Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Diana tak sadarkan diri


__ADS_3

Andy mencari dan berteriak memanggil Diana. Andy berlari kesana kemari dan tidak ada tanda-tanda Diana menjawab panggilannya.


Andy lalu pergi kepinggir pantai dan melihat jika sayuran itu masih tergeletak disana. Andy lalu mengambilnya dan ikan juga masih ditempatnya.


Artinya Diana belum pulang. Andy terus berteriak-teriak dan berlari menyusuri hutan, tapi dia tetap tidak menemukan Diana.


Andy segera berlari dan meninggalkan kayu bakar serta sayuranya. Dia berlari kerumah Tetua dan meminta bantuan.


Andy membuka pintu dengan keras. Tetua kaget dan menatap Andy yang terengah-engah dengan bingung.


"Diana! Diana menghilang!" kata Andy sambil menatap tetua dengan nafas yang masih memburu.


"Diana menghilang? Maksudmu, aku tidak mengerti. Duduklah disini dan jelaskan apa yang terjadi," kata Tetua. Andy lalu duduk didepan tetua dan menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Jadi Diana tidak kembali bersamamu?"


"Iya. Mungkinkah dia tersesat?"


"Tidak mungkin. Dia mengenal hutan itu sejak masih kecil. Dia tidak pernah tersesat. Mungkinkah dia bertemu para perompak?"


"Perompak?" Sekarang giliran Andy yang terpana.


"Aku tidak melihat ada kapal perompak yang datang, tapi aku harus mencarinya," kata Andy dan Tetua lalu berdiri dan menabuh kentongan.


Mendengar kentongan ditabuh, semua warga langsung berkumpul. Bagi warga berkumpul, Tetua lalu mengatakan apa yang sudah terjadi pada putrinya.


Dan meminta bantuan warga kampung untuk mencari Diana. Hari sudah mau malam, tentu semakin sulit mencarinya seorang diri. Jika banyak yang membantu maka pasti akan mudah diketemukan, pikir tetua.


Mereka semua lalu pergi kehutan dan berpencar. Mereka berteriak dan terus memanggil Diana tanpa henti.


"Aku menemukan gelang. Ini gelang milik Diana. Mungkin terlepas dari tangannya,"


Seorang warga memberikan gelang itu pada Andy.


"Ya, ini milik Diana. Dia hilang disini. Ini jejak terakhirnya," Andy lalu menatap sekeliling tempat itu.


"Mungkinkah dia terbawa arus?" tanya Andy pada seorang warga didekatnya.


"Tidak mungkin, arus disini tidak terlalu deras,"


"Jika demikian maka Diana kemungkinan ditangkap oleh para perompak. Aku harus segera mencarinya," kata Andy lalu berjalan mendekati Tetua.


"Jika Diana ditangkap para perompak, saya harus segera mengejarnya, saya akan pergi mencarinya, tapi bagaimana dengan Naina?"


"Jangan khawatir kan Naina, kami akan membantumu menjaga Naina. Semua kebutuhannya akan kami cukupi selama kau tidak ada,"


"Baiklah jika begitu, saya akan pergi mencarinya,"


Warga yang lainya pun pulang dan tinggal Tetua dan Andy.


"Saya punya kapal didalam goa, menariknya sendirian sangat berat,"


"Aku akan membantumu, dimana kapal itu?"


Mereka lalu berjalan kearah goa. Tetua sangat terkejut melihat kapal canggih dan modern milik Andy.


"Ini milikmu? Apakah kau merampas milik orang lain? Ini terlihat sangat bagus."


"Tidak. Ayahku punya perusahaan kapal pesiar, ini miliki pribadi, dan bukan merampas seperti para perompak."


"Ternyata kau adalah anak orang kaya," kata Tetua lalu membantu Andy menyeret kapal itu ke tepi laut.


"Aku harap Diana kembali dengan selamat," kata Tetua.


"Ya," Andy lalu naik kapal itu dan pergi meninggalkan pulau untuk mencari Diana.


Sementara Robert tidak membawa Diana kembali kerumahnya. Robert pernah melihat Andy punya hubungan yang dekat dengan Diana. Mungkin saja Andy akan mencarinya dan menginap dirumahnya.


