
Sampai di pelabuhan Robert terbangun dan mengucek matanya. Dia melihat anak buahnya baru saja turun dari kapal. Robert lalu turun dan menyadari jika dia sudah pingsan. Dia kehilangan jejak Andy.
"Kurang ajar! Aku salah sudah meremehkan dirinya. Ternyata dia bisa bertarung, dan ini sangat memalukan! Bagaimana aku bisa pingsan seperti ini?"
Tidak lama kemudian seorang wanita cantik paruh baya mendekat kearahnya.
"Apa yang terjadi denganmu? Aku mendapat kabar kau mengejar Khan? Apakah kau berkelahi dengannya?" Ibunya mengulurkan tanganya dan Robert bangun lalu berjalan disamping ibunya.
Robert diam saja.
"Ikut ibu, ibu akan mengobati lukamu." Mereka lalu berjalan kesebuah ruangan dan Robert duduk diam disana. Sementara ibunya mengobatinya dengan penuh kasih sayang.
"Siapa yang membuatmu babak belur seperti ini?" Tanya ibunya sambil mengoleskan kapas yang sudah diberikan obat pada bibir Robert.
"Khan!" Kata Robert sambil tertunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
"Apa!?" Ibunya kaget dan tidak menduga anaknya bisa babak belur berkelahi dengan adiknya yang badanya tidak sebesar badan Robert.
"Kau kalah berkelahi dengannya? Ini tidak masuk akal!"
"Aku juga tidak menduga jika Khan menguasai ilmu bela diri. Gerakannya sangat cepat dan tidak terlihat. Tiba-tiba pukulan bertubi-tubi membuat aku tidak bisa melihat apapun." kata Robert pada ibunya.
"Itulah kelemahanmu, kau selalu meremehkan lawan. Mungkin saja sekarang Khan sudah tidak seperti dulu lagi. Dia mulai menyusun kekuatan untuk melawan kita."
"Aku rasa tidak. Dia tidak akan melawan kita. Dia hanya sedang melarikan seorang gadis."
"Lagi-lagi kau berkelahi demi seorang gadis! Kau bisa cari gadis manapun yang kau sukai, mereka tidak akan menolakmu. Untuk apa memperebutkan seorang gadis."
"Dia berbeda. Aku tidak bisa menggantinya dengan siapapun. Tamparannya masih terasa hingga kini. Aku tidak akan melupakannya."
"Sudahlah! Sekarang pulanglah. Diam dikamarmu! Jangan perlihatkan wajah burukmu ini pada siapapun. Memalukan jika sampai ada yang tahu kau kalah bertarung dengan Khan."
"Ya. Aku mengerti." Robert lalu menutup wajahnya dengan syal dan berjalan kemobilnya. Sementara ibunya masih disana berbicara dengan tangan kanannya.
"Dimana pulau itu? Apakah kau sudah menemukanya?"
Tangan kanannya nampak menggeleng.
"Carilah kesegala penjuru arah. Mustahil tidak bisa ditemukan."
Sementara Andy dan Diana hampir sampai kepulau mereka. Mereka sampai lebih cepat dari dugaan sebelumnya. Andy mengulurkan tanganya pada Diana. Diana turun lebih dulu begitu kapal merapat.
Lalu disusul Naina dan anaknya. Andy lalu menyeret kapal boat itu dibantu Naina dan Diana ke goa didekat pantai.
__ADS_1
Disana maka akan aman dan tidak dicuri oleh para perompak yang kebetulan lewat.
"Akhirnya kita sampai," kata Diana dan melihat ke sekelilingnya dengan senang.
"Oh ya, tadi apa yang terjadi?" tanya Diana pada Andy.
"Ada orang yang menggangguku dan aku menghajarnya. Aku tidak ingin pulau ini diketahui oleh orang asing yang mungkin akan mengancam hidup orang disini," kata Andy pada Diana.
Diana mengangguk dan menggandeng anak Naina yang lain. Sementara Naina menggendong bayinya dan Andy berjalan disampingnya.
"Apakah kau pusing?" tanya Andy pada Naina.
