
Khan saat ini sedang duduk dikantornya, melihat berkas diatas meja, memainkan pulpen dengan salah satu tanganya, lalu setelah membubuhkan tanda tangan maka Khan menutup berkas itu.
Tepat saat dia menutup berkasnya, Haidar masuk dan mengangguk pada Khan.
"Duduklah," kata Khan mempersilahkan Haidar untuk duduk.
"Terimakasih pak," Haidar membawa data dirinya dan menyerahkannya pada Khan. Saat melihat tanggal lahir Haidar, Khan terkejut karena ternyata mereka dilahirkan dihari yang sama.
Besok Khan akan berulang tahun, semua pegawai sudah menyiapkan pesta untuk merayakan ulang tahun bosnya.
"Oke. Kau bisa bekerja hari ini. Kau juga bisa tinggal disini bersama karyawan yang lainya," kata Khan lalu menatap Haidar.
"Baik pak, terimakasih,"
"Ikutlah denganku," Khan lalu keluar diikuti oleh Haidar. Khan pergi ketempat Bondan. Khan akan meninggalkan Haidar pada Bondan dan karena dia belum berpengalaman maka dia akan melihat Bondan bekerja dan Haidar cukup mendengarkan perintah dari Bondan saja. Khan berfikir jika Bondan membutuhkan asisten untuk membantunya.
"Ok, baiklah, saya tinggal dulu. Kau akan bekerja bersamanya," kata Khan lalu pergi meninggalkan kantor itu.
***
Gina, ibunya Khan mengadakan rapat mendadak hari ini. Dia ingin tahu perusahaan yang dulu dia tinggalkan sudah berkembang sejauh mana.
Khan yang mendapat telepon mendadak dari Sony sangat terkejut. Tapi akhirnya dia berjalan dengan cepat ke ruang ibunya. Ibunya ingin ikut mengelola perusahaan itu seperti dulu saat dia masih muda.
Khan sampai diruangan yang sudah dipersiapkan Sony untuk ibunya. Ruanganya bersebelahan dengan ruangan Khan. Sony yang mempersiapkan semua itu.
"Ibu, ini kejutan," kata Andy dan memeluk ibunya yang terlihat berkarisma setelah sembuh dan kembali pada kebiasaanya dimasa muda.
"Ibu akan ikut mengelola kantor peninggalan ayahmu, apakah kau keberatan?"
"Tentu saja tidak, aku senang mendengarnya," kata Khan.
"Tadi ibu kerumah sebelum kesini. Ibu bertemu dengan istrimu, Diana. Dia wanita yang anggun dan cantik, ibu menyukainya,"
"Terimakasih Bu, semoga Diana tidak membuat kesalahan,"
"Kesalahan apa maksudmu, dia adalah menantuku, dia belum berpengalaman, aku akan mengajarinya banyak hal. Jika dia bosan dirumah, ajaklah kemari, dia juga bisa membantumu dikantor,"
Andy tersenyum melihat wajah ibunya.
"Tidak, dia lebih senang dirumah," kata Khan.
"Itukan menurutmu, tadi dia bilang bosan. Berikan dia kegiatan menyulam atau membuat sesuatu, dia tidak akan merasa bosan dirumah, jika kau tidak ingin dia ke kantor,"
"Baiklah, aku akan mengajaknya," jawab Andy. Tidak mungkin bekerja di kantor, karena Diana berasal dari pulau, dia bisa membaca dan menulis, tapi dia tidak mempunyai pengalaman seperti orang yang sekolah atau kuliah pada umumnya.
Pekerjaan kantor tidak mudah baginya, dia berbeda dengan gadis yang lainya, itulah kenapa Andy menyuruhnya untuk tetap dirumah.
Sedangkan bagi ibunya, alasanya untuk ikut andil dikantor tidak lain karena dia ingin tahu aset dan banyak hal yang ada sangkut pautnya dengan harta suaminya. Bagaimana pun Andy adalah anak yang tertukar meskipun dia menganggapnya anak sendiri. Sementara putra kandungnya atau pewaris sebenarnya belum ditemukan.
Jadi dia ingin tahu banyak tentang semua harta suaminya dan aset suaminya demi anak yang sedang dia cari.
Setelah Andy keluar dari kantor, Gina berjalan-jalan ketempat pembuatan Kapal. Disana dia melihat Bondan, namun dia tidak begitu mengenalnya. Dia hanya tahu jika Bondan sering bertemu dengan Andy dan mahir dalam membuat model kapal.