Robert lalu membawa Diana keruang pribadi miliknya didalam kapal pesiar itu. Dengan dalih mencari pulau tempat tinggal Diana maka Robert punya alasan untuk bersamanya terus didalam kapal pesiar miliknya.


"Diana, jangan menangis terus. Aku berjanji akan mencari pulau itu untukmu," kata Robert saat dia lihat Diana tertunduk dan menangis.


"Tapi bagaimana caranya? Aku tidak ingat arah menuju kesana." Diana terlihat putus asa. Hanya orang tersesat yang mungkin bisa datang kepulaunya seperti Andy.


"Aku akan mencarinya meskipun ke ujung dunia,"


"Kau akan membantuku?" Diana mulai berharap pada Robert.


"Tentu saja. Aku akan membantumu menemukan pulau itu dan kembali kepada keluargamu. Tapi sebelum itu kau harus sabar dan jangan bersedih."


Diana mengangguk senang dan berharap jika pulaunya benar-benar ditemukan.


Pada kenyataanya Robert membawa Diana berlayar semakin jauh dari pulau itu. Robert tidak mau bertemu dengan Andy dan menggagalkan rencananya. Dia membawa Diana semakin jauh dari rute pulau itu, yang Robert sendiri tidak tahu. Yang penting Robert membawa Diana berlawanan arah dengan datangnya para perompak yang menjualnya.


Robert keluar dan masuk lagi dengan sebuah gaun yang indah.


"Ini untukmu, pakailah,"


"Ini?" Diana melihat bajunya yang memang berbeda dari orang-orang didalam kapal pesiar itu.


Diana mengangguk lalu berganti baju. Baju itu sangat seksi dipakai olehnya. Saat Diana akan keluar, dan melihat wajahnya dikaca, dia berbalik dan berniat menggantinya.

__ADS_1


Tapi Robert dengan cepat menarik tangannya.


"Wow, wow, wow, amazing. Baju ini seperti sengaja dibuat hanya untukmu. Sangat pas dan cantik sekali." Kata Robert yang menikmati setiap bagian lekuk tubuh Diana dengan gaun seksi yang dia berikan.


"Ayo kita bersama yang lainya. Jangan mengurung diri disini, sambil mencari pulau itu, kita bisa bersenang-senang," kata Robert dan berjalan keluar sambil mengajak Diana.


Diana yang bingung, akhirnya mengikutinya. Dia berpikir jika Robert adalah orang yang baik. Robert berteman dengan Andy. Karena Andy baik, Diana berfikir jika Robert juga demikian.


Mereka ada di bar dan banyak wanita dan pria dengan baju seksi disana. Lampu yang berputar membuat Diana merasa pusing.


"Aku tidak terbiasa dengan cahaya ini, aku merasa sangat pusing," kata Diana yang dipulaunya jangankan lampu putar seperti ini. Penerangan juga sangat minim dan hanya mengandalkan minyak kelapa yang mereka buat.


"Duduklah jika kau pusing," kata Robert lalu mengajak Diana duduk.


Robert menuang minuman digelar kecil untuk dirinya dan Diana.


"Minumlah ini, ini akan membuat badanmu hangat dan pusingku berkurang," kata Robert.


"Benarkah?" Diana melihat wanita-wanita itu juga meminumnya. Diana berfikir mungkin minuman ini aman untuk mereka dan juga untuk Diana.


Akhirnya Diana meminumnya, kepalanya menjadi semakin pusing dan dia terkulai pingsan.


Robert sudah mencampurkan bubuk diminumkan itu. Dia menggunakan kecepatan tanganya dan menaruh bubuk itu disela-sela jarinya hingga tidak diketahui oleh Diana.


Diana jatuh didadanya. Bagian atas baju itu sedikit longgar hingga Robert bisa memandangnya sebanyak yang dia mau.


"Luar biasa," ungkap Robert lalu menatap Diana dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Lama dia terpaku pada ceruk leher Diana dan menatap bagian dadanya yang terbuka.


Dia lalu mengangkat Diana kekamar pribadinya. Dia membaringkannya dengan pelan dan lembut.


