Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Berburu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Azam sudah bangun dan mengetuk pintu kamar ibunya, matahari masih lelap dan belum nampak diufuk timur.


"Ibu, ayah!" kata Azam setelah diam-diam keluar dari kamarnya karena kakaknya pasti akan menahanya.


"Sepertinya suara Azam," kata Andy yang terbangun lebih dulu dan tanganya tertindih kepala Naina. Naina membuka matanya dan duduk saat sadar jika dia tidur dengan bantalan lengan suaminya.


"Azam sudah bangun? Sepagi ini?" tanya Naina sambil merapikan bajunya. Begitu juga Andy, menarik selimut dan merapikan bajunya.


"Kau bisa membuka pintunya," kata Andy dan Naina beranjak untuk membukakan pintu untuk Azam.


Kreeekkkk!


"Ibu, lama sekali?" tanya Azam lalu mengedarkan pandanganya ke dalam kamar.


Ibunya hanya mengangkat kedua alisnya dan mengikuti arah pandangan Azam.


"Apakah ayah sudah bangun?" tanya Azam.


"Belum, apakah kau lapar, bangun sepagi ini? Jika begitu ibu akan memasak dulu," kata Naina.


"Tidak, aku ingin berburu. Jika aku tidak bangun pagi, nanti ayah keburu pergi, ayah bilang mau lihat adik Eduardo, dirumah Tante Rossa," kata Azam.


"Azaaammm!" terdengar teriakan dari kamar Alvian.


Azam dan Naina saling berpandangan. Naina menatap Azam lama saat Alvian berteriak, pasti ada sesuatu yang dilakukan Azam.


Naina segera melihat apa yang terjadi. Ternyata dikamar sangat berantakan dan lantainya penuh air.


Alvian tergeletak dilantai sambil memegang bokongnya.


"Aduh!" teriak Alvian saat Naina membantunya bangun.


"Apa yang terjadi?"


"Tanyakan padanya ibu? Pantatku sakit sekali, dia menumpahkan minuman dan banyak kelereng dilantai," kata Alvian dengan kesal.


Menatap Azam dengan memicingkan matanya.


"Ma'af" kata Azam tertunduk dalam.


"Maaf! Cepat bereskan! Anak ini, berapa kali sudah kubilang, jangan membuat lantai berantakan dengan kelereng! Kenapa ada air dan kau tidak mengelapnya!" Teriak Azam sambil memegang bokong serta pinggangnya.

__ADS_1


Naina hanya menggelengkan kepalanya sat Andy datang kekamar anak-anak nya.


"Ada apa?"


"Ayah," Azam memeluk ayahnya dan menjulurkan lidahnya pada Alvian.


"Biasa, anak-anak, mereka ribut pagi-pagi,"


"Ibu...kami tidak ribut. Ini kesalahan Azam. Kenapa membelanya," kata Alvian karena ibunya selalu memanjakan Azam.


"Oke, sekarang, siapa yang main tadi malam?" kata Andy menatap Azam.


"Aku," jawab Azam.


"Kalau begitu, ayo bereskan, ayah akan membantumu, lain kali langsung dibereskan setelah bermain, kau juga bisa jatuh jika tergelincir makananmu sendiri,"


Sambil tersungut Azam lalu berjongkok dan memungut mainanya dan dia masukkan kedalam keranjang.


Naina memapah Alvian keruang tamu.


"Duduklah, ibu akan mengambilkan minuman untukmu," kata Naina lalu berjalan kedapur.


Tidak lama dia keluar dan memberikan minuman itu pada Alvian. Terlihat Azam dan Andy keluar dari kamar Alvian.


"Iya ayah," kata Azam menurut.


Azam lalu berjalan kedepan kakaknya dan mengulurkan tanganya.


"Kak, maaf, lain kali Azam akan membereskan mainanya,"


Alvian mendongakkan kepalanya dan menatap adiknya.


"Ya, kakak maafkan. Tapi dengan syarat,"


"Kok pakai syarat, kakak tidak ikhlas ya,"


"Mau tidak dimaafkan?" kata Alvian.


"Ya sudah, apa syaratnya?" tanya Azam sedikit tersungut.


"Kemarilah," ujar Alvian membisikan sesuatu ditelinga Azam.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu," jawab Azam lalu duduk dibelakang Alvian. Dia mulai memegang pinggangnya untuk memijatnya. Alvian tertawa dalam hati dan menganggukkan kepalanya.


"Lebih keras dek, ngga terasa,"


"Ini sudah keras kak, dipukul batu terasa," kata Azam.


Alvian menoleh, dan Azam tertunduk takut.


"Ya, aku akan serius....." ujar Azam.


Sementara, Andy langsung kedapur setelah mengantar Azam menemui kakaknya.


"Aku akan membantumu, apa yang harus aku lakukan?" kata Andy.


"Duduk saja, kau tinggal memasukkan kayunya kedalam saat bagian dalam sudah terbakar," kata Naina sambil mengiris sayuran.


"Ehm, baiklah, itu saja? Tidak ada yang lain?" tanya Andy.


"Aku sebenarnya kehabisan air, bisakah kau menimba air untukku?"


"Tentu saja," jawab Andi dan bergegas kebelakang rumah. Dia berdiri dibibir sumur timba. Dan dengan cepat mengambil air dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Dalam waktu sebentar tempat penampungan air sudah penuh dan saat Naina keluar dengan ember, maka dia menjadi terkejut.


"Sudah penuh?"


"Ya, sudah selesai, ada lagi?" tanya Andy mencuci tangannya. Naina menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada."


Andy lalu duduk didekat perapian sampai Naina menyelesaikan masakanya. Udara dipulau sangat dingin saat pagi hari, tapi memasak dengan kayu bakar, membuat badan menjadi hangat, ruangan didapur juga terasa hangat.


Merekapun sarapan bersama. Setelah sarapan, sesuai janjinya, Andy akan mengajak Azam dan Alvian berburu kelinci dihutan.


"Ayah, berangkat sekarang?" tanya Azam.


"Ayo, kita berangkat," kata Andy.


"Aku juga ikut," ujar Alvian.


"Sudah sembuh?"


"He em, sudah yah,"

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati saat ada ditengah hutan jika ini pertama kali bagi kalian, maka jangan jauh dari ayah, kalian bisa tersesat. Hutan disana sangat luas, banyak binatang buasnya," kata Andy.


"Iya yah," mereka kompak menjawab dan bersemangat untuk berburu.


__ADS_2