
Dua Minggu kemudian, Gina pergi menemui dokter dirumah sakit untuk meminta hasilnya, tadinya dokter mengatakan akan mengirim hasilnya kerumahnya, namun Gina terlalu khawatir suratnya mungkin akan dipalsukan oleh seseorang seperti kejadian saat dia melahirkan, akhirnya dia memutuskan untuk datang sendiri mengambil hasilnya.
Gina tidak bertemu dengan dokter itu, dan dia menemui asistennya. Rupanya dokter itu sudah menitipkanya pada sekretarisnya. Saat ini dokter sedang ada operasi yang berjalan dua puluh empat jam lamanya. Tidak mungkin mengganggunya saat sedang berada diruang operasi.
"Ini Bu,"
"Terimakasih,"
Gina menerima amplop berisi hasil tes DNA. Jantungnya berdebar kencang saat dia merobek ujung amplop tersebut. Tanganya gemetar saat dia membuka lembaran yang terlipat rapi itu.
Perlahan dia membuka dan membaca nama yang tertera diatasnya. Matanya semakin kebawah dan melihat jika hasilnya positif. Ternyata 99% hasilnya mirip dan saat itulah kertas itu terlepas dari tangan Gina.
"Putraku, dia....dia adalah anakku...." Gina bergumam dan tidak menyadari saat kertas itu terlepas dari tangannya.
Seorang suster kebetulan lewat dan melihat kertas itu terjatuh dari tangan Gina. Dia lalu mendekat dan memungut kertas itu dan memberikanya pada Gina.
"Bu, ini kertasnya jatuh," kata suster itu.
"Terimakasih," Gina segera menyimpan kertas itu kedalam tasnya.
Setelah itu Gina segera keluar dari rumah sakit dan pergi ke kantornya. Dia bertemu dengan Bondan di tempat pembuatan kapal.
"Bu Presdir," sapa Bondan dengan penuh hormat.
"Dimana temanmu?" tanya Presdir.
"Haidar?"
"Hari ini pulang lebih awal karena akan menjemput ibu asuhnya yang berada dirumah sakit," kata Bondan.
"Kapan dia kembali?" tanya Presdir.
"Saya tidak tahu. Dia tidak mengatakanya. Besok hari libur, kemungkinan kami tidak bekerja dihari Sabtu dan Minggu."
"Bisa menelponya?"
"Dia tidak punya handphone," kata Bondan.
"Ya sudah," Presdir terlihat kecewa dan segera berlalu. Sementara Bondan sudah bersiap untuk pulang karena besok semua karyawan libur dihari Sabtu dan Minggu.
Bondan memikirkan kenapa Presdir mencari pegawai baru itu? Tidak biasanya seorang Presdir peduli pada karyawan baru apalagi dia adalah karyawan biasa.
Sampai dirumahnya ternyata Haidar sudah berada dirumah Bondan. Bondan terkejut karena dia pikir Haidar akan menginap dipanti.
__ADS_1
"Kau disini? Aku pikir kau menginap dipanti malam ini, tadi Presdir nyariin kamu," kata Bondan lalu menaruh tas kerjanya.
"Apa? Kenapa? Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Aku sudah bilang jika aku pulang lebih awal tadi, apa kau tidak bilang jika ini mendesak?" tanya Haidar sangat cemas. Dia baru saja bekerja, dia khawatir kalau dipecat, maka dia akan menganggur lagi. Jaman sekarang mencari pekerjaan sungguh sulit, apalagi tidak kuliah dan hanya mengandalkan ijasah sekolah menengah.
"Jangan khawatir, kau tidak akan dipecat, sepertinya ada hal lainya," kata Bondan saat melihat wajah Haidar yang pucat.
"Aku sungguh khawatir,"
"Tenang, ini bukan kabar buruk, siapa tahu, Presdir sangat menyukaimu dan memasukkanmu kedalam kantornya," kata Bondan menghibur temanya.
Lalu dengan wajah memelas Haidar merebahkan dirinya di kasur.
Bondan tersenyum tipis melihat wajah Haidar seperti itu.
"Bagaimana kabar ibu panti? Apakah sudah sehat?" tanya bondan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah lebih baik dan lebih sehat sekarang," jawab Haidar lalu menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya dan menatap langit-langit kamar.
***
Keesokan harinya Andy berpamitan pada kedua istrinya karena dia akan kembali ke negaranya.
Naina dan Rossa berdiri berdampingan dan menatap kepergian Andy dengan wajah sedih.
Setelah berpamitan pada Tetua dan beberapa warga, maka Andy memeluk Naina lalu memeluk Rossa. Andy mengelus perut Rossa lalu tersenyum dan mencium keningnya.
"Jaga dirimu dan bayi kita,"
Rossa mengangguk dan bergantian memeluk Diana yang berdiri dibelakang Andy. Diana juga berpamitan pada istri Andy yang lain.
Setelah itu, Andy naik kekapal yang sudah dia siapkan dan diikuti Diana dibelakangnya. Andy lalu menyalakan mesin dan kapal itu perlahan meninggalkan pulau.
Mereka mengikuti rute perjalanan seperti yang ada dipeta yang disimpan Diana didalam tasnya.
Besok harinya Andy sampai dirumah besar, ibunya sudah duduk menunggu kedatangan mereka. Hari ini ibunya tidak kekantor karena masih hari libur. Diana segera kekamar dan beristirahat setelah menyapa ibu mertuanya.
Andy duduk didekat ibunya dan menyandarkan bahunya pada kursi yang empuk.
"Ada yang ingin ibu bicarakan," kata ibunya saat Andy sudah terlihat lebih segar.
"Ya, ada apa? Apakah ada masalah selama aku pergi?"
"Tidak, semua baik-baik saja. Ini tentang anakku...." Kata ibunya dan sesaatenatao Andy dengan ragu.
__ADS_1
Deg. Andy segera sadar, jika dia hanyalah anak yang tertukar, ibunya mungkin sudah menemukan anak kandungnya selama dia pergi, itu yang Andy pikirkan.
"Ya, saya mendengarkan," kata Andy.
"Ibu sudah menemukanya, tapi ibu belum memberitahukan padanya jika dia sesungguhnya adalah anak kandungku," kata ibunya menatap Andy.
"Kenapa?" Andy malah kaget, karena ibunya berusaha keras mencari putra kandungnya, tapi setelah bertemu, kenapa dia malah tidak berkata yang sesungguhnya.
"Karena ibu khawatir, dia tidak percaya apa yang ibu katakan," kata ibunya memikirkan masalah ini setiap saat selama kantor tutup.
"Apakah ibu sudah membuktikan jika dia adalah putra yang tertukar?"
"Ya, ibu sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya positif, dia memang putraku," kata ibunya.
"Kau yang membawa Haidar bekerja disini bukan?" tanya ibunya tiba-tiba.
"Ya, saya yang membawanya agar bekerja disini," kata Andy.
"Ketahuilah, sebenarnya, dia adalah putraku, dia anak yang aku lahirkan...."
"Apa!?" Andy terperanjat dan menatap ibunya lebih dalam.
"Kau pasti tidak akan percaya. Begitu juga ibu, ibu sulit mempercayai semua ini, tapi ibu sudah melakukan tes DNA padanya, dan hasilnya dia adalah putraku,"
Deg. Abdy menatap ibunya tanpa berbicara. Dia sungguh kaget dan tidak menduganya.
"Ini sungguh diluar dugaan. Dia begitu dekat tapi kita tidak tahu sebelumnya," kata Andy tertunduk.
"Bukan itu yang ibu pikirkan, ibu ingin saat semua orang tahu jika dia adalah putraku, dia sudah siap dan punya kemampuan untuk bertanggung jawab," kata ibunya.
"Maksud ibu?" Andy sangat bingung.
"Khan, kau buat dia belajar di universitas ternama dikota ini. Kau berikan dia beasiswa atau apapun dan kau buat alasan yang masuk akal lalu kirim dia agar belajar banyak hal disana," kata ibunya pada Khan.
Khan menoleh dan menatap ibunya dengan bingung.
"Tidak memberi tahu dia yang sebenarnya?" tanya Andy.
"Tidak saat ini. Setelah dia siap dan punya banyak pengetahuan maka orang tidak akan merendahkannya dan meremehkannya saat berita ini ibu umumkan," kata Ibunya pada Andy.
"Baiklah, jika itu keinginan ibu, maka aku akan mengatur semuanya besok pagi. Dan akan cepat mengirimnya ke universitas terbaik dikota ini," kata Andy.
Ibunya lalu menggenggam tangan Andy dan menatapnya.
__ADS_1
"Terimakasih...."