Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-6


__ADS_3

Gadis tinggi cantik dengan rambut ikal ke emasan sedang berdiri diatas kapalnya. Ternyata dia adalah anak salah seorang nelayan dan sedang tersesat saat mencari keberadaan ayahnya.


Ayahnya berlayar untuk mencari ikan, sudah satu hari tidak pulang, membuatnya khawatir lalu dia memutuskan untuk mencarinya, namun dia malah tersesat.


Karena melihat ada api unggun dan banyak pemuda disekitarnya, maka Delilah mengarahkan kapalnya kearah mereka.


Kapal Delilah mendekati mereka dan para pemuda itu menoleh kearahnya secara serempak, termasuk Eduardo.


Eduardo tersenyum dan menepok paha Julio.


"Kita akan keluar dengan kapal wanita itu?"


"Tega sekali! Kau bahkan akan merompak kapal gadis yang sendirian ditengah malam?" Julio masih menatap Delilah yang semakin mendekat.


"Come on! Ayo kita dekati gadis itu!" Teriak Roger.


Mereka bertiga, Roger, Julio, dan Eduardo berjalan mendekati gadis itu.


Delilah dari jauh tersenyum pada mereka.


Tanpa rasa takut dan merasa terancam, Delilah dengan santai turun dari kapal.


"Hai! Aku tersesat! Aku sedang mencari ayahku. Apakah kalian melihat ayahku?" tanya Delilah dengan polosnya.


"Hahahaha, apa? Ayahmu?" Mereka bertiga tidak tahu yang mana ayahnya. Mereka hanya saling berpandangan.


Mereka bertiga mengangkat bahunya.


"Ehm, bau masakan. Aku sangat lapar, bisakah kalian membagi makanan kalian denganku?" tanya Delilah pada mereka bertiga.


"Aku sangat lapar,"


Mereka bertiga menaikkan dahinya. Eduardo tersenyum lalu menggandeng tangan wanita itu dan menariknya kedekat api unggun.


"Duduklah! Ini, makanlah," kata Eduardo sambil memberikan sisa ikan yang masih utuh pada Delilah.


"Terimakasih," Sementara Delilah makan, semua pria itu menatapnya sambil sesekali mengedipkan matanya.


Mereka melihat sosok Delilah dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Cantik,


Mereka bergumam lirih.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Delilah menjadi tidak nyaman saat semua pria menatapnya lebih dari sepuluh detik.


"Ohh, haha....." Mereka lalu memalingkan mukanya namun tetap mencuri pandang ke arahnya.


Julio memberikan minuman pada Delilah.


"Minumlah, kau pasti haus..." Julio merasa gadis ini sangat cocok jika menjadi kekasihnya nanti.


"Ini, aku masih punya ikan, makanlah," kata Roger memberikan ikannya karena dia juga ingin mendapatkan kekasih secantik wanita di depannya ini.


Roger, merasa mereka sangat cocok. Rambut mereka sama-sama berwarna ke emasan. Maka dia merasa jika Delilah adalah jodohnya yang dikirim Tuhan.


Eduardo melihat jika Julio dan Roger tidak berhenti menatap Delilah.

__ADS_1


Maka Eduardo menarik Delilah ke kapalnya kembali.


"Pergilah dari sini. Kembalilah ke rumahmu. Kau tidak aman disini. Kau lihat tidak ada satu wanita pun disini? Mereka semua para pria. Menatapmu seperti itu, apakah kau tidak takut?"


"Apa maksudmu? Kenapa menyuruhku pulang? Aku harus mencari ayahku. Aku sangat khawatir denganya."


"CK, kalau begitu, jangan dekat-dekat dengan mereka, tetap disini, didalam kapalmu dan beristirahat lah. Besok pagi, kau lanjutkan pencarian mu." Eduardo terlihat mengkhawatirkan gadis yang tersesat itu.


"Aku Delilah, siapa namamu?"


"Aku Eduardo," Mereka lalu duduk diatas kapal berdua.


"Apakah kau juga tersesat disini? Tapi aku tidak melihat kapalmu? Bagaimana kau sampai disini, dan dimana kapalmu? Apakah para perompak mengambil kapal kalian?"


Delilah memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Ehm, kami kehilangan kapal kami. Kami sebenarnya adalah para perompak,"


"Haha, apa? Kau pasti sedang bercanda? Mana ada perompak tapi tidak punya kapal."


"Itulah masalahnya. Kami butuh kapal untuk kembali," kata Eduardo.


"Apakah kalian akan merompak kapal milikku?" Delilah menatap tajam tepat dibola mata Eduardo.


Eduardo menatapnya balik. Mereka saling bertatapan. Eduardo lalu memalingkan mukanya.


"Tidak, karena kau seorang gadis, makanya, aku katakan sekali lagi, disini tidak aman, kau berlayar sendirian, maka bagaimana jika kau bertemu para perompak dan mereka menyakitimu!?"


"Ohh, itu tidak mungkin, karena disini jarang ada perompak. Aku tidak mendengar perompak sampai ke daerah ini. Disini tidak ada emas, uang, apalagi harta Karun, untuk apa mereka datang?"


"Kami disini hidup dengan berlayar. Dan kami tidak menyimpan harta benda, orang di daerah perkotaan memiliknya, namun di pedesaan kami hidup dengan sangat sederhana,"


Eduardo menatap dua temanya yang datang. Mereka adalah Julio dan Roger.


Eduardo lalu duduk lebih dekat dengan Delilah, agar dua temanya tidak dekat-dekat dan mengganggu Delilah.


Delilah menatap kedua temannya itu dan mengulum senyum.


Julio menatap Delilah dan membayangkan dirinya bersanding dengan Delilah.


Roger juga menatap Delilah dan membayangkan dirinya berjalan dengan stelan kemeja putih menggandeng Delilah.


"Bagaimana kalau besok kalian membantuku mencari ayahku, setelah aku berhasil menemukan ayahku, sebagai imbalannya aku akan memberikan kapal ini pada kalian." kata Delilah.


Mereka bertiga saling berpandangan. Mereka lalu mengangguk bersamaan.


"Okey, kami setuju denganmu,"


"Besok kami akan menemanimu mencari ayahmu, setelah itu, kau tepati janjimu..." kata Eduardo.


"Tentu...."


Delilah lalu bersandar pada tiang dikapalnya. Dan angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk.


Akhirnya dia benar-benar tertidur sementara Eduardo, Julio dan Roger masih ada disana.


"Kalian pergilah, aku akan menjaga gadis ini," kata Eduardo.

__ADS_1


"Kau saja, biarkan aku yang menjaganya," jawab Julio.


"Aku lihat kalian berdua sangat lelah, bagaimana kalau aku saja yang menjaganya," timpal Roger.


Mereka semua terdiam.


Suasana menjadi hening.


"Jika begitu, kira bertiga tidak akan tidur semalaman. Kita akan menjaganya bersama-sama," kata Julio.


Mereka bertiga lalu bercerita dan lama kelamaan tidak tahan menahan kantuk ya.


Mereka secara kompak tertidur tanpa bisa menahan kantuknya lagi.


Pagi harinya, mereka bangun secara bersamaan dan kaget saat melihat Delilah tidak ada diatas kapal itu.


Mereka saling berpandangan dan melompat keatas kapal.


Ternyata Delilah sedang berenang tidak jauh dari kapalnya.


Dia mandi sekalian menikmati udara pagi yang segar.


Bajunya basah dan membentuk lekuk indah. Matahari menerpa tubuhnya membuat mereka bertiga terpana.


"Hai! Kemarilah! Ayo berenang! Setelah itu baru kita pergi cari ayahku!" Teriak Delilah.


Mereka bertiga saling berpandangan lalu melompat bersamaan.


Sementara Roky dan anak buahnya yang lain pergi ke sekitarnya untuk mencari buah dan makanan.


Mereka menunggu Eduardo menemukan ayah gadis itu. Setelah itu akan menggunakan kapal gadis itu untuk berlayar.


Mereka berenang sambil bermain air dengan senang. Eduardo menarik Delilah dan berenang bersamaan.


"Aku akan naik sekarang, aku lelah," kata Delilah lalu berjemur diatas kapal, karena matahari mulai sepenggalah dan hangatnya membuat bajunya yang basah mulai mengering


Eduardo dan kedua temanya juga naik dan melakukan seperti yang dilakukan Delilah. Mereka berjemur sambil mengeringkan bajunya.


Roky datang kearah mereka berempat.


"Kami akan menunggu disini. Cepatlah kembali, kami khawatir jika konflik itu akan sampai ketempat ini sementara kita tidak bisa melarikan diri," kata Roky.


"Baiklah, kami akan segera mencari ayahnya,"


Jawab Eduardo.


"Kami juga khawatir jika konflik antara dua kubu sampai ke desa kami," kata Delilah.


"Sudah berapa lama hal itu terjadi?"


"Baru satu bulan ini. Para penduduknya pergi ke kota, dan sebagian mati terbunuh. Hanya beberapa yang bisa menyelamatkan diri." terang Delilah.


"Apa yang membuat terjadi konflik?"


"Entahlah, kami juga tidak tahu," kata Delilah.


Setelah baju mereka kering, maka mereka naik keatas kapal dan berlayar ke tengah lautan.

__ADS_1


__ADS_2