini. Ayah melarangnya," kata Diana.
"Jika begitu, ya sudah kita pulang saja. Lain kali kita akan pergi kebelakang bukit untuk melihat apakah ada sumur atau tidak."
"Belum pernah ada warga kami yang pergi kesana. Hutan disini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, jadi kami tidak pergi ke hutan dibelakang bukit. Masih banyak binatang buas disana."
"Ya sudah, ayo kita pulang, kau pasti sangat lelah," kata Andy dan mengajak Diana untuk pulang karena dia melihat Diana sudah sangat kelelahan.
__ADS_1