
Khan dan Diana sampai di pelabuhan lalu naik diatas kapal boat milik Khan. Mereka menaruh koper dan duduk diatas kapal. Kapal ini dirancang dengan kecepatan setara dengan pesawat terbang, dan kecepatannya belum ada tandingannya.
Muat sampai empat orang, bahkan badan kapal dibuat dengan sangat kuat terhadap ancaman badai ditengah laut. Mereka akan tetap aman sampai tujuan tanpa takut kehabisan bahan bakar. Ruang penyimpanan bahan bakar juga dibuat dengan sangat besar.
Andy duduk dibelakang kemudi setelah memakai seatbelt pengaman. Begitu juga dengan Diana. Dia segera memakai kacamata hitam agar terhindar dari sinar matahari yang terik ditengah laut.
"Lain kali aku akan membuat kapal pesiar dengan lapisan emas dan kolam renang didalamnya. Aku ingin membawa orang di pulau berjalan-jalan," kata Andy pada Diana.
"Aku suka idemu. Pergi bersama Naina dan Rossa dalam satu kapal pasti menyenangkan,"
"Aku akan segera mewujudkanya, setelah kita pulang dari pulau," kata Andy yang akan mengambil sebagian uang yang ada didalam sumur itu untuk sesuatu yang sudah dia rencanakan sejak lama.
Namun semua rencana itu sampai sekarang masih dia simpan dikepalanya dan belum dia lakukan.
Mereka sampai ditengah laut, yang nampak disekitarnya hanya air yang terbentang tak berujung.
"Kita ada ditengah laut, apa kau tidur?" tanya Andy menoleh pada Diana.
"Tidak, aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan para perompak atau ikan hiu yang mungkin datang tiba-tiba. Kau tahu kapal ini tanpa penutup,"
"Lalu?" Andy menoleh kearah Diana.
"Menurutku tidak aman," ujar Diana.
"Lain kali aku akan bilang pada Bondan untuk merancang penutupnya, kau biar tenang dan bisa tidur saat kita berlayar,"
Diana menoleh kearah Andy lalu tersenyum.
Mereka sampai kepulau tanpa ada perompak yang mengganggu ataupun ikan hiu. Segera Andy menyeret kapal boat itu dengan mengerahkan kekuatanya dan dia simpan kedalam goa.
Mereka lalu berjalan ke perkampungan setelah melewati hutan di samping rawa. Mereka menuju rumah tetua.
"Andy? Diana?" Tetua yang baru saja menuai jagung menjadi kaget dan segera menaruh karungnya. Tetua lalu berjalan kearah mereka berdua.
"Masuklah, kami sudah sangat merindukan kalian." Tetua lalu bersalaman dan mengajak anak serta menantunya untuk masuk kedalam.
"Dimana ibu?" tanya Diana.
"Ibumu masih di ladang, sebentar lagi kembali," kata Tetua dan melihat wajah Diana yang semakin cantik, setelah itu menatap perut Diana.
"Apakah ada kabar gembira untuk ayah?" tanya Tetua saat Andy pergi kekamar mandi.
"Kabar gembira apa maksud ayah? Hari ini Diana kembali dengan selamat itu sudah sebuah kabar gembira," kata Diana tersungut.
"Ayah ingin menimang cucu," kata Tetua.
Diana menggelengkan kepalanya.
"Ayah lupa apa kata Nyi Anker? Aku tidak bisa memberikan cucu untukmu," kata Diana.
"Siapa tahu ada keajaiban. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin," kata Ayahnya sambil melihat kearah Andy yang berjalan kearah mereka.
__ADS_1
"Kalian bicaralah, aku akan istirahat, aku sangat lelah," kata Diana lalu beranjak dari tempat duduknya.
Andy segera mengambil koper dan membuka gemboknya. Dia mengeluarkan kotak berisi batu permata dari dalam kopernya.
