Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Kesepakatan


__ADS_3

Keesokan harinya Lewis sudah datang dengan koper berisi semua berkas dan data dari setiap kapal milik Andy. Berkas tanah di pelabuhan juga sudah dia bawa.


Matanya masih ngantuk karena semalaman dia tidak tidur akibat banyak berkas yang harus dia persiapkan, semuanya harus tersedia pagi ini.


"Ini berkasnya, semua sudah ada didalam tas," kata Lewis didalam mobil Andy. Andy dan Diana sudah menunggunya didalam mobil sejak tadi.


"Kau yakin tidak ada yang tertinggal? Aku akan segera pergi dari sini begitu urusan ini selesai. Kau jaga ayah baik-baik. Rekrut orang-orang baru jika memungkinkan. Kumpulkan sebanyak mungkin anak buah untuk selalu bersamamu." kata Andy pada Lewis.


Dia akan meninggalkan ayahnya, dia khawatir dengan keselamatan ayahnya, dan meminta Lewis untuk memperbanyak anak buah yang setia padanya.


"Baiklah,"


"Kau terlihat tidak tidur semalam. Istirahatlah, suruh orang kepercayaanmu untuk menghandle pekerjaanmu."


"Ya," Lewis keluar dan Andy segera menyimpan semua berkas itu.


Dia dan Diana sudah siap pergi kerumah Naina untuk membawanya segera pergi dari rumahnya.


Andy lalu menelpon Sony dan memintanya untuk menyiapkan perjalananya dengan kapal pesiar.


Diana tersenyum mendengar perkataan Andy, artinya dia akan segera berjalan-jalan mengarungi samudra dengan kapal yang besar dan mewah. Seumur hidupnya belum pernah dia membayangkan akan melakukan perjalanan dengan fasilitas yang begitu canggih dan banyak pelayan yang melayaninya.


"Ada apa? Kau senyum-senyum sendiri?" tanya Andy sambil menyetir.


"Aku tidak sabar untuk mengarungi laut dan kembali ke pulau,"


"Kau senang?" Terlihat Naina mengangguk.


"Sudah kubilang jika aku akan mengajakmu naik kapal pesiar. Dan aku menepati janjiku," kata Andy menoleh pada Diana dan terlihat wajah Diana merona merah.


"Ya, aku pikir kau hanya bercanda waktu itu."

__ADS_1


"Seperti inilah kehidupan yang aku jalani disini. Dan satu yang mengganggu pikiranku. Saudaraku,"


"Siapa?"


"Sudahlah, lupakan saja," Yang dimaksud Andy adalah Robert. Tapi Dia tidak ingin berbicara masalah keluarganya pada Diana.


Diana juga tidak tahu jika pria yang dua kali dia temui adalah kakak tiri Andy. Badanya lebih kekar dan atletis dari Andy. Wajah mereka juga tidak mirip sama sekali.


"Kita sudah hampir sampai," kata Andy dan menghentikan mobilnya diparkiran dekat pintu masuk.


Beberapa anak buah Norman sudah berbaris untuk menyambutnya. Mereka membungkuk dan memberi hormat padanya setelaherrka tahu jika Andy atau Khan adalah orang penting dan kaya raya.


Andy berjalan menggandeng Diana. Diana tersenyum pada beberapa pelayan yang tersenyum ramah padanya.


"Silahkan duduk, mari, mari, kita akan makan-makan dulu sebelum berbicara masalah bisnis." kata Norman dan menyambut Khan dengan pesta kecil. Banyak hidangan dimeja dan dia ingin makan bersamanya sebelum tanda tangan kontrak kerja sama.


Andy nampak mengangguk dan menyetujui keinginan tuan rumah. Padahal sebenarnya dia ingin masalahnya cepat selesai dan dia segera pergi membawa Naina.


"Silahkan dinikmati, ini adalah jamuan karena kerja sama kita yang baru. Sudah selayaknya kita merayakanya," kata Norman dengan ramah.


"Terimakasih," Andy dan Diana beserta Norman lalu makan bersama dan menikmati semua jamuan yang sudah dipersiapkan oleh tuan rumah.


Tidak lama kemudian Norman memanggil Naina yang sudah berdandan dengan cantik bersama dua pelayan yang menggendong anaknya.


"Naina, duduklah disini nak, Tuan Andy akan melamarmu." kata Norman yang akan menyerahkan Naina pada Andy setelah kontrak kerja sama itu disetujui.


Naina lalu duduk disamping ayahnya. Naina hanya diam saja dan tidak hanya berbicara hanya menganggukkan kepalanya.


Andy lalu membuka semua berkas dan menandatanganinya dan dia serahkan pada Norman untuk ditandatangi juga setelah mereka selesai makan.


"Sudah semua," kata Andy dan Norman menerimanya lalu menandatanganinya. Mereka memegang masing-masing satu berkas yang sudah ada tanda tangan keduanya selaku pihak yang bekerja sama.

__ADS_1


"Jika sudah selesai maka saya akan membawa Naina sekarang juga." Kata Andy menatap Naina. Yang ditatap hanya tertunduk menatap ke bawah.


"Baiklah, silahkan, kau bisa membawanya," kata Norman yang terlihat begitu senang.


"Tapi, tunggu dulu, ada hal yang mengganggu pikiranku. Aku sebenarnya sudah ada janji dengan seseorang. Dia juga ingin menikah dengan Naina. Dia mungkin akan marah jika tahu kau membawa Naina pergi. Untuk itu, bisakah kau kirim anak buahmu untuk berjaga dirumahku?" Tanya Norman yang sedikit merasa was-was dengan kemarahan Robert.


"Baiklah, tidak masalah," kata Andy dan menelpon Lewis untuk mengirim anak buahnya kerumah Norman dan menjaga rumahnya.


Anak buah Norman memang banyak, tapi dia juga ingin menambah kekuatanya untuk melawan Robert jika mereka harus bertarung nanti.


"Naina, mari kita pergi," Kata Andy dan diikuti anggukan dari Naina.


Mereka lalu masuk kemobil dan akan melanjutkan perjalanan kepelabuhan. Sementara anak buah Lewis sudah datang dengan cepat kerumah Norman untuk berjaga sementara waktu. Anak buahnya ada dimana-mana, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk datang ke rumah Norman.


Sementara Norman sedang duduk bersantai sambil membuka lagi berkas yang ada padanya. Tidak lama kemudian anak buah Norman datang dan mengatakan jika ada tamu yang datang.


"Siapa?"


"Tuan Robert!"


"Dia datang lebih cepat dari dugaanku,"


"Katakan aku sedang tidur!" kata Norman.


"Tapi bos,"


"Kau!"


"Baik bos!"


Anak buahnya lalu keluar dan mengatakan jika bosnya sedang tidur. Robert nampak kecewa tapi dia tidak kehabisan akal.

__ADS_1


Dia tetap masuk kedalam dan mendorong anak buahnya yang dekat dengan pintu dan segera membuka pintunya.


Brakk!!!


__ADS_2