Dia menghidupkan lampu hingga setiap lekuk dan bagian tubuh indah Diana terlihat sangat jelas dengan cahaya yang terang.


Robert hanya duduk memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah itu Robert mematikan lampu dan menyalakan hanya yang redup saja.


Robert meraba beberapa bagian tubuh Diana, dan Diana diam saja. Robert lalu menindih tubuhnya dan akan menciumnya, tapi tiba-tiba dia menghentikan aksinya.


"Tidak! Jika aku melakukanya sekarang, maka esok dia akan terbangun dan menatapku dengan kemarahan."


Robert lalu berbaring disebelahnya.


"Aku ingin memilikinya seutuhnya, aku akan menjadikan dia Dewi dirumahku, aku tidak akan merusaknya. Tidak akan," kata Robert dengan keras berusaha menetralkan nafasnya yang sudah begitu cepat.


Robert lalu hanya menatapnya saja sambil berbaring disampingnya.


"Baguslah dia tidur, setidaknya dia tidak banyak bertanya atau menangis," Robert lalu tersenyum dan lama-kelamaan matanya terpejam juga.


Andy terus berlayar dengan kapal boat miliknya yang begitu cepat. Dari jauh dia melihat kapal para perompak.


Andy lalu mendekati kapal itu dan dia ingin tahu apakah Diana bersama mereka.


"Kenapa? Kau cari mati hah!?" Teriak seorang perompak yang sedang senang karena mendapatkan uang yang banyak dengan menjual Diana.


Andy hanya diam dan mengamati setiap sudut kapal itu.


"Aku mencari seorang gadis," kata Abdyasih dengan merapatkan kapalnya.


"Gadis? hahahaha? Kenapa kau mencarinya dikapal kami? Kami tidak membawa gadis manapun!" Teriak perompak itu.


Andy masih terus melihat setiap sudut dan gerak gerik mereka. Tiba-tiba Andy melihat sebuah tanda seperti sobekan baju yang dipakai Diana diujung kapal itu.


Andy segera merapatkan kapalnya di ujung dan menarik kain itu.


"Ya, ini milik Diana." Sambil berbicara begitu Andy mengikat kapalnya ke kapal mereka dan melompat kekapal mereka.


Andy memperlihatkan sobekan baju itu.


"Ini milik gadis yang aku cari. Dimana kalian menyembunyikannya?"


"Hahahaha, apakah dia gadismu? Sungguh malang nasibmu, Kami sudah menjualnya pada seorang yang kaya raya!" Aku kepala perompak itu tidak takut karena mereka banyak orang sedangkan Andy sendirian.


Mereka berfikir jika pria ini marah maka mereka bisa langsung menghajarnya beramai-ramai.


Andy mengepalkan tangannya.


"Pria mana?"


"Kami tidak mengenalnya dan bukan urusanmu! Pergilah dari kapal kami sebelum darah kami naik dan menendangmu ketengah laut!?"


"Kami sedang senang dan akan mengampunimu! Sekarang pergilah dan cari gadis yang lainnya!"


Mendengar ocehan perompak itu, Andy segera menendangnya dengan kekuatan penuh tenaga dalam.


Kepala perompak itu menoleh dan tidak bisa kembali lagi.


"Kurang ajar! Hajar dia!" Teriaknya.


Andy lalu bertarung melawan para perompak yang berjumlah 10 orang. Kali ini Andy bertarung dengan mengandalkan kecepatan dan kekuatan ditangan serta kakinya. Plak! plak! plak!


Sekali pukulan keras membuat para perompak itu tercebur kelaut.

__ADS_1


Mereka terus menyerang dan Andy tetap kuat meskipun sendirian. Saat kemarahan menguasai dirinya maka kekuatanya menjadi bertambah.


Sekarang Andy berputar dan meninju mereka, duag! duag! duag!"


Tinjunya membuat kepala lawanya menoleh dan tidak bisa balik lagi. Lalu Andy menghajar kaki mereka. Mereka semua terkulai dilantai kapal.


"Katakan! Siapa yang membawa gadis itu."


"Kami sungguh tidak mengenalnya. Kami hanya bertemu sekali dan dia membelinya,"


"Kemana dia membawa gadis itu?"


"Kesana!" kata perompak yang sudah tak berdaya.


Andy lalu melompat kekapal boat miliknya dan pergi meninggalkan para perompak itu. Baginya saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan Diana.


Dan sampai ditempat yang ditunjuk oleh para perompak itu, ternyata bukan hanya satu kapal, tapi ada lebih dari 25 kapal besar yang berlaku lalang.


Dan diantara kapal itu tidak ada kapal milik Robert. Ribery sudah membawa Diana ketempat yang jauh dengan kapal pesiar miliknya.


Andy lalu turun dan naik dari satu kapal kekapal yang lainya untuk mencari Diana. Dengan terengah-engah dia sungguh sedih karena semua kapal sudah dia periksa dan tidak ada Diana disana.


Andy lalu pulang kerumahnya karena sudah tanggung jika harus kembali kepulau. Apalagi untuk apa dia kembali jika Diana belum ditemukan.


Apa yang harus dia katakan pada Tetua? Dia adalah suaminya, dan bagaimana pun caranya dia harus menemukan Diana baru bisa kembali kepulau itu.


Andy bertemu ayahnya diruang tamu.


"Andy?"


"Ayah," Andy lalu duduk disamping ayahnya.


"Ayah sedang melihat foto-foto kapal yang sudah berhasil dibuat oleh Bondan, kau mau melihatnya?" tanya Ayahnya pada Andy.


Andy lalu mengambil beberapa foto dan melihatnya.


"Bagus!" kata Andy dan hanya mengucapkan itu saja. Dia sedang memikirkan Diana. Dimana dia sekarang? Kemana dia harus mencarinya.


Andy lalu bangkit, dan ayahnya hanya melihatnya dengan tatapan aneh.


"Kau mau kemana?"


"Andy sedang mencari seseorang,"


Andy lalu berjalan kekamarnya dan mengambil handphone yang dia simpan dilemari besi miliknya.


Dia lalu menghubungi Lewis.


"Kau dimana?" Tanya Andy.


"Aku sedang bersama Sony,"


"Aku akan kesana," Kata Andy lalu pergi ketempat dimana Sony sering bertemu dengan Lewis.


Andy datang dan mereka menyambutnya.


"Kau butuh sesuatu? Jika kau mencari kami pasti ada yang sedang kau risaukan," kata Lewis.


"Ya, kau ingat gadis yang bersamaku waktu itu? Aku kehilangan dia. Aku harus mencarinya." kata Andy.


"Diana?"


"Ya, betul. Dia diculik para perompak. Dan saat aku menghajar para perompak itu, ternyata mereka sudah menjualnya. Aku sudah mencari 25 kapal yang kebetulan singgah disana, tapi aku tidak menemukanya."


"Kau ingin kami mencarinya?" tanya Lewis.


Andy mengangguk.


"Akan kerahkan anak buahku untuk mencarinya." Kata Lewis dan Sony.


"Sambil menunggu hasilnya, sebaiknya kita minum dulu," kata Lewis.


"Tidak. Aku tidak minum,"


"Untuk yang satu ini kau tidak mau mencobanya. Ini sungguh nikmat. Sony yang membawanya, hadiah dari raja tetangga,"


"Tidak, kalian saja kawan,"


"Kau masih sama," Keluh Lewis dan meminum bagiannya. Sony juga meminumnya.


Andy hanya duduk mengamati setiap orang yang ada disana.


"Aku akan pulang, jika ada kabar dari anak buahmu, segera kabari aku,"


"Ya, tentu saja."


"Oh ya, apakah kau jadi berbisnis dengan Norman?" tanya Lewis. "Dia menghilang, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Entah kemana dia bersembunyi dan bersembunyi dari siapa?"


"Biarkan saja, urusanku denganya sudah selesai," kata Andy lalu pergi dari tempat itu.


"Dia banyak berubah," kata Sony saat menatap Andy pergi.

__ADS_1


"Ya," jawab Lewis sambil meminum satu gelas lagi.


__ADS_2