"Apa ini?" tanya Tetua saat Andy memperlihatkan sebuah batu diatas meja.
"Setelah memakai batu ini, aku menjadi orang lain. Aku selalu merasa ingin menghabisi setiap orang," kata Andy.
Tetua lalu mengambil batu itu dan melihat dengan teliti setiap bagian terkecil dari batu permata itu.
"Batu ini memiliki energi jahat, ada roh yang terperangkap disana," kata Tetua lalu meletakan batu itu pada sebuah keris pusaka.
Batu itu tiba-tiba meloncat menjauhi keris itu dan membuat Andy kaget dan matanya sampai terbelalak.
"Apa yang terjadi dengan batu itu?" tanya Andy.
"Kita akan mengeluarkan roh itu dari dalam batu. Dia terkurung didalam sana. Kita akan mengadakan acara memanggil nenek moyang nanti malam. Dan dengan bantuan nenek moyang, maka baru roh itu bisa keluar."
"Saya khawatir jatuh ke tangan orang jahat, karena itu saya bawa kemari,"
"Ya, kau melakukan tindakan yang benar," kata Tetua.
Sementara Gina mencari alamat beberapa nama yang sudah dia catat, dan dititipkan pada panti Asuhan Putra Anda dua puluh tahun lalu dihari yang sama dengan saat dia melahirkan putranya.
Gina menemui semua orang yang sekarang rata-rata mereka baru saja bekerja. Namun setelah menemui mereka, semua dari mereka tidak ada yang sesuai kriteria, rata-rata mereka dititipkan di panti asuhan karena orang tuanya tidak mampu.
Dan sekarang mereka semua sudah berkumpul kembali setelah bisa menghasilkan uang dengan orang tua kandungnya.
Berkat koneksinya pada beberapa bos perusahaan itu, maka Gina dengan mudah bisa menemui mereka.
Gina berjalan dengan pikiran kosong ke pelabuhan dan akan bertemu dengan beberapa pemegang saham yang ingin mengucapkan selamat padanya karena telah kembali.
Sampai ditempat pembuatan kapal, disana dia melihat Bondan dan Haidar sedang merakit sesuatu. Gina menatap Haidar dan bertanya-tanya didalam hatinya.
Ada penyangkalan dari lubuk hatinya jika dia adalah putranya. Dia lalu masuk keruanganya dan beberapa orang sudah menunggu kehadirannya.
"Selamat datang, kami senang anda kembali," kata seorang pemegang saham yang sudah mengenalnya sejak lama.
"Terimakasih, lama tidak berjumpa, kalian banyak berubah," gurau Presdir pada tamunya. Tamunya itu dulu satu universitas dan kuliah dengan jurusan yang sama. Badan mereka dulu semampai cenderung kurus, sekarang mereka berbadan empat kali lipat dengan perut besar dan kepala yang sedikit botak.
Mereka lalu tertawa dan saling berbagi cerita masalah perubahan pada perusahaan Harun Malik. Presdir mendengarkan dengan seksama dan merasa senang karena mereka mau bercerita banyak hal yang sudah dia lewati.
Hari menjelang malam, tamunya pulang dan Presdir keluar dari kantornya. Dilihatnya Bondan dan Haidar masih bekerja. Presdir lalu mendekati mereka.
"Kalian tidak pulang?"
"Kami lembur beberapa Minggu ini. Ada pesanan kapal yang ingin segera selesai. Mereka terus menelpon setiap hari dan terus meminta agar segera diselesaikan, jawab Bondan.
Tiba-tiba Haidar melepaskan bajunya karena terkena oli yang menetes. Dan hanya memakai koas dengan kerah sedikit kendur.
Dan saat itulah sesuatu menarik perhatian Presdir yang masih berdiri disana. Sebuah tanda yang dia kenali saat putranya lahir. Ada garis putih di belakang leher Haidar, dan tanda itu juga dia lihat saat dia melahirkan putranya.
__ADS_1
Namun saat itu dia mengira jika itu kotoran, karena begitu putranya selesai dibersihkan, tanda itu sudah tidak terlihat lagi. Dan Presdir tidak menyadari jika saat itu putranya sudah ditukar. Suster membawa anak orang lain kedalam pelukannya.
"Tanda?"
"Lagi-lagi aku berfikir jika dia yang paling mendekati semua teka teki sebagai putraku, tapi mungkinkah dia? Aku akan membuktikannya." kata Presdir dalam hati.
Tanpa sengaja Presdir melihat baju milik Haidar yang digantung tidak jauh dari situ. Lalu dia memegang baju yang digantung dan menemukan beberapa helai rambut yang rontok.
"Haruskah aku melakukan DNA padanya? Haruskah aku melakukan sejauh ini?" gumam Presdir dalam hati.
Karena sudah bertindak sejauh ini, maka Presdir menyimpan beberapa helai rambut Haidar yang rontok dan menyimpannya kedalam kantong plastik kecil.
Presdir kemudian masuk kedalam mobilnya dan pergi kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Presdir segera menemui dokter dan menyatakan keinginannya untuk melakukan tes DNA.
"Ini sampel rambutnya, dan ini sampel rambut saya," kata Presdir sambil menatap dokter didepanya.
"Kapan saya bisa melihat hasilnya dokter?" tanya Presdir yang tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.
"Paling cepat dua Minggu. Hasilnya akan keluar dua hingga empat Minggu kedepan," kata dokter.
"Baiklah dokter, jika begitu saya permisi, ini kartu nama saya," kata Presdir lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Setelah keluar dari rumah sakit Gina pergi ke kantor polisi. Dia akan menemui kembaranya Fina dan melihat keadaanya.
Setelah mendapatkan izin dan bisa bertemu Fina diruangan tertutup, Gina lalu duduk dan menatap dingin pada kembaranya. Fina menatap Gina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mencibirkan bibirnya melihat perubahan penampilan kembaranya dalam waktu yang singkat.
"Untuk apa datang menemuiku? Aku tidak membutuhkan simpatimu ataupun kunjunganmu!" ujar Fina sinis.
"Aku datang karena ingin memberitahumu jika suster yang membantumu sudah tiada. Aku sempat bertemu dengannya. Dia mengatakan dimana putraku berada. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah menemukan putraku," kata Gina.
"Benarkah?" kata Gina sambil melihat kesamping.
"Sudah kubilang jika aku pasti menemukan putraku," kata Gina lalu berdiri.
"Tunggu," kata Fina menatap pada kembaranya.
"Aku sekarang menyadari kesalahanku, maafkan aku, bantu aku keluar dari sini. Biarkan aku menebus dosaku," kata Fina dan sesaat Gina berdiri terpaku menatap kembaranya.
Gina terdiam dan hanya menatap tanpa ekspresi pada kembaranya.
"Aku mohon," tiba-tiba Fina berlutut dikakinya dan wajahnya berurai air mata.
"Kakak, bantu aku keluar dari sini," untuk pertama kalinya Fina memanggilnya kakak dan menangis didepanya.
Sebagai kakak, hatinya menjadi terenyuh melihat kesungguhan adiknya meminta maaf.
Gina menatap Fina sekali lagi dengan berusaha menembus isi hatinya. Namun tidak bisa membaca apapun selain pesan dari mimik wajahnya yang memelas.
"Kakak, aku minta maaf. Aku hanya iri padamu. Aku akan mengubah sikapku dan menjadi pelayanmu seumur hidupku, tapi keluarkan aku dari sini," kata Fina masih menangis.
__ADS_1
Gina hanya terpaku dan hatinya terguncang jika teringat mereka lahir dari rahim yang sama, dan punya ikatan darah yang sama. Sebesar apapun kesalahannya, dia adalah saudaranya, sebuah bisikan dari hati kecilnya terdengar ditelinganya.