Ada Haidar juga disana, namun tidak terlalu menarik perhatian Gina.
__ADS_1
"Ibu Presdir," Bondan memberi hormat. Maka Haidar yang melihat Bondan memberi hormat, diapun segera menunduk.
Gina tersenyum pada mereka berdua. Gina lalu melihat ke sekelilingnya. Gina tampak mengangguk-angguk.
"Silahkan jika ingin melihat koleksi kapal. Mari saya antar keruangan saya," kata Bondan diikuti anggukan kepala oleh ibu Presdir.
Mereka lalu masuk kesebuah ruangan dan disana ada banyak gambar dan koleksi foto kapal yang sudah diabadikan setelah sekian lama. Ibu Presdir pasti telah melewatkan banyak hal selama puluhan tahun. Maka dia sangat terkejut dengan perkembangan perusahaan yang begitu pesat.
"Baiklah, aku akan pergi ke makam hari ini. Besok akan akan datang lagi untuk melihat yang lainya," kata ibu Presdir.
"Baik, saya akan dengan senang hati memberikan semua informasi yang anda inginkan." kata Bondan menghormati istri dari Tuan Harun Malik yang asli.
Apalagi sebagian perusahaan awalnya adalah milik keluarga istrinya dan menjadi satu karena pernikahan. Tentu istri tuan Harun Malik tadinya bukanlah orang sembarangan. Gina sekarang akan pergi ke kuburan suaminya.
Sementara Khan pulang dan langsung masuk kekamar ayahnya. Dia melihat beberapa foto saat dia masih kecil. Ada foto ibunya yang sedang menggendongnya. Ada foto mereka bertiga sedang bersama dan Khan dalam pangkuan ayahnya saat dia masih bayi.
Khan mengusap pipinya yang basah saat mengenang momen itu. Dia tidak pernah menduga, jika ternyata dia adalah anak yang tertukar. Ada anaknya yang asli, sang pewaris yang sesungguhnya yang lebih berhak atas semua miliknya.
Khan mulai berusaha berbesar hati untuk menerima kenyataan jika semua yang dia miliki suatu saat harus dia serahkan pada sang pewaris yang sesungguhnya. Harta baginya bukanlah sebuah masalah yang harus diperebutkan. Dia bahkan sudah punya perusahaan sendiri yang dia bangun dari nol, dinegara MX.
Khan lalu pergi kekamarnya. Diana sedang berenang dan tidak tahu jika dia sudah kembali. Khan menarik laci lalu mengeluarkan sebuah kotak berisi batu permata.
Dia tidak ingin siapapun memakai batu permata yang berenergi jahat, maka setelah acara ulang tahunya, Khan ingin membawa batu itu ke pulau dan beristirahat disana sejenak.
Apalagi sekarang ibunya sudah kembali. Ibunya akan menggantikan dirinya dalam mengurus perusahaan ayahnya, Khan bisa pergi dengan tenang ke pulau untuk menemui dua istrinya yang lain.
Khan lalu menyimpan batu permata itu kembali dan mandi.
***
Khan datang bersama Diana dengan bergandengan tangan. Ibunya sudah menunggunya didekat kue berukuran raksasa.
Khan mendekati ibunya dan memanggil satu orang lagi yang kebetulan punya tanggal lahir yang sama dengan dirinya.
"Hari ini bukan hanya aku yang berulang tahun. Ada orang lain juga yang punya tanggal yang sama. Maka aku juga ingin dia berdiri disini untuk meniup lilin bersamaku," kata Khan dan diikuti oleh tepuk tangan yang meriah oleh semua tamu yang hadir.
Ada Lewis dengan teman wanitanya yang berganti-ganti. Ada Sony dengan istrinya, Caroline. Dan Bondan juga ada disana dengan Haidar.
"Haidar, kemarilah, kau akan meniup lilin bersamaku. Kita punya tanggal lahir yang sama, bagiku, ini sangat menyenangkan."
Maka Haidar yang saat itu berdiri disamping Sony, segera melihat kesekeliling dan dengan malu-malu dia berjalan kedepan. Semua tamu tersenyum padanya karena dia sangat beruntung mempunyai tanggal lahir yang sama dengan Khan, bos nya. Orang mulai berfikir, hadiah apa yang akan Khan berikan pada karyawanya itu.
Ibunya merasakan sesuatu yang berbeda saat menatap Haidar. Gayanya berjalan mirip sekali dengan suaminya Harun Malik yang sudah tiada. Bahkan beberapa gerakan saat menoleh dan tersenyum sangat mirip dengan mendiang suaminya.