"Tidak," jawab Naina sambil tertunduk.
"Baguslah, maafkan aku karena kita harus menggunakan kapal boat untuk sampai kemari."
"Tidak papa, yang penting kita sampai dengan selamat." kata Naina.
"Andy...."
"Ya .." Andy menoleh pada Naina.
"Terimakasih, jika kau tidak datang, maka pria itu akan membuatku menderita," kenang Naina.
"Ya," Naina mengangguk dan mereka berjalan kerumah Tetua.
Naina berpamitan untuk ke kuburan suaminya. Andy dan Diana mengangguk dan berpelukan dengan Tetua yang cemas karena mereka tidak segera kembali.
"Aku sungguh senang kalian kembali dengan selamat," kata Tetua.
"Ayah, perjalanan kami sangat menegangkan, tapi Diana sangat senang," kata Diana dan duduk disamping ayahnya sambil memegang tangan ayahnya dengan manja.
Rossa yang mendengar kabar kedatangan mereka juga segera kerumah Tetua dan tidak sabar ingin bertemu dengan Andy.
Andy lalu mengajak Rossa duduk disamping rumah dan membiarkan Diana berduaan dengan ayahnya. Ayahnya pasti sangat mengkhawatirkan putrinya.
"Akhirnya kita bertemu lagi" kata Rossa menatap Andy dengan hangat.
"Ya, tentu saja aku kembali. Bagaimana kabarmu?" tanya Andy.
"Aku merasa sepi saat kau dan Diana tidak ada disini. Aku menyibukkan diri mempelajari ilmu kesehatan dari buku lama."
"Itu bagus. Ilmu yang kau pelajari akan bermanfaat untuk masyarakat disini."
__ADS_1
"Ya. Dimana Naina?" tanya Rossa.
"Dia sedang ke kuburan suaminya."
"Ohh, apakah dia baik-baik saja?" tanya Rossa.
"Ya, dia baik-baik saja. Untunglah aku datang tepat waktu, jika tidak maka semuanya sudah terlambat dan aku tidak bisa memenuhi janjiku pada mendiang suaminya," kata Andy.
"Kapan kalian akan menikah?" Rossa menatap kearah yang lain.
"Setelah masa Iddahnya selesai."
Tidak lama kemudian nampak Naina berjalan kearah mereka. Rossa bangun dan menyambutnya. Rossa memeluknya dan mereka berbicara sementara Andy masuk menemui Tetua.
Diana sudah tidak ada disana.
"Syukurlah kau berhasil membawa Naina kembali," kata Tetua.
"Ya, terlambat sedikit saja maka aku akan menyesal seumur hidupku." kata Andy.
"Restu nenek moyang bersamamu. Kau pasti selalu mendapatkan pertolongan." Tetua menatap Andy dan Andy tersenyum lega karena semua beban dipundaknya tidak terasa berat lagi.
Tiba-tiba Andy memegang punggungnya dan meringis kesakitan.
"Kau kenapa?" Tetua nampak khawatir.
"Tadi berkelahi sebelum sampai disini. Mungkin ada luka dalam."
"Lepaskan kalungmu, aku akan mengobatinya?"
"Tapi ini luka dalam, apa bisa?"
"Kita coba saja. Itu adalah batu ajaib, semoga saja bisa untuk luka luar maupun luka dalam"
Andy lalu melepaskan kalung itu dan memberikanya pada Tetua.
"Buka bajumu," Andy laku membukanya, " lukanya nampak lebam dan menghitam. Kenapa tidak kau obati sejak kemarin?" tanya Tetua.
Andi menggelengkan kepalanya. Dia hanya memikirkan bagaimana Naina dan Diana segera sampai dipulau dengan selamat dan tidak menghiraukan sakit dipunggungnya.
Setelah dioles beberapa kali, keajaiban pun terjadi, lebamnya kini menghilang dan kulitnya sudah pulih seperti sedia kala.
"Ini batu ajaib. Jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat." kata Tetua pada Andy. Andy mengangguk dan memakai kalung itu lagi.
__ADS_1