Namun Gina segera menepisnya karena dia pasti sudah berkhayal akibat terlalu banyak berfikir.
Gina mempersilahkan Haidar untuk berdiri disamping putranya.
"Kami tidak hanya memiliki tanggal yang sama, kami bahkan dilahirkan di tahun yang sama. Ini benar-benar amazing," teriak Khan dengan sangat gembira.
Deg. Gina terkejut karena Haidar mempunyai tanggal dan tahun kelahiran yang sama dengan Khan. Gina terus memperhatikan setiap gerakan Haidar, dan entah kenapa saat melihat cara Haidar tersenyum, dan bersikap, dia seperti melihat suaminya.
Gina menarik nafas berat dan saat ini Khan dan Haidar akan meniup lilin bersama-sama.
Tepuk tangan serta lagu dinyanyikan oleh para tamu yang hadir. Suasana menjadi sangat meriah dan setelah sekian lama, ini menjadi acara yang paling ditunggu oleh para pegawai.
__ADS_1
Khan memberikan beberapa hadiah untuk pegawai, melalui sebuah permainan untuk memeriahkan pesta malam ini.
Setelah acara selesai, Gina tanpa sengaja beradu pandang dengan Haidar, Haidar segera tersenyum ramah pada atasanya, sementara Gina berjalan ke arahnya.
Maka Haidar menjadi berdebar-debar saat harus berbicara pada Presdir diperusahaan itu, apalagi dia adalah pegawai baru.
"Selamat, kau juga berulang tahun hari ini," sapa Gina.
"Terimakasih Bu," jawab Haidar sopan.
Gina tersenyum ramah pada Haidar dan mulai bertanya tentang kehidupannya.
"Saya dibawa oleh pak Khan, saya tertabrak dan pak Khan menawari saya pekerjaan. Karena saya membutuhkan untuk masa depan maka saya menerima tawaran beliau," jawab Haidar menjelaskan.
"Kau baru disini?" Entah kenapa Gina mulai tertarik untuk tahu lebih jauh lagi.
"Ya baru dua hari Bu,"
"Kau tinggal dimana?"
"Dirumah Mas Bondan." jawab Haidar.
"Orang tuamu?"
Haidar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Gina menatapnya dengan tatapan abu-abu.
"Dikampung?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Saya dibesarkan dipanti asuhan, jadi saya tidak tahu siapa orang tua saya," dan saat mengatakan hal itu tiba-tiba teleponya berdering.
"Kak, segera datang kesini, ibu mengalami serangan jantung," kata suara diteleponnya.
"Bu, maaf, saya permisi dulu, Ibu panti, mengalami serangan jantung," kata Haidar lalu segera pergi meninggalkan pesta itu.
Sementara Gina masih berdiri dan terus memikirkan apa yang baru saja dia dengar.
"Kenapa kebetulan sekali. Aku hampir gila mencari keberadaan putraku, dan dia mengatakan di besarkan di panti asuhan. Ini pasti hanya kebetulan, aku terlalu berharap bahwa putraku segera ditemukan, dan aku mulai mencurigai semua orang," gumam Gina berbisik.
Setelah acara pesta, dan saat akan tidur dimalam hari, Gina terus teringat pada pertemuanya dengan Haidar. Karena memiliki tanggal dan tahun kelahiran yang sama dengan Khan, dibesarkan dipanti asuhan, dan memiliki ciri seperti suaminya.
"Ah, kenapa aku memikirkan dia lagi. Tidak mungkin, ini pasti tekanan dari rasa rindu itu, aku akan mencari lagi besok." Setelah menenangkan pikirannya, Gina akhirnya tertidur.
Keesokan harinya saat bangun, Khan sudah menunggunya dimeja makan bersama Diana dengan koper besar.
"Ibu, kami akan pergi ke kampung halaman Diana. Dia begitu merindukan kekuarganya, maka kami akan menginap disana satu sampai dua Minggu kedepan," Kata Khan.
"Baiklah, tapi kenapa mendadak sekali?"
"Sebenarnya kami sudah lama ingin pergi. Tapi karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan disini maka baru sekarang punya waktu yang tepat,"
"Baiklah, ibu akan mengurus semuanya. Kau bisa pergi dengan tenang," kata Ibunya lalu mereka sarapan bersama.
__ADS_1
Setelah sarapan, Khan dan Diana meninggalkan rumah besar dan pergi kepelabuhan. Sementara ibunya mencari anaknya yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